Tags

,

Baru masuk siang ketika aku terdampar di Terminal Soasio. Menunggu oto yang membawaku ke Desa Bunga butuh kesabaran ekstra. Ini kota kecil di pulau terpencil. Kegiatan sungguh tak banyak. Sopir oto tak mau rugi dengan mengangkut satu dua penumpang ke tempat tujuan.

kayumanis_1_1_1“Kalo dorang tara sabar, dorang sewa ojek saja. Tapi kalo dorang mo ikut beta punya oto, dorang musti tunggu mamak-mamak pulang dari pasar,” begitu selalu jawab sopir itu jika kutanya bila akan berangkat.

Ah.. sewa ojek. Ongkosnya sepuluh kali lebih mahal ketimbang naik oto, sementara aku tak butuh bergegas dan sanguku pun tak banyak.

Untuk melempar-lempar waktu, kududuk di kedai es kacang di sudut terminal. Kupesan segelas es kepada mamak tua pemiliknya. Tak berapa lama mamak pun mengangsur segelas besar es pasrah yang ditaburi sirop merah diatasnya dicampur segenggam kacang goreng di dasarnya. Kuaduk-aduk gelas, berharap es segera berwarna merah. Namun kacang goreng itu tetap di alas, nyaris tak bergerak.

Kacang goreng. Di kampungku kerap dianggap hanya kudapan ringan. Paling banter sebagai bahan sambal dan kuah kacang. Di tempat ini justru kacang goreng jadi menu istimewa. Makan pisang goreng berasa tak lengkap dengan dabo-dabo dan kacang goreng. Minum es pun mesti bercampur kacang goreng. Jangan-jangan orang di sini belum pernah mengunyah sambal kacang.

Kulihat sekeliling. Terminal ini lumayan besar. Lebih besar ketimbang terminal di kota tempatku menuntut ilmu. Namun hanya segelintir kendaraan di sini. Ada dua oto di sudut sana, tiga oto berjajar di depan warung-warung yang nampak sepi, tiga lagi di sudut yang lain. Umumnya oto-oto itu kosong tanpa penumpang. Sopirnya pun pergi entah kemana. Oto mirip angkot di tempatku, hanya yang ini lebih kumuh dan kusam catnya.

Di ujung lain terminal, ada pelataran mirip ruang tunggu. Namun bangku-bangku kayu di sana dipenuhi dengan mamak-mamak penjual buah pinang, kenari, dan aneka rempah yang kutak tahu namanya. Di belakang ruang tunggu itulah pasar, berupa dua los panjang memutar. Kalau kau mau menemukan gula merah yang masih dibungkus daun ara, di sanalah tempatnya. Aku sempat berkeliling tadi, sejenak, demi melampiaskan rasa ingin tahu.

Kembali kumengaduk es kacang, berharap pecahan kacang goring segera memenuhi penjuru lapisan pasraan es. Kurasa ada sepasang mata yang mengamati tingkahku diam-diam. Mata sepasang gadis tak jauh dariku. Beberapa depa di hadapanku. Begitu kuangkat wajahku, segera dia membuang muka. Tangannya pura-pura sibuk mengatur bongkahan kayu manis yang dijualnya di atas meja. Kini ganti aku yang tersenyum. Tiba-tiba mata kami bertemu. Dia tak dapat menahan tawanya. Pamerkan deretan putih giginya yang kecil rapi.

“Ada yang lucu?” tanyaku sopan.

“Kakak ini aneh, seolah enggan kunyah es kacang. Bukan orang sinikah?”

Aku mengangguk. Kukatakan aku dari jauh, sengaja datang mau temui kawan lama yang konon tinggal di Kampung Bunga.

“Jadi, baru pertama di mari?” Dia mengangguk-anggukkan kepala, mimiknya ganti serius.

“Beginilah hidup di pulau kecil, Kak. Mesti sabar tunggu oto penuh bila hendak pigi-pigi. Tak banyak penumpang dekat sini.” Kini ganti aku yang mengangguk-angguk.

Kupandang bongkahan kayumanis di depannya. Ada beberapa ikat di atas meja. Sejak tadi tak kulihat pembeli mendekati gadis itu.

Seolah dapat membaca kepalaku, gadis itupun berseru. “Di pulau ini tak ada yang baru atau menarik. Setiap hari mirip serupa. Saya pun jemu tunggu pembeli kayu manis. Tapi apa boleh buat.”

Iseng kutanya darimana kayu manis yang dijualnya itu berasal.

“Kebun sendiri, Kak.” Ah, ya. Kebun sendiri. Sungguh pertanyaan tolol. Ini bukan kota besar di Jawa. Ini pulau kecil jauh di timur nusantara. Tak mungkin ada seorang gadis rela duduk berjam-jam sedari pasar buka hingga tutup hanya untuk menjual kayu manis. Siapa pula yang beli.

