Tags

, ,

Nepal. Kusebut nama ini tentu anganmu tentulah melayang pada tempat-tempat eksotis mirip Pegunungan Himalaya yang bersalju, puncak tertinggi di dunia, kisah petualang dan kembara yang menyaksikan keindahan atap dunia, lingkungan yang ‘nyaris belum’ tercemar dan menyajikan kemurnian. Bisa juga imaji tentang keledai, orang-orang berbaju mantel bulu dan kulit binatang tebal. Wajah-wajah berbibir tebal dan nyaris membeku kedinginan. Kisah yang hanya mengantarmu menuju deskripsi akan alam, alam, dan lagi-lagi alam penuh keindahan sekaligus tantangan.

sanduk ruit, si dokter katarak

sanduk ruit, si dokter katarak

Namun Nepal dalam kepalaku adalah ingatan akan Lekhnat. Dialah lelaki muda berkulit putih, berwajah mirip hindustan, rekan kerjaku di sebuah pabrik elektronik Malaysia bertahun lalu. Lekhnat mirip rupawan, berwajah dalam tanpa cela. Matanya lebar, tajam. dengan anak mata kecoklatan. Hidungnya tinggi mancung.

Dia mampu memikat hampir semua perempuan muda di kilang (pabrik, pen) tempatku bekerja. Hanya satu yang menggangguku, bau badannya membuatku mual saking sengaknya. Untung, setelah berbulan-bulan bersama dalam satu modul kerja, si Lekhnat berubah. Dia mau memakai deodoran, yang dibelinya dari para sales Avon dadakan –umumnya buruh perempuan- di kilang. Lekhnat pun harum. Semua orang kini benar-benar suka berdekatan dengannya.

Ada satu hal yang kusuka dari Lekhnat, selain bahasa Inggrisnya yang renyah. Dia juga cerdas dan berpandangan jauh ke depan. Katanya suatu hari, “Kau tahu Ary, aku datang bekerja ke Malaysia ini harus mengeluarkan uang delapan ribu ringgit. Delapan ribu! Mahal bukan? Tak sebanding dengan gajiku di sini yang hanya seribu lebih. Setelah pulang dari Malaysia, aku mau ke Amerika. Mencari gaji yang layak. Ada saudaraku bekerja di sana.”

Delapan ribu ala Lekhnat waktu itu adalah setara dengan dua ribu ringgit ongkos yang ditarik dari calon TKI perempuan yang hendak memburuh di pabrikku. Boleh dibayar lunas, bisa diangsur selama dua tahun.

Tapi aku tak hendak berkisah tentang tingginya ‘premi’ yang dibayar untuk memburuh di Malaysia. Bukan. Aku hendak menghubungkan Lekhnat dengan Sanduk Ruit, dokter spesialis mata yang mengobarkan terang di Sumatra Utara baru-baru ini.

00000

Sanduk Ruit lahir di Olanchungola Pass, Taplejung, utara Nepal. Kelahiran dan masa kecilnya dihabiskan dalam balutan keindahan Nepal yang bergunung-gunung. Orangtuanya buta huruf, maklum sekolah terdekat dari desa tempatnya tinggal berjarak sebelas hari perjalanan dari rumahnya. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, penduduk di desanya menjadi buta huruf karena kondisi alam.

Beruntung, ayah Sanduk Ruit yang pedagang kecil itu sadar akan pentingnya pendidikan. Dia mengirim anaknya untuk bersekolah di Darjeeling, dan membiayainya sepenuh raga. Lelaki kelahiran 1955 ini bahkan mampu melanjutkan sekolah kedokteran di India 26 tahun kemudian, lalu berturut-turut mendapatkan  beasiswa dari Belanda, Australia, dan Amerika Serikat untuk memperdalam ilmu kedokteran.

Entah apa yang meracuni kepalanya, Sanduk Ruit memilih spesialis mata. Di bawah asuhan Profesor Dr Fred Hollows, dia belajar pembedahan bagi penderita katarak. Berdua mereka  mengembangkan small incision cataract study (SICS) dengan menggunakan intraocular lens (IOL) berbea rendah. Operasi ini lalu diterapkannya pada penderita katarak di wilayah pemukiman miskin, di negara-negara berkembang. Metode IOL kini berbea 3,5 dolar per operasi atau sekitar Rp 35.000 saja. Bandingkan dengan operasi katarak biasa yang berkisar antara Rp 8-15 juta per operasi.

Kurasa Sakduk Ruit terinspirasi oleh banyaknya penderita katarak di negerinya. Nepal tergolong negara miskin. Cuacanya pun ekstrim. Tanah dan pegunungan bersalju di Himalaya akan menyilaukan mata tatkala di sinari matahari. Penderita katarak kerap dijumpai di wilayah yang panasnya ekstrim, misal di daerah pantai, pegunungan. Di Indonesia sendiri, banyak nelayan miskin yang terkena katarak.

Sanduk Ruit yang pernah menghuni pegunungan miskin nan indah itu pun kembali ke negerinya untuk membantu menyembuhkan penderita katarak di negerinya. Memang, hanya orang yang pernah miskin, hanya orang yang pernah menderita, tahu dan paham bagaimana memotong kemiskinan dan penderitaan itu dengan tepat. Sanduk Ruit contohnya.

Sanduk Ruit lalu berpraktek di Tilganga Eye Centre tahun 1994. Tak puas membantu penderita katarak negerinya, dia lalu membantu menyembuhkan penderita katarak miskin di berbagai negeri berkembang dan miskin di penjuru dunia. Termasuk Indonesia. (bersambung)

Advertisements