Tags

,

Kisah ini tak masuk dalam bukuku ‘TKI di Malaysia, Indonesia yang Bukan Indonesia’ tapi memiliki ikatan khusus denganku. Lelaki yang kukenal sekilas ini membuatku mengunjungi Balik Pulau suatu hari, untuk membuktikan kebenaran ceritanya tentang betapa banyaknya pekerja kontrak di bidang konstruksi (yang umumnya ilegal) asal Indonesia di sana. Semoga bermanfaat.

Namaku Roni. Aku baru 9 bulan di Malaysia. Kerja di Balik Pulau, membuat jalan dan jembatan. Aku jarang tidur, paling sehari cuma tidur 3 jam. Lalu terbangun, masak nasi,dan siap bekerja. Di sini sunyi sekali. Kadang-kadang saja bas lewat. Mendengar suara perempuan rasanya seperti kemewahan, hiburan. Jadi biarkan aku meneleponmu sekali-sekali saat rehat kerja, ya.

Begitu awal perkenalanku dengan Roni, lewat SMS dan telepon nyasar. Waktu itu aku pun terbilang baru tinggal di Malaysia, baru beberapa bulan. Yang kutahu di Pulau Penang hanyalan pusat perbelanjaan bernama Komtar. Pernah juga aku pergi ke tempat wisata seperti Bukit Bendera, atau Taman Negara Penang di Teluk Bahang. Tapi Balik Pulau? Wow..rasanya jauh sekali.

IMG_0079_1_1

Kerjaku berat. Mulai pukul sembilan pagi sampai sepuluh malam. Kadang-kadang lembur sampai jam dua belas malam. Pernah juga sampai jam dua pagi. Walau letih, aku tak bisa menolak. Kalau toke meminta lembur, aku harus lembur. Kalau tidak, nanti kawan-kawanku tidak bekerja esok paginya.

Aku tak tahu pekerjaan apa yang membuat seorang laki-laki harus lembur sampai pukul dua pagi. Sulit dibayangkan jika berkaitan dengan pembukaan jalan. Membuka hutankah? Tak mungkin dilakukan tengah malam, dalam kegelapan dan tak ada lampu penerang jalan. Bisa-bisa malah masuk jurang. Aku terus bertanya-tanya tentang pekerjaan Roni ini, dan tak menemukan jawabannya.

Lalu kutanya asalnya, karena penasaran. Waktu itu aku belum berjumpa Roni langsung. Hubungan kami masih lewat SMS dan SMS. ‘Kamu orang mana, umur berapa, kok suaramu macam kakek-kakek?’

Aku memang kakek-kakek. Umurku seratus tahun. Tampangku macam pohon bambu, kenapa? Aku orang buton, keluargaku tinggal di Bau-bau. Kenapa aku ke Malaysia? Kenapa aku tak bekerja di kampung? Entahlah, mungkin ingin mencari pengalaman, seperti banyak orang-orang di kampungku lakukan. Mungkin aku anak  paling nakal, sehingga terpaksa lari ke Malaysia. Adikku kuliah di Universitas Halo Oleo Kendari, ambil jurusan kimia. Tapi aku? Aku hanya tamatan SMA saja.

Hei, aku belom kawin. Teman-temanku menjulukiku boejang lapoek. Sudah tua tak laku kawin. Nanti sajalah kalau di kampung aku kawin. Perawan banyak di kampung, tinggal pilih. Di sini? Aku takut sama perempuan. Baru kamulah kawan perempuanku.

Pernah sekali kami berjanji untuk bertemu di Komtar. Namun dia tak muncul. Alasannya sungguh membuatku terkaget-kaget. Padahal itu hari Minggu, hari libur untuk sebagian besar pekerja kongsi. Tapi Roni masih bekerja.

Maaf, toke tak bagi aku cuti. Jika aku tak bekerja hari ini, esok semua kawan-kawanku tak ada yang kerja. Jadi aku harus kerja. Lain kali insya Allah kita boleh jumpa. Kalau kamu mau, boleh mengunjungiku di Gertak Sanggul. Di sana ada basten, nanti kujemput.

