Tags

, ,

Jelang tahun 2000, ketika masih tinggal di Jogja, saya pernah terpesona pada sebuah buku yang saya baca di perpustakaan Lembaga Indonesia Prancis waktu itu. Judul bukunya Nouvelles Orientales. Penulisnya Marguerite Yourcenar. Kelak, buku ini diterjemahkan Yayasan Obor dengan tajuk Cerita-Cerita dari Timur.

yourcenarBuku ini, memikat saya sejak pada bagian Henri Chambert Loir membuat sebuah pengantar. Henri menjelaskan siapa Yourcenar itu. Seorang pejalan seumur hidup, yang menghabiskan 84 tahun umurnya dengan melakukan perjalanan melintas benua Eropa, Amerika, Asia, hingga Afrika (saya tidak tahu apakah dia pernah menginjakkan kaki ke Australia). Bahkan pada usia 80 tahun dia masih melancong ke Jepang dan India. Sebuah hal yang cukup ganjil pada masanya, apalagi sebagian besar perjalanannya dilakukan seorang diri.

Yourcenar lahir di Belgia pada 1903 dengan nama Cleenewerk de Crayencour. Ibunya meninggal beberapa hari setelah kelahirannya. Yourcenar lalu dididik ayahnya yang kaya dan hidup berkelana benua Eropa. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di desa utara Prancis. Ketika usia 9 tahun, bersama ayahnya pindah ke Paris, London, dan Monte Carlo. Sepanjang hidupnya yang berpindah-pindah, dia diasuh oleh guru privat. Saat usianya 17 tahun, dia lulus ujian sarjana muda. Setelah itu dia belajar secara otodidak, terutama dengan membaca.

Dia pencinta karya-karya Thomas Hardy, Joseph Conrad, Leon Tolstoy, Thomas Man, Henrik Ibsen, Anton Chekov, Gandhi dan masih banyak lagi. Tahun 1921-1922 dia menerbitkan sendiri karya-karya sajak dan naskah drama dengan nama samaran Yourcenar. Ketika ayahnya wafat tahun 1929, dia mulai lagi hidup berpindah-pindah dari Paris ke Monte Carlo, Inggris, Italia, Swis, Austria, dan Yunani.  Sudah biasa baginya hidup berbulan-bulan di hotel sambil menulis.

Pada tahun 1937 dia bertemu Grace Frick yang menjadi sahabatnya selama 40 tahun lalu membuat rumah di sebuah pulau di Mount Desert Island, Maine, Amerika Serikat. Mereka berdua kembali mengelilingi Eropa dan Amerika, serta hanya sesekali tinggal di rumahnya. Ketika Grace terserang kanker, Yourcenar memilih menetap di pulaunya. Saat Grace meninggal dunia, Yourcenar kembali berkelana ke Karibia, Eropa, Aljazair, Mesir, Jepang, Thailand, India, dan Kenya. Bahkan beberapa saat sebelum meninggal, dia masih merencanakan mengunjungi India dan Nepal. Saat itu umurnya sudah 84 tahun!

Ada belasan buku karyanya, namun yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baru Cerita-Cerita dari Timur dan Memori Hadrianus, kesemuanya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Belakangan saya dengar Cerita-Cerita dari Timur diterbitkan kembali oleh Kepustakaan Gramedia.

00000

Saya merasa beruntung sempat membaca karya-karya Yourcenar belasan tahun lalu. Saat langkah kaki menjejak penjuru masih sebatas nusantara. Darinya saya belajar bagaimana meramu kisah perjalanan, tak sekedar menggambarkan indahnya tempat yang saya kunjungi, tapi juga manusia dengan berbagai masalah, pandangan, dan mitos-mitosnya. Itulah yang kemudian menjadi ciri saya saat menjadi penulis langganan di Majalah Familia terbitan Kanisius Jogjakarta. Namun waktu itu saya belum bermain terlalu jauh dengan imajinasi. Masih kuat memijak bumi.

Ketika hifatlobrain menodong saya menurunkan ‘sedikit’ ilmu tentang narasi, saya pilih buku Yourcenar yang paling renyah, Cerita-Cerita dari Timur, sebagai acuan. Tak ada buku yang sedalam dan sebaur itu meramu berbagai unsur seperti sebuah tempat, manusia, mitos, menjadi sebuah kisah mirip dongeng yang menarik. Terlebih, nilai dalam kandungan kisah begitu manusiawi, so human, dan menyentuh.

Membaca pengembaraan Yourcenar, Anda mirip dibawa menjelajah dari satu dataran benus ke benua lain, dari Yunani menuju Serbia, dari Jepang menuju ke Cina. Bahkan ketika pengarangnya belum menginjakkan kaki ke benua tersebut. Semua berkat studi literatur yang kuat (tak hanya sejarah, sastra, tapi juga mitologi dan buku jenis apapun yang mampu dia lahap), dan imajinasi yang menembus kisi-kisi kehidupan nyata dan keterkungkungan pikiran manusia. Imajinasi dan pesan tulisan Yourcenar bersifat universal.

Ada 10 kisah dalam buku ini. Tentang pelukis Wang Fo dari Cina, Marco si pahlawan Montenegro, Ibu yang menyusui anaknya dari Albania, Pangeran Genji dari Jepang, Panegnotis yang mencintai peri dari Yunani, dan masih ada lima lagi.

Saya ambil contoh satu untuk mengulasnya. Cerita keenam bertitel ‘Bunda Maria Burung Layang-Layang’. Terkisah Rahib Therapion yang memerangi peri-peri demi tegaknya ajaran Kristiani di Yunani. Dia membakar pohon-pohon tempat para petani menggantungkan sesaji buat para peri, hingga menembok gua persembunyian para peri yang dianggapnya telah menodai ajaran Kristiani dan membuat iman penduduk Yunani terpecah.

Hingga suatu ketika si rahib bersua seorang wanita muda yang menanyai pekerjaannya. Jawab rahib, “Kutembok dalam gua peri-peri yang selalu mengganggu negeri ini. Di depan lubang masuk gua kudirikan kapel. Dengan tubuh telanjang, mereka takut kepada Tuhan dan tidak akan berani menerobos melarikan diri. Kutunggu mereka hingga mati kelaparan dan kedinginan di dalam gua. Sessudah itu kedamaian ilahi akan menguasai ladang-ladang ini.”

Maka si wanita muda membalasnya, “Siapa berkata kedamaian Ilahi tidak menyentuh para peri, seperti halnya kijang-kijang betina dan kawanan domba? Tak tahukah engkau bahwa pada saat alam semesta diciptakan, Tuhan lupa memberikan sayap kepada sejumlah malaikat, mereka lalu jatuh ke bumi dan menetap di dalam hutan, dan membentuk bangsa peri dan Pan. Sebagian lagi menetap di gunung dan menjadi dewa-dewa Olimpus. Janganlah seperti bangsa kafir, mereka mengagung-agungkan makhluk ciptaan dengan mengesampingkan Sang Pencipta; jangan.pula menghebohkan karya-Nya. Bersyukurlah dalam hatimu, bahwa Ia telah menciptaka Diara dan Apollo.”

Yourcenar meramu mitologi Yunani, kepercayaan masyarakat lokal, dan ketidaksukaan iman Kristiani dengan apik dalam cerita ini. Cerita yang dibalut pesona keindahan alam Yunani, tipikal para penduduknya. Di bagian akhir, dituturkan rahib Therapion yang tersadarkan, dan memahami inti ajaran Tuhannya, bahwa semua makhluk ciptaan-Nya, tanpa kecuali si peri.

Yang membuat saya terkagum pada karya Yourcenar lainnya adalah pilihan diksi dan bahasanya yang puitis, tanpa mencoba bermain-main dengan liris. Dia tak menggunakan diksi sekedar untuk keindahan atau tampil wah, namun memang dibutuhkan dalam cerita. Yourcenar adalah sedikit orang yang mampu mencampur dan meramu kisah perjalanan dalam balutan fiksi, mitos, dan kenyataan. Yang menembus batas-batas imajinasi. Yang tak suka membawa egonya ke dalam kisah, jadi jangan harap temukan cerita ‘aku mengalir menuju..’ atau ‘aku terpesona pada…’.

Tak hanya dalam kisah dia melebur, dalam kehidupan nyata pun tak ada yang mengenal pasti siapa dia. Karena dia membakar hampir semua data yang bersangkutan dengan kehidupan pribadinya, dan menyisakan sedikit yang baru boleh diketahui umum 30 tahun setelah dia meninggal. Jadi pada tahun 2017 nanti. Semoga saya masih hidup saat dokumen pribadinya boleh diakses umum 😀

Bagaimana balutan karyanya selanjutnya? Dan bagaimana dia memandang perjalanan sebagai sumber inspirasi bagi hampir semua karyanya? Atau sejauh apa studi literatur yang dilakukannya guna menghasilkan sekecil apapun tulisannya? Mungkin lain waktu akan saya tulis lagi, setelah menuntaskan pembacaan ‘Memoar Hadrianus’ yang setebal Gordon ini. Yang penting, cobalah baca karya-karyanya. Sama sekali tidak merugi!

Selamat membaca dan salam meta,

Advertisements