Tags

, ,

blessing on methe bonesbefore darkwaitingless lightterrace of the soul

Meditative Journey, a set on Flickr.

Bukan hendak sok-sokan, postingan ini sengaja menjawab pertanyaan si Mumun Indohoy dalam ajang berbagi pengalaman yang diadakan hifatlobrain kemarin. Apa yang terjadi ketika perjalanan akhirnya menjadi ajang meditasi?

Kesadaran ini saya dapatkan paska kegagalan menjalani meditasi di rumah-rumah pertanian sepanjang Chiang Mai yang dipimpin langsung oleh seorang mantan ‘monk’. Saya begitu putus asa, kenapa tak tahan duduk walau hanya setengah jam untuk diam, bermeditasi. Saya selalu jatuh tertidur. Memalukan sungguh!

Berminggu-minggu kemudian, ketika hendak meninggalkan Bangkok, saya salah turun bus dari rumah Berm di kawasan Chatuchak menuju istana raja. Alih-alih turun di depan istana yang semalam sudah dijelaskan jalurnya dengan mendetil oleh Berm, saya malah terpesona pada sebuah wat, mirip jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadilah saya memasuki wat itu, yang kemudian saya tahu namanya Loha Prasat.

Ketika berjalan menjelajah lorong-lorong wat, menuju puncak tertinggi, saya menemukan tulisan ini. Tulisan yang menghentikan langkah saya, tepat di anak tangga. Tulisan yang memaku pandangan dan pikiran saya. Seolah enam minggu perjalanan yang sudah saya jalani, sesungguhnya mengacu pada tulisan ini.

‘Walking meditation generally entails a walk on straight path, back and forth, covering a distance not exceeding 3 metres. While walking, sati (mindfulness) has control over the bodily pose so that one is constantly aware of what is presently occuring This can be by mean of speaking softly or thinking to oneself while keeping pace with the physical action as it happens and not speaking or thinking ahead of or after it. As such, walking meditation is a form of mental practice that helps speed up the attainment of samacihi (concentration) and awareness of the present.’

Reaksi awal usai membaca tulisan itu, saya mulai merasakan intensitas indra di tubuh saat berinteraksi dengan sekitar. Saya merasakan langkah saya, saat kaki telanjang menyentuh dinding lantai yang dingin. Saya menyadari mata saya yang terpaku pada pandangan di depan saya, dan saat nafas saya teratur berhembus keluar masuk. Saya perhatikan sekitar dengan seksama, di mana saya berada saat itu, apa saja yang ada di ruangan yang saya masuki. Saya tidak terburu. Saya tidak bergegas dan rakus hendak melahap semua secara instan. Saya menyadari sekeliling saat itu saja. Begitu nikmat. Kesadaran tentang saat ini.

Saya pun melakukan refleksi tentang perjalanan-perjalanan sebelumnya. Di masa lalu, kerap saya berjalan kaki dengan pikiran entah kemana. Melamun sambil berjalan, entah itu mengingat-ingat kembali apa yang terjadi di masa lalu atau membayangkan masa depan, mengulang-ulang peristiwa yang menyenangkan, alangkah nikmatnya! Saya jadi tak merasakan betapa bosan melihat pemandangan yang itu-itu saja saat berjalan. Bahkan saya tidak merasakan betapa jauh dan melelahkannya berjalan di terik matahari.

Hanya sedikit sekali saya melakukan perjalanan dengan pikiran terpusat pada waktu itu. Misalnya ketika naik gunung. Saat naik gunung, tak berani saya melamun atau membayangkan yang indah-indah. Atau mengulang-ulang kesedihan yang melanda. Saya selalu awas dengan jalanan di depan saya. Salah melangkah, bisa masuk jurang. Dan ini pernah saya alami, hingga meninggalkan bekas scarface di separoh wajah. Ketika naik gunung, kesadaran akan kekinian jadi amat tinggi. Pernah juga saat turun gunung saya ‘sedikit’ melamun. Alhasil saya terjatuh dan babak bundas. Rupanya, walking meditation sudah saya lakukan saat naik gunung di masa lalu.

