Tags

,


Dulu, setiap melakukan perjalanan, Lonely Planet mirip ‘agama’ bagi saya. Buku petunjuk perjalanan ini menjadi acuan, mulai daerah mana saja yang wajib dikunjungi, soal transportasi, hingga penginapan murah. Soal harga, bisa saja berubah jika waktunya berbeda. Tapi harus naik bus apa, nama hostel dan alamatnya, lalu peta menuju tempat di atas, mirip mutlak.

aranya-2

hostel di aranyaprathet, Rp60 ribu semalam

Dalam perjalanan terakhir, saya membawa LP dalam versi pdf, tersimpan rapi di tablet pc. Tapi saya juga menyiapkan diri dengan browsing hostelbookers dan agoda sekedar mengetahui penginapan murah beserta harganya. Tak bisa booking online. Selain tak punya kartu kredit, juga tak pasti soal jadwal perjalanan. Hasilnya bisa oke kerap juga fatal. Apalagi jika sampai di tempat tujuan malam hari.

Hari pertama perjalanan, saya sampai di Penang malam hari. Masuk hostel, harganya berlipat. Padahal kamarnya sangat sederhana. Jadi saya putuskan night tour saja, keliling kota Georgetown sambil motret. Terakhir saya berlabuh di Tanjung Morina. Satpam di sana menyuruh saya tinggal. Subuh saya melaju dengan bus cityliner menuju Taman Negara Penang. Saya habiskan semalam di sana.

Malam ketiga saya tidur di sebuah penginapan, Penang Old Guest House. Dormitory room khusus perempuan harganya 27 ringgit. Satu kamar sempit diisi 4 orang. Ada AC, wifi, internet, sarapan, bahkan mandi air panas dan tempat mencuci. Bolehlah fasilitasnya. Hanya, teman sekamar yang kebetulan orang Taiwan itu hobi banget tidur. Dari pukul 10 malam hingga 8 pagi, masih ngorok. Kamar pun gelap. Kelabakan saya waktu bangun pagi. Meraba-raba.

Keputusan singgah dan bermalam di Songkhla mendadak muncul di kepala saat tiba di Hatyai. Tergoda ingatan kalau kota dan juga nama propinsi di Selatan Thailand itu rawan konflik. Beberapa penembakan dan bom kerap terjadi di sana. Saya tak sempat browsing internet. LP pun tak memberi keterangan tentang kota ini. Jadi masuk Songkhla mirip orang buta gagap. Susah menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris. Sempat saya tanya sebuah toko buku tentang guest house atau hotel. Pemilik toko, perempuan keturunan Cina, memberi arah.   Sebuah hotel. Harga kamar per malamnya 300 bath. Mahal juga. Ada AC, teve, kamar mandi dalam (tanpa pemanas), serta dapat sebotol air mineral murahan. Saya gunakan malam itu untuk mencuci seluruh pakaian kotor.

ayu2

minimalist traveler

Paginya, saat berjalan-jalan keliling kota, tahulah saya kalau deretan guest house ada di dekat terminal bus. Salah saya mengapa tak turun di terminal. Sambil menyumpah saya belajar sesuatu, penginapan selalu ada di dekat terminal atau stasiun kereta. Untuk mempermudah pejalan.

Maka, ketika menginjakkan kaki di Ayutthaya, saya tak panik. Tak tergoda sopir tuktuk yang menawarkan jasa, tenang saja saya berjalan memasuki gang yang di mulutnya penuh turis. Pasti ada penginapan di sekitar sini. Benar saja. Saya hindari penginapan yang kebule-bulean (dipenuhi orang bule), menuju warnet yang tampak sunyi, lalu bertanya kepada seorang perempuan. Holah, saya dapat kamar, 100 bath semalam. Tanpa pikir panjang saya ambil dua malam. Kamar yang tak terdaftar di LP.

Sayangnya, kamarnya tak terlalu bersih. Mirip lama tak dihuni. Satu kamar isi 2 dipan terpisah. Toilet ada di luar. Tapi okelah. Hanya, tangga menuju kamar di lantai 3 itu bau betul kotoran kucing. Si empunya rumah memelihara 15 kucing. Haha.. yang penting tak ada kotoran kucing di lantai 3.

Pengalaman kemalaman saya alami juga di Aranyaprathet. Kereta api tiba di kota perbatasan dengan Kamboja itu pukul 6 lebih. Saya habiskan satu jam di warnet. Maklum, lama tak onlen kangen juga. Lalu saya berjalan kaki hingga menemukan sebuah rumah bertuliskan biro wisata plus hostel. Sansabai namanya. Tarif semalam 200 bath. Waktu itu rasanya kemahalan. Tapi kelak saya sadari keputusan saya benar. Kamar hostel terletak terpisah dari kantor dan rumah utama. Bersih, ada kamar mandi dalam dengan  pemanas, kipas angin, dan ‘free’ mineral water. Esoknya, si empunya masih memberi saya sarapan biskuit dan air mineral. Hehe..

Surga bagi pejalan kere macam saya justru di Siem Reap. Di sini masih ada penginapan ala dormitory senilai 2 dolar per malam atau yang 4 dolar sudah pakai sarapan. Tapi saya justru nyasardi penginapan senilai 6 dolar semalam tanpa makan, hanya dapat air mineral. Kok bisa? Saya malas mencari dan pindah-pindah membopong ransel, lalu berpatokan mati pada LP. Haha..

Van yang saya tumpangi sampai di Siem Reap sore hari. Saya lalu berjalan ke kawasan Wat Bo, dan menemukan San Bo Guest House. Saya suka tempatnya yang tersembunyi dalam gang dan bangunannya yang unik. Pelayannya ramah. Tapi sepi tamu. Mungkin karena tarif di atas dianggap mahal oleh backpacker.

Dua malam di sini, dalam ruang luas di lantai 2 yang berkipas angin, kamar mandi dalam nan bersih nyaman, saya lalu pindah ke Home Sweet Home. Kawan saya dari Jogja sudah booking tempat ini. Eh, tarifnya juga masih 6 dolar dengan wifi mati mampus. Keesokan harinya baru bergabung dengan kawan di lantai 2. Tarifnya 4 dolar per orang di double room, dapat sarapan lagi. Ternyata booking onlen ada juga untungnya. Lebih murah dan dapat sarapan. Hehe..

Di Phnom Penh bersama kawan saya menginap di Khafi Guest House. Tarifnya 10 dolar per dua orang. Nggak dapat apa-apa selain free wifi dan mandi air panas. Fasilitas yang lain sama dengan yang dulu-dulu. Tapi kota ini memang lebih mahal ketimbang di dekat Angkor Wat.

Pengalaman terburuk justru di Poipet. Dapat hostel bau WC. Ampun deh, terpaksa tidur sambil memakai masker. Gara-gara kemalaman sampai di Poipet, setelah salah turun dan terpaksa menunggu bus berikutnya. Sampai di Poipet pukul 8 malam lebih, dikerubungi tukang ojek. Saya kena tipu tukang ojek. Dia bilang ada hotel 5 dolaran, agak jauh. Ternyata jaraknya hanya 200 meter dari tempat saya turun bus. Sudah bayar si tukang ojek 2000 riel, dapat hotel bau WC pula (walau toilet dalam). Benar-benar neraka! Pagi sekali, saya langsung cabut dan menuju perbatasan. Lebih baik lama menunggu di stasiun kereta api Aranyaprathet ketimbang membaui WC di kamar hotel. Tak ada wifi pula. Tarif malam itu sekitar 200 bath alias 6 dolar. Hadeuh!

Terjebak malam kembali saya rasakan di Sungai Kolok, paska melepas kesempatan menginap di Yala. Bukan takut pada ledakan bom, tapi rasanya aneh tinggal di kota yang setiap sudutnya dijaga tentara. Apalagi penginapan di Yala berkelas hotel esek-esek. Bisa berabe kalau saya digerebek atau diculik gerilyawan. Jadi jelang sore saya tinggalkan Yala dengan kereta api menuju Sungai Kolok.

Hari sudah gelap saat saya sampai di Sungai Kolok. Satu-satunya hotel yang saya tahu dan tuju adalah Than Liang Hotel. Tarifnya 300 bath semalam. Kamarnya bersih di lantai 3, ada kamar mandi dalam, kipas angin, teve, dan air dingin dalam askan. Saya sempatkan mandi –setelah berhari-hari tak mandi- dan mencuci. Rasanya baru malam itu saya bisa menikmati teve dengan film asing. Lumayan!

Agak siangan saya tinggalkan hotel menuju perbatasan, lalu naik bus dari Rantau Panjang menuju Kota Bharu. Rencana saya, hanya semalam di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke Jeranthut. Lagi-lagi saya pakai LP untuk mencari hostel, Zeck’s Traveller. Kali ini saya beruntung. Istri Zeck yang melayu memberi saya kamar bertarif 15 ringgit. Tak ada jendela, tapi ada kipas angin. Kamar mandinya di luar. Hostel di Malaysia memang lebih mahal ketimbang di Thailand atau Kamboja, dengan fasilitas yang lebih seadanya. Tapi ya sudah, mau bagaimana lagi.

Rupanya saya betah tinggal di Kota Bharu. Tiga malam saya tidur di Zacks, lalu naik kereta api tengah hari menuju Kuala Lipis, sekedar merasakan sensasi jungle train. Menurut blog yang saya baca dan LP, jungle train itu unik, karena kereta api akan melalui kawasan hutan. Ternyata, hutan di Malaysia ya begitu saja. Kalah serem dengan hutan sepanjang naik Gunung Semeru misalnya, atau hutan Sulawesi. Cuma sawit, pohon mirip alang-alang, dan karet.

Pukul 10 malam saya tiba di Kuala Lipis. Agak kelabakan juga meski sudah mengantongi 3 nama penginapan. Untungnya penginapan itu dekat stasiun kereta api. Sayang, kamar termurah sudah dikuasai para bule. Akhirnya saya menyerah tinggal di Apu Hotel bertarif 30 ringgit. Kamarnya seadanya, perabotnya buruk. Sepreinya berlubang-lubang bekas sundutan rokok. Wastafelnya tak bisa diguna. Memang ada AC, tapi model kuno. Kamar mandinya ada di luar, dan agak kotor. Tapi buat semalam bolehlah.

Keesokan paginya saya bingung saat mau keluar. Pintu depan hotel terkunci. Akhirnya saya menggunakan pintu darurat di belakang. Bahkan ketika check out tak ada Apu si pemilik hotel di sana. Akhirnya duit saya titipkan ke perempuan pemilik kedai makan Cina di samping Apu. Andai saya bermaksud jahat, bisa saja kabur begitu saja. Hahaha..

Mungkin keberuntungan terbesar saya ada di Melaka. Saya mendapat teman jalan orang Amerika dalam bus menuju Alor Gajah. Walau sudah pukul 10 malam, dengan tenang dan yakin saya berjalan menuju pecinan. Rencananya mencari hostel murah bernama A, dapatnya justru Yellow Mansion Hostel. Tarif dormitory 12 ringgit per malam. Kamarnya besar, buat 18 orang (tapi waktu itu hanya diisi 4 orang). Ada loker untuk menyimpan barang, kamar mandi berpemanas, mesin cuci. Oke-lah. Saya tinggal di Melaka selama 5 malam. Sungguh kota yang ramai, ramah, dan penuh mukjizat.

Petualangan mengejar penginapan murah berakhir di Melaka, karena sesudahnya saya lebih banyak tinggal di rumah kawan. Sebetulnya, saya bisa lebih berhemat dengan mencari hostel yang lebih murah. Tapi saya kan pemalas. Satu hal yang saya pelajari dari berburu hostel murah ini adalah, jangan malu bertanya orang sekitar atau browsing web sebanyak mungkin. Dan, siapkan nama beberapa hostel. Adakalanya hostel yang disebutkan buku panduan wisata justru banyak diserbu turis, maka siapkan yang lain.

Memang lebih mudah jika kita mencari hostel di siang hari, bisa berkeliling kota dan melihat ini itu. Tapi model pejalan mirip saya justru lebih suka berkendara siang hari, untuk menikmati pemandangan. Jadi memang sudah risiko terlunta-lunta di malam hari. Oya, saya tak mempercayai sopir taksi untuk mencari hostel di malam hari. Lebih baik berjalan kaki sampai gempor atau tidur di stasiun dengan meminta ijin satpamnya. Sopir taksi umumnya cari untung sendiri dengan pura-pura mau menolong. Di Petaling Jaya, saya ditipu sopir taksi. Sudah bayar 18 ringgit, tak dapat hotel. Untung diselamatkan seorang kawan.

catatan: 1 bath setara dengan 300rp, 1 ringgit setara dengan 3000 rp, 1 riel setara dengan 2 rp