Kuamati kayu manis yang dijualnya. Begitu besar dan panjang bentuknya. Mungkin sekitar 70-80 senti. Dua kali lebih besar dan panjang ketimbang yang biasa dibeli ibuku di pasar tuk memasak kue. Warnanya coklat kemerahan. “Kebunmu tentu luas, dan pohon kayu manismu pasti besar-besar,” kataku akhirnya.

Gadis itu mengangguk. “Di sini tara orang tak punya kebun. Kalau mau, torang bisa merambah bukit, menanami dan memanennya, lalu bilang ini kebun kami, Kak.” Lagi-lagi gadis itu tertawa. Menertawakanku, mungkin. Namun aku tak keberatan. Giginya yang putih rata, dan satu lesung pipit di pipi kirinya membuat tawanya semakin manis, tak kalah dengan barang dagangannya.

Memandang onggokan kayumanisnya membuatku teringat kebun paman di pedalaman Borneo. Sekali pernah kuikut paman memanen pohon kulitmanis. Setelah menebang pohonnya, kami lalu membawanya pulang, dan mengulitinya sambil duduk di lantai, di beranda rumahnya.

Bibiku piawai melepaskan kulitmanis dari kayunya. Gesit tangannya menggerakkan pisau, memotong setiap bagian dengan cermat. Sedikit salah gores, katanya, bakal mempengaruhi kualitas kayu manis dan harga jualnya pun murah. Aku suka melihatnya mengerik kayu manis atau membaui berandanya yang khas itu. Dan memandang hamparan kulitmanis yang dijemur di atas atap rumahnya setiap pagi, serasa berada di kaki Gunung Dawung yang kuat aromanya. Mirip kembangkering dan padang ilalang surgawi. Kulit kayumanis yang mengering akan tergulung sempurna dan halus. Makin sempurna gulungannya, makin bagus kualitasnya, dan makin mahal harganya.

Sayangnya, tumbuhan yang kerap disebut cinnamon sp itu butuh waktu lama tuk dipanen. Setidaknya sebatang kayumanis butuh sekitar sepuluh tahun sebelum siap dikuliti. Dalam sepokok, biasanya dihasilkan duapuluh kilogram kayumanis kering yang laku dijual hanya Rp 5000 perkilonya, kadang malah kurang. Makanya penduduk di kampung bibi enggan sengaja memenuhi kebunnya dengan kayumanis. Tak banyak untungnya. Paling banter Rp 100.000 per pohon. Sedang kayu yang terpotong lebih banyak diguna sebagai kayubakar atau pagar rumah. Pohon kayumanis di kampung biasanya tumbuh terbiar, antara kebun dan hutan, tanpa perawatan khusus.

Kulihat gadis itu. Kini tangannya menjulur melepas ikatan bonggolan kayumanis. Diambilnya sebatang kayumanis kering, dibauinya. “Meski hasilnya tak seberapa, aku suka dengan bau kayumanis,” katanya.

“Ibu kami dulu suka menabur bubuk kayumanis ketika membuat kopi, kue, atau coklat panas,” kataku. Ingatan tentang ibuku menerbitkan rindu di ulu hatiku. Ibuku memang pencinta kayumanis. Hampir tak ada masakannya yang tak beraroma kayumanis. Kopi, kue-kue, kolak, hingga sayuran. Katanya, rempah satu ini banyak manfaatnya buat tubuh. Menyehatkan, melancarkan peredaran darah sekaligus menghangatkan badan, Aku jadi tertawa mengenang polah ibu kami.

Yang paling kusuka saat ibu kami menyangrai biji kopi dengan kayumanis. Tumbukan kopi buatan ibu sungguh khas aromanya, walau kopi di kebun kami bukan kualitas nomer satu. Ketika kuceritakan hal ini kepada gadis di seberangku, dia ikut tertawa.

“Kakak tinggal di desa juga? punya kebun kopi?”

Kuanggukkan kepala mengiyakan. Namun tak kukisahkan betapa sepetak kebun harus berpindah tangan demi melunasi uang kuliahku. Ada nyeri yang menghujam hatiku tiba-tiba.

Sekilas kulihat sopir oto mengangkat tangan kanan, melambai ke arahku. Nampaknya oto siap berangkat. Bergegas kubayar es kacang dan kuangguk sopan kepalaku ke arah si gadis. Dia tertawa lebar sambil menjulurkan sebatang kayumanis ke arahku. “Mampirlah lagi kalau kau balik ya, Kak. Cerita-cerita lagi tentang kayumanis.” Aku mengangguk pasti sambil menggenggam kayu manis pemberiannya. Sampai jumpa gadis kayumanis, janjiku dalam hati.

*Terminal Soasio terdapat di Pulau Tidore, Maluku Utara.

Note. pernah dimuat di kompas.com

Advertisements