Tags

, , ,


Siapa yang tak kenal nama Laksamana Cheng Ho? Di Indonesia, nama Cheng Ho dikaitkan dengan penyebaran Islam di Jawa dan Sumatra. Beberapa masjid bernama sama didirikan untuk menghormati jasanya. Ketika berkunjung ke Melaka akhir September 2012, saya sempatkan mengunjungi Museum Cheng Ho di Jalan Hang Jebat. Dalam museum tiga tingkat dengan belasan ruangan itulah, berjam-jam  saya coba menggali sejarah Cheng Ho yang jarang terkabar di luar, kisah cintanya.

zheng2

lukisan Cheng Ho di museum

Memanglah Cheng Ho seorang Kasim, namun dia juga manusia biasa. Dia dikasimkan karena terpaksa, untuk melayani keluarga kaisar di masa itu. Berikut petilan kisah cinta itu.

00000

Zhen Gu mendorong kapalku ke tengah sungai. Berayun. Melaju. Hingga membentur batu.

“Woops.. aku tak sengaja Ma He,” teriaknya sambil tertawa.

Kapal oleng, lalu terbalik. Air menerjang buritan dan haluan. Segera tangan kananku menyambar kapal kayuku. Membalikkan badannya di udara, agar air jatuh segera. Dari jauh kulihat kilau emas Danau Dian. Musim gugur segera datang. Bau tanah dan lembab pepohonan menusuk-nusuk bulu hidungku.

“Apa benar kau akan mengajakku berlayar kalau kita besar nanti?” Zhen Gu menyibakkan kepangnya ke belakang. Lalu tangannya menyentuh cuping telinganya yang kemerahan. Sementara itu matahari semakin condong ke barat, menyisakan sinar kemerahan pada air di danau.

“Tentu saja,” jawabku. “Kita berlayar sambil berniaga. Membawa sutra, emas, dan tembikar.” Ah, itu memang cita-citaku sejak awal. Terinspirasi kisah petualangan kakekku. Kakek datang dari Persia. Dia berdagang hingga ke Yunan. Suatu ketika kapalnya kandas di sini dan dia tak bisa pulang.

Rupanya sore itu permainan terakhirku dengan Gu. Kami pulang bergandengan tangan, sebelum berpisah. Kudekap kapal kayuku. “Kita ketemu lagi besok ya Ma He,” kata Gu. Aku mengangguk.

Lanjutannya bisa dinikmati di:

Cinta Abadi Cheng Ho (1)

Cinta Abadi Cheng Ho (2)

sedang akhir kisahnya, ada di buku ‘lelaki dari samatoa’

Selamat Membaca 😀