Tags

,


Oce Maranressy namanya. Umurnya? “Beberapa tahun lagi saya pensiun,” ujar Kepala Sekolah SD Inpres II di Adaut, Kecamatan Selaru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dalam awal perjumpaan kami di kapal penumpang KM Cireai suatu ketika.

Iseng kulihat peta Indonesia. Kucari di belahan mana itu Adaut, Selaru. Tak kutemukan. Pulau tempatnya tinggal, Pulau Selaru mungkin terlalu kecil jika dibandingkan dengan skala yang digunakan peta Indonesia. Jadi di mana itu?

once1

“Saya nanti turun di Tual, Pulau Kei. Dari Tual saya mesti tunggu kapal satu dua hari, lalu naik kapal lagi semalam menuju Saumlaki. Nah, dari Pulau Saumlaki mudah menuju Pulau Selaru.”

Aku mengangguk-angguk. Tetap saja tak paham. Maluku itu luaaaas. Kepingan pulaunya mungkin berjumlah ribuan. Mirip gulma yang mengambang di tengah lautan. Di mana-mana, di sana-sini, kecil-kecil. Terpotong-potong. Orang sepertiku awalnya hanya mengenal Maluku dari buku sejarah. Ada Ambon, lalu Banda Neira, Saparua, Ternate, Tidore.

Namun begitu menjejakkan kaki di perairan Maluku, tahulah aku betapa luasnya kepulauan di timur itu. Di utara berjajar mulai Ternate, Maitara, Tidore, Halmahera, hingga ujung Morotai. Lalu masih ada lagi Makian, Bacan, dan puluhan pulau lain tak bernama.

Di tengah ada Ambon, Seram, Haruku, Saparua, Nusa Laut, Buru, dan puluhan lainnya. Lalu Kepulauan Banda yang setidaknya mengandung 10 pulau. Di tenggara ada Kei Besar, Kei Kecil, Saumlaki. Lalu masih ada Kepulauan Aru, dan masih banyak lagi. Menyebutnya satu persatu membuat mulutmu berbusa-busa. Terlalu banyak. Mirip mengupas bawang raksasa, lapis demi lapis.

Kembali ke Pak Oce. Di kapal, Pak Oce begitu membanggakan program Indonesia mengajar yang digagas Anis Baswedan ini. “Di kampung saya, ada lima guru muda dari program Indonesia mengajar,” kisahnya bangga.

“Kelima guru tadi saya distribusikan untuk tinggal dengan keluarga-keluarga yang lain. Saya sendiri menjadi bapak kos seorang guru perempuan muda, asal Bogor.”

“Wah, dia kos di rumah Bapak. Berapa bayarnya sebulan Pak?” tanyaku ingin tahu. Pertanyaan yang biasa menurutku, karena anak lelakinya kuliah di Universitas Negeri Malang dan kos di kota apel itu. Pastilah dia mengirim uang setiap bulan kepada anaknya untuk bea makan dan kos.Kata Pak Oce, dia beserta istri dan saudaranya baru mengunjungi anak-anak mereka yang baru diwisuda, tapi mesti mengikuti program satu tahun lagi sebelum ditempatkan bekerja di pelosok Indonesia nantinya. Rasa bangga mencuat cerah dari wajahnya.

“Ooo.. tidak bayar. Kadang dia bantu beli beras. Tapi tidak bayar.”

“Apa guru yang lain juga tidak bayar saat kos di rumah penduduk?” aku heran.

“Bapak rasa juga begitu. Biasalah.. orang kampung anggap mereka mau bersusah payah mengajar di pelosok. Sebagai tanda terimakasih, maka kami beri mereka perlindungan, makan.”

‘Tapi kan mereka dibayar, Pak. Lumayan juga gajinya. Jadi sudah wajar jika mereka membayar,’ pikirku. Enggan aku mengutarakannya, takut Pak Oce tersinggung. Rupanya budaya tidak boleh bayar juga kurasakan kelak saat tinggal di rumah bapak raja Lonthoir. Keramahan khas orang Maluku yang terisolasi.

Kelak Pak Oce menjadi salah satu nara sumberku yang berharga. Dari kisahnya di kapal, aku mulai melacak dan menyisir Banda Kepulauan dengan sudut pandang yang berbeda. Pak Oce yang mengenalkanku pada nasib Pongki. Pak Oce yang membuka mataku akan korban kerusuhan agama di Banda Kepulauan. Dan luar biasanya, walau dirinya pernah menjadi korban kerusuhan agama, dia berbesar hati menerima para guru muda Indonesia mengajar yang berbeda agama dan keyakinan dengannya.

“Bapak tidak dendam?” tanyaku memancing.

“Ah.. beta tak mau pikirkan itu lagi. Lebih baik jalani hidup sekarang saja.” Jawaban diplomatis dan bijak pula.

Di kapal, hobinya berbelanja barang-barang yang ditawarkan para penjual barang kelontong. Mulai celana batik, ikat pinggang dari kulit buatan, topi, rokok, dan lainnya. Hobi menghambur-hamburkan uang ini membuat istrinya sakit kepala, sampai maag-nya kambuh. Haha..

Tapi Pak Oce juga punya hobi positif. Dia rajin sekali menyisir dek demi dek kapal bertingkat tujuh itu, untuk mengumpulkan botol plastik air kemasan berukuran 1,5 liter. Dalam beberapa jam saja, sudah dikumpulkannya dua plastik besar.

“Buat apa Pak?” tanyaku keheranan.

“Buat bertani rumput laut. Bapak punya usaha rumput laut di kampung.”

Aku masih kebingungan mencerna penjelasannya. Kelak setelah di Lonthoir, dan melihat sendiri bagaimana rumput laut ditumbuhkan di laut-laut dangkal tepi pantai, tahulah aku apa maksudnya. Botol plastik jadi pelampung tali-tali yang ditambatkan dan dipenuhi anak rumput laut.

Usaha pengepulan botol plastik Pak Oce di kapal segera mendapat dukungan kru kapal. Mereka rajin memberi Pak Oce botol plastik. Walau kecil, Pak Oce membantu mengurangi menumpuknya sampah botol plastik di kapal. Bukan rahasia lagi kalau banyak penumpang langsung membuang sampahnya, termasuk sampah botol plastik, ke laut. Padahal di kapal sudah disediakan puluhan tempat untuk mengumpulkan sampah. Bukan rahasia pula masih banyak penduduk pulau-pulau terpencil dengan gampangnya membuang sampah mereka ke laut.

“Laut kan luas. Jadi kenapa tak membuang sampah ke laut saja?” Begitu selalu alasannya. Kesadaran lingkungan anak-anak tujuh belas ribu pulau ini memang rendah. Begitu rendahnya sehingga merusak alam menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Untung saja ada orang-orang mirip Pak Oce yang kreatif memanfaatkan sampah ‘susah urai’ seperti plastik ini. Walau, satu kilogram rumput laut di kampungnya hanya dihargai Rp 8.000.

Catatan.

Ketika kisah ini kutulis, aku sedang mengirimkan sebuah buku ‘Negeri Pala’ kepadanya. Via pos dengan kilat khusus biasa, butuh antara 19-21 hari sampai di Adaut. Beanya (karena kurang dari 500 gram) hanya Rp 17.000