Lalu apa hubungan antara walking meditation dengan kehidupan kita? Saya mencoba mencari jawabnya. Sedikit jawab itu adalah walking meditation membantu mempercepat konsentrasi dan kesadaran akan masa kini.

Dalam kehidupan sehari-hari, betapa banyak dari kita menjalaninya dengan separoh hati. Sebagian orang menjalani hidup dengan penuh penyesalan dan dosa bawaan. Dia menyesali kejadian di masa lalu, yang menyakitkan dan menyedihkan tentu saja. Maka dia menjalani hidup dengan mengambang, tak tenteram apalagi bahagia. Sebagian yang lain hidup dengan mencemaskan apa yang bakal terjadi nanti. Semisal ada anak atau saudara Anda menderita sakit mematikan seperti kanker atau jantung, maka pikiran Anda dipenuhi oleh kecemasan jika sewaktu-waktu anak atau saudara itu mati. Ada juga yang mencemaskan usaha, harta, dan sebagainya. Hidup pun jadi hal yang memberatkan, penuh beban untuk dijalani.

Walking meditation mengajarkan untuk hanya memikirkan saat ini. Tentu masih ada pikiran tentang masa lalu atau masa depan, tapi hanya dalam bentuk kilasan dan tak menguasai hari Anda di saat ini. Dengan menyadari apa yang terjadi kini, dalam setiap gerak dan kegiatan Anda, maka Anda bisa menentukan, bahkan memastikan apa yang terjadi besok. Itu sebabnya kerap dikatakan Anda bisa menentukan takdir Anda, begitu bisa menyadari dan berkonsentrasi pada setiap gerak dan kegiatan Anda.

Dalam enam minggu perjalanan sebelumnya,  hampir setiap hari saya harus berjalan kaki antara pukul delapan pagi hingga delapan atau sembilan malam, diselingi satu dua jam istirahat siang karena cuaca teramat terik. Di setiap langkah, saya coba awas. Menjelajah daerah baru selalu menciptakan rasa ingin tahu yang meluap, membuat saya mengamati setiap detil pemandangan, manusia, dan mencoba membaca apa yang tersirat selain tersurat. Apalagi saya berjalan seorang diri. Mata awas memandang, tangan sigap menjepretkan kamera ke setiap gambar yang saya anggap pantas dikenang. Lalu muncul kesadaran itu.

Seorang pejalan atau traveler adalah seseorang yang melakukan meditasi sepanjang perjalanannya. Tak dibiarkan bayangan cemas masa mendatang mengganggu, atau kenangan buruk silam mengusik. Dia hanya hidup untuk hari ini, melewatkan daerah baru, memandang sesuatu yang baru, dan mengenal orang-orang baru. Hidup baginya adalah hal baru setiap hari. ‘There is always new under the same sun’. Walau dunia tak baru, tapi tapak kaki pejalan terlalu kecil untuk melahap dunia dalam sekejap. Dia butuh perjalanan panjang untuk memahami isi dunia. Maka dalam hidupnya, setiap hari adalah hal baru.

Meditasi memicu konsentrasi dan kesadaran. Pejalan yang penuh kesadaran akan mengingat setiap perjalanannya secara detil. Mungkin dia melupakan nama orang, jalan, bangunan, namun dalam ingatannya dia merekam semua kejadian itu dengan gamblang. Maka pejalan yang menulis akan menuturkan perjalanannya secara hidup. Hal yang diabaikan oleh pejalan lain, akan menjadi salah satu daya tarik dalam kisahnya.

Ketika perjalanan adalah meditasi, maka kesadaran menciptakan dunia yang lebih baik, menggugah, penuh nilai kemanusiaan, akan lebih mudah tercapai. Perjalanan akan membawa perubahan hidup, tak sekedar menyampaikan kisah dan menumpuk kenangan. Selamat berjalan. Selamat bermeditasi.

catatan kaki. kesadaran ini saya dapatkan beberapa bulan sebelum mengikuti meditasi vipasana dan foto-foto saya belum dipenuhi orbs 😀

Advertisements