Tags

,


Pertama aku datang, hanya ada lima orang yang tinggal di kongsi Tanjung Tokong. Ode,  Tiar, Anshar yang rajin shalat, Mimi sang kepala kerja, dan Bang Mansur, lelaki setengah baya yang selalu haus akan belaian perempuan itu. Mereka berasal dari  daerah yang sama, Muna. Muna merupakan pulau kecil di utara Pulau Buton, propinsi Sulawesi Tenggara. Mereka direkrut oleh Mimi untuk bekerja sebagai tukang kayu di proyek ini. Sebutan orang kayu melekat pada mereka, juga orang Buton. Entah mengapa semua orang asal Sulawesi di Malaysia disebut orang Buton, apalagi jika kulitnya hitam dan rambutnya keriting. Dan orang-orang ini tak pernah protes walau bukan berasal dari Buton.

orang buton

kumpulan Orang Buton di kongsi pekerja konstruksi Penang, Malaysia

Saat itu nyaris tak ada pekerjaan berarti. Dua bulan lebih mereka mirip menganggur. Hanya ada pekerjaan kecil seperti mengatur besi-besi bekas, membersihkan kongsi, menjaga seng-seng bekas, menyiapkan pembangunan kantin, atau membuat pagar kawasan. Proyek belum dimulai.  Masih tes pailing, kata mereka. Tiga tes pailing di tiga lokasi gagal, sehingga pelaksanaan proyek pun tertunda-tunda. Ketika tes gagal, toke besar akan memerintahkan  pengerukan tanah kembali. Truk pengeruk akan membuang batu-batu besar, lalu menimbunnya dengan tanah. Lama juga tes ini dilakukan. Membuat lima penghuni pertama kongsi ini lapar lahir batin.

Kuingat lebih dua bulan mereka harus bekerja bergantian, karena pekerjaan memang tak banyak. Hanya kepala kerja saja yang bebas bekerja setiap hari. Sering dalam seminggu seorang pekerja hanya bekerja selama tiga hari. Di hari Minggu semua pekerja libur.

“Susah kalau begini, tak ada duit masuk,” kata Tiar, kawan Ode yang berperawakan tegap.

“Tak ada duit, makan jalan terus,” sambung Bang Mansur sambil tertawa sinis.

“Yah..gimana lagi. Di sana pun tak ada kerja.”

“Kalau begini lama-lama, bisa kawin lagi bini saya di kampung,” giliran Anshar angkat  bicara.

“Tapi kalU proyek sudah berjalan, bakal banyak duit yang masuk,” kepala kerja nampak optimis, menghibur anak buahnya.

“Kalau aku ikut nasehat mamak untuk balik bulan Februari, pasti tak menganggur begini,” keluh Ode kesal. Dia memang baru balik dari Indon, setelah delapan tahun tinggal di Malaysia.

Di masa-masa awal yang berat ini, aku sering datang membawa rokok dan keperluan mereka sehari-hari. Gula, teh, kopi, bahkan juga membelikan teko listrik saat belum ada kompor dan tabung gas. Kulihat sumringah wajah mereka saat melihat rokok di tanganku. Yah, laki-laki boleh tahan tak menyentuh perempuan, asal jangan tak merokok. Buat mereka moto ini berlaku.

Semakin hari penghuni kongsi semakin tertekan. Kalau tak ada kerja, berarti tak ada duit yang masuk. Tapi perut tak mau kompromi. Urusan makan terus jalan, tak bisa ditunda, minimal dua kali sehali perut harus diisi. Mereka pun berhutang belanja kepada Tambi, toke Cina yang biasa menyuplai belanja orang-orang di kongsi. Tapi Tambi menjual barangnya dengan harga selangit, tiga kali lipat harga di pasar. Mungkin dia menganggap mereka berhutang, jadi sah-sah saja baginya menaikkan harga barang semaunya. Lagipula, kongsi mereka jauh dari pasar. Dan mereka adalah orang kosong, tak punya dokumen, sehingga gerak mereka serba terbatas. Mau hutang kemana lagi. Akhirnya cuma bisa pasrah.

Tiga hari sekali Tambi datang dengan sepeda motornya membawa beras, minyak goreng, ikan segar, cabai, asam, bawang merah, dan tomat. Satu kilogram ikan segar dijualnya seharga lima belas, kadang malah dua puluh ringgit. Dia tahu orang-orang yang gila ikan ini akan memborong semua ikannya, berapapun harganya. Buat orang Buton, pantang makan nasi tanpa ikan. Mana boleh tahan. Lebih baik makan tanpa daging atau ayam daripada harus berpisah dengan ikan. Belum dua bulan, hutang belanja sudah membengkak lebih dua ribu ringgit. Tambi mulai protes. Tak mau membawa bahan makanan jika hutang tak dibayar. Padahal gaji tak menentu. Keadaan ini membuat mereka yang tertekan justru makin kreatif.

Kepala kerja, satu-satunya orang yang tak merasakan krisis ini dalam waktu lama, mencoba menaikkan semangat semua orang. Ketika tak ada kerja, dia pergi ke hutan kecil di belakang kongsi. Tak berapa lama dia muncul dengan membawa kangkung seember penuh. Hari itu dia hendak memasak sayur kangkung.

“Ambil dimana Bang ?” tanyaku keheranan.

“Di sana, dekat hutan,” tunjuknya ke arah belakang proyek.

Ramban kangkung ini dilakukannya setiap hari dengan gembira. Begitu juga saat memasak sayur kangkung. Sejak hari itu mereka selalu makan nasi dan sayur kangkung. Tugas mencari kangkung kemudian diambil alih oleh Anshar dan Tiar, bergiliran. Begitu juga tugas memasak nasi. Ode orang yang paling malas membantu. Lebih baik tidur, katanya. Untungnya kawan-kawannya tidak protes. Ode hanya kena gililiran memasak nasi.

Kangkung segera menjadi makanan pokok penghuni kongsi. Bahkan kemudian menjadi rebutan ketika berdatangan pekerja baru saat proyek dimulai. Ketika kebun kangkung di pinggir hutan habis, kangkung di tepi jalan ganti menjadi sasaran. Bahkan, ada yang sengaja menanam kangkung di dalam akuarium. Kangkung itu ditanam di air, bersama dengan ikan tarung.

“Ikan ini akan menetralisir racun di kangkung ini,” jelas si Mas, orang Jawa yang jadi kepala besi itu menerangkan kepadaku dengan gayanya yang medok, saat kulewat kontenanya.

Lho kok bisa?”

“Iya..wong kangkungnya saya ambil dari comberan air sisa mandi,” jawabnya sambil nyengir.

‘Wow..ada-ada saja’, pikirku.

*Kisah di atas merupakan nukilan buku ‘TKI di Malaysia, Indonesia yang Bukan Indonesia’. Saya muat di sini karena terpikat pada bahasan Orang Buton yang banyak ditulis saudara Yusran Darmawan dalam blognya, http://www.timur-angin.com

Lanjutan : Kisah Orang Buton di Malaysia (2)