Tapi aku tak pernah datang ke Gertak Sanggul, atau ke Balik Pulau. Waktu itu masih picik nalarku. Bertemu dan berkawan dengan lelaki, apalagi pekerja kontrak di daerah terpencil, mirip mengerikan. Beberapa minggu kemudian kami bertemu. Bayanganku tentang Roni tak setajam kenyataannya.

Dia tepat di bawah jembatan. Berdiri di sana dengan seorang kawan. Mengenakan kaos kuning dan celana jeans, begitu kontras dengan kulitnya yang hitam terbakar. Rambutnya tergerai panjang,menyentuh bahunya dan ikal. Tak dapat kubilang dia buruk, tapi tak juga menawan.

IMG_0064_1_1_1

Aroma losyen murahan menyegrak bulu-bulu hidungku. ‘Dia tentu sengaja memakai losyen untuk bertemu denganku,’ pikirku. Memakai losyen alias lotion atau pelembab kulit, buat pekerja kontrak seperti Roni, bukan merupakan kebiasaan. Ritual berdandan seperti mengoleskan losyen, pengharum badan, bedak, minyak rambut, hanya mereka lakukan saat hendak bertemu perempuan. Karena perempuan di mata mereka makhluk yang istimewa, sulit dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang keras.

Seperti para gentleman lainnya, dia mencoba membayar apapun yang kubeli, namun aku menolak.

“Aku bisa membayar sendiri apa yang kubeli,” alasanku. Namun kubiarkan dia membayar minuman dan makanan yang kami makan. Dia juga kubiarkan tatkala membayar majalah yang kubeli.

“Kamu aneh,” katanya, “biasanya pacar kawanku minta dibelikan macam-macam. Tapi kamu tidak.”

“Ayolah..pilihlah baju atau apapun. Aku membelikanmu tanpa ikatan apapun. Ihlas. Hanya sekedar teman,” rajuknya. Tapi aku menolak halus.

Bagaimana mungkin aku meminta-minta pada seorang buruh kontrak yang gajinya mungkin lebih kecil dari gajiku, yang kerjanya amat keras melawan terik matahari. Setiap ringgit yang dia dapatkan tak sebanding dengan setiap keringat yang dia keluarkan.

Gajiku hanya tiga ringgit sejam. Wah..sengsara banget hidup di sini. Harus kerja keras membanting tulang untuk bisa hidup dan menabung. Lebih senang tinggal di kampung. Tapi di sana tak ada kerja, bosan juga. Kecuali ada istri yang mengikat.

Kami berjabat tangan saat hendak berpisah. Dia menjabat tanganku erat-erat. “Sebagai sahabat,” katanya lirih. Masih terngiang-ngiang di telingaku kisahnya saat kami jalan beriring. .

Aku tak tahu bekerja secara sah atau nggak. Semua toke yang urus. Sekarang permitku sudah mati, dan aku kena potong empat ratus ringgit sebulan. Gajiku tak tentu. Kalau aku kuat bekerja dua belas jam dalam sehari, aku mendapat tiga puluh enam ringgit. Dalam sebulan dikurangi empat ratus ringgit bisa delapan ratus ringgit. Tapi aku sering bekerja lebih dua belas jam. Apa cakap toke saja.

Bertahun kemudian, aku datang ke Balik Pulau. Saat Roni sudah pindah kerja entah ke mana. Mungkin juga dia sudah kembali ke kampung halamannya di Bau-Bau. Kisah tentang perjalanan ke Balik Pulau, kutulis di sini. http://baltyra.com/2011/01/25/orang-indon/ (dan juga ada dalam bukuku).

Ketika kembali menjejak Malaysia Agustus-September 2012, kembali aku sambang Balik Pulau. Mataku mencari-cari keberadaan Orang Buton atau pekerja konstruksi lainnya. Tak kutemui. Jalan yang menghubungkan Butterworth dengan Balik Pulau sudah sangat mulus, memapras bukit yang dulunya dipenuhi pepohonan berbuah lebat rambutan dan durian. Semua tentu berkat jasa TKI asal Indonesia, orang-orang Buton, Flores, Jawa, yang umumnya dipekerjakan secara ilegal. Yang paling tahan menggantang matahari.

Advertisements