Tags

,

Kepalanya gundul, licin, dan berkilat jika terkena sinar matahari. Tubuhnya kurus, perawakannya sedang, dan kulitnya kuning langsat. Dari raut mukanya yang bersih dan bersinar, aku mengira kalau hidupnya amat lurus. Orang jujur dan baik-baik. Dia masih muda, tak lebih dari 30 tahun. Dia lelaki tampan yang setiap pagi berpapasan denganku di mulut gang.  Setiap pagi, selama dua minggu terakhir ini, kecuali Minggu. Mungkin dia pergi bekerja sepertiku.

Dia selalu mengenakan baju yang itu-itu juga. Celana putih longgar dan kemeja putih lengan panjang tanpa krah. Sederhana modelnya. Sepatu kanvasnya pun berwarna senada. Tak pernah warna lain. Tak pernah model lain. Mungkin dia amat miskin sehingga tak punya cukup uang untuk membeli pakaian baru. Mungkin pula dia penyuka warna putih sehingga memiliki beberapa pasang celana dan kemeja putih. Mungkin ia hidup amat sederhana. Ah.. seribu mungkin.

lelakiDia selalu tersenyum ramah jika berpapasan denganku. Seramah aroma sandalwood yang samar-samar menggelitik bulu hidungku. Dia juga sopan, menganggukkan kepala sambil menuntun sepeda tuanya. Seperti memberi salam. Lalu  aku membalasnya dengan senyuman, senyuman paling manis yang mampu kuberikan.

Kalau saja mau sedikit berdandan, pastilah dia lebih tampan dari semua pemuda yang ada di kampungku. Namun itu mustahil. Dia masih mengenakan pakaian yang sama jika kebetulan bertemu denganku, dan membisu dengan senyum yang begitu. Ingin rasanya aku menegurnya lebih dulu, menyapanya dengan ucapan, “Hei, selamat pagi! Mau berangkat kerja, ya?” atau cuma bilang, “Kerjamu di mana sih?” Sesekali timbul pikiran nakal tuk menanyainya, “Kamu pakai sabun mandi apa sih? Kok baunya enak sekali!” Namun semua itu tak kulakukan. Begitu melihat senyumnya, semua pertanyaan itu terbang. Aku mabuk kepayang. Kena bius lokal.

Rasa penasaran pun menggelitikku, ingin tahu siapa dia sebenarnya. Maka aku pun mulai kasak-kusuk ke sana ke mari, membuka telinga lebar-lebar ke tetangga di kiri-kanan. “Ooh.. dia itu orang baru,” kata istri Pak RT, “Dia mengontrak rumah Bu Sastro. Belum sebulan dia tinggal di sini.”

“Sebelumnya dia tinggal di mana?” tanyaku. Bu RT hanya menggelengkan kepala.
“Namanya siapa sih, Bu?” Aku sungguh penasaran.

“Anu.. siapa ya.. wah ibu lupa. Ada dalam daftar penduduk yang disimpan Bapak. Nanti ibu tanyakan. Penting sekali ya, Nak?” matanya menerobos batok kepalaku, ingin tahu. Mirip anjing yang mengendus-ngendus bau bangkai. Aku menggeleng cepat. Menghindar. Sebelum dia berhasil mengorek-ngorek isi hatiku.

Dari Pak Kromo penjual sayur keliling di pagi hari, aku tahu kalau tetangga baruku ini sangat menyukai sayuran. “Dia tidak pernah membeli yang lain, hanya sayuran, tempe dan tahu. Mungkin dia sangat miskin ya, Neng?” ceritanya di Minggu pagi.

Aku hanya tertawa. “Mungkin dia vegetarian, Pak. Tdak makan daging, hanya makan tumbuhan,” jelasku.

Pak Kromo hanya manggut-manggut sambil bicara lirih, “Ada ya manusia seperti kambing.” Di hari biasa mungkin aku sudah terbahak. Tapi ini menyangkut lelaki yang menarik perhatianku, jadi aku pura-pura dungu.

Rasa penasaranku mulai terkuak saat memergoki Babah Hong memberi pelayanan istimewa kepada tetangga baru itu. Pemilik toko kelontong yang terkenal pelit itu memberi beras dan tepung jauh lebih banyak ketimbang uang yang diberikan si tampan. “Dia mantan bhiksu,” kata Babah menjawab tanda tanya di wajahku, seolah membenarkan tindakan amalnya.

“Dia pernah menjadi bhiksu selama tujuh tahun, dan kini mengajar di sebuah sekolah,” tegasnya. Tak dijelaskan Babah mengapa dia tiba-tiba meninggalkan jubah kuningnya. Mungkin Babah tak tahu, atau tak ingin membuka aib orang suci. Aku tak berani bertanya.

Keterangan Babah seolah menjelaskan banyak hal sekaligus mengundang  pertanyaan baru di kepalaku. Kupahami kini mengapa hidupnya amat sederhana, sikapnya begitu sopan dan selalu membisu jika bertemu orang lain. Aku heran mengapa dia meninggalkan kehidupan sucinya. Apakah dia bosan, ingin sedikit bersenang-senang,  menikmati dunia seperti kami, manusia pada umumnya. Apakah dia masih memiliki banyak nafsu duniawi. Siapakah dia dulu, sehingga memilih menjadi bhiksu. Apakah dia puas dengan kehidupannya kini. Beragam pertanyaan berseliweran di benakku, mengetuk-ngetuk untuk dipuaskan.

Dari tanya timbul hasrat untuk memikirkannya. Dari sana lalu muncul rindu. Tanpa dapat kucegah aku mulai memimpikannya, merindukannya. Rindu untuk mengenalnya, rindu berbincang dengannya, rindu membaui aroma sandalwood yang menyebar dari tubuhnya, dan rindu ingin mendekapnya. Apalagi ketika kulihat rambut mulai tumbuh menghias kepalanya. Pendek-pendek. Berdiri tegak-tegak. Sepintas mirip rambut Don King jika sedikit panjang. Ah dia semakin tampan. Mirip malaikat dalam legenda kitab suci. Aku memujanya.

Aku terus memikirkannya, siang dan malam. Merindukannya setiap saat. Aku seolah kehilangan kendali. Setiap bertemu dengannya jantungku menggemuruh dahsyat. Jalanku menjadi gontai, seolah kekuatanku hilang terserap. Sementara dia tampak biasa saja, tetap menebar senyum, dan tak tahu apa yang kurasakan.

Di malam hari aku gelisah tak kepalang, selalu ingin bertemu dengannya, sekedar melihatnya, walau itu dari kejauhan. Seolah dengan tahu apa yang dilakukannya, aku telah menjadi satu dengannya. Maka sepulang dari kantor, aku mulai rajin bertandang ke Tante Ani. Rumahnya berhadapan dengan rumah mantan bhiksu itu. Tak kupedulikan betapa cerewetnya wanita yang suka menggosip itu. Aku bisa tahan menghadapi sikap nyinyirnya asal dekat dengan pujaan hatiku. Tante Ani tentu saja senang kutemani. Suaminya yang pelaut jarang ada di rumah. Lagipula tak banyak tetangga yang mau bergaul akrab dengannya.

Diam-diam, di sela obrolan tante cerewet ini, kuamati gerak-gerik penghuni rumah seberang. Kupelajari kebiasaannya menyiram bunga-bunga di sore hari. Menyapu dan membersihkan halaman rumah, menyiangi dan merawat tanaman sayurnya. Pernah aku membicarakan kebiasaan tetangga baru ini kepada Tante Ani. Wanita itu nampak terkejut, seolah ada yang lepas dari pengamatannya. “Aku tak pernah memperhatikannya. Sungguh! Dia tak pernah memperkenalkan diri, sih!” Ada nada menyesal dalam suaranya, nada kalah.

Tak puas hanya mengetahui kebiasaannya, aku berencana menguntitnya. Kumanfaatkan cuti haid di kantorku pada bulan berikutnya. “Kamu cuti? Sejak kapan kamu bermasalah dengan haid?” suara rekanku, Rita, dari ujung telepon seolah tak percaya. Aku hanya tertawa kecil.

Pagi-pagi benar, dengan perhitungan yang matang, kujalankan rencanaku. Dengan motor pinjaman dari si bungsu adikku, kutunggu dia keluar dari seberang mulut gang. Aku bersembunyi agar tak terlihat dari tempatnya lewat. Begitu dia muncul, perlahan kuikuti kemana sepedanya mengarah. Menit demi menit, kucoba mengendalikan laju motorku sepelan mungkin. Sulit sekali. Stangnya yang sedikit miring membuatku nyaris menabrak kios rokok di pinggir jalan. Belum lagi hujan klakson para pengendara motor dan mobil membuatku gugup, nyaris membuatku terjun ke selokan. Empat puluh menit, akhirnya dia berhenti di sebuah sekolah. “SD Taman Harapan”, begitu terpampang nama papan  sekolah itu.

Aku sudah menghidupkan motorku, bersiap meninggalkan tempat itu, ketika seorang gadis kecil berseragam putih merah meraung-raung dituntun ibunya memasuki halaman sekolah. Jeritannya menggema, menarik perhatian murid-murid di dalam sekolah untuk berhamburan keluar. “Cup.. cup.. cup.. diam sayang, diam,” sang ibu membujuk lirih. Wajahnya berkerut-kerut, antara panik dan malu. Kedua orang itu kini dikerumuni murid-murid yang ingin tahu. Jerit sang gadis semakin menjadi.

Lalu dia muncul. Mantan bhiksu itu. Dengan langkah perlahan tapi pasti didatanginya mereka. Nampak dia berbicara dengan sang ibu, lalu membungkuk ke arah si pemberontak kecil. Entah apa yang dikatakannya, beberapa menit kemudian raungan gadis itu pun mereda. Bahkan kini tangannya lengket menggenggam tangan Pak Guru. Pandangannya bersemu malu dengan pipi berurai air mata. Kerumunan itu pun bubar. Aku cemburu.

Bayangan Pak Guru dan muridnya begitu lekat di kepalaku bermalam-malam kemudian. Ingin aku menjadi si cengeng yang meraung-raung itu. Ingin kudengar bujukannya untuk meredakan tangisku. Ingin kumenjadi samudera limpahan kasihnya, seperti saat aku kecil dulu dan hidup berkecukupan. Tapi..

“Tak baik melamun di depan jendela begitu, Tik. Ingat, angin malam itu jahat, lho!” tegur kakakku sambil menepuk punggungku. Hampir meloncat aku saking kagetnya.

“Ada apa? Berantem lagi dengan Budi, ya?” tanyanya. Aku hanya tertawa sambil menggeleng. Budi hanyalah satu dari sekian pemuda yang mendekatiku. Namun tak satu pun menarik minatku. Mereka terlalu biasa. Pikirannya mirip bocah.

“Kamu besok masih cuti, kan?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. “Ada apa, Mas?”
“Nyekar ke makam bapak ibu, dong. Sudah lama makam mereka nggak ditengok, dibersihkan,” katanya, “Aku besok lembur sampai malam.”

Aku mengangguk cepat. Bukan permintaan yang berat. Sejak kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan belasan tahun lalu, kakakkulah yang menjadi pengganti mereka. Dia rela melepas kuliahnya demi menghidupi kami, aku dan adikku. Kini si tiang keluarga itu semakin kurus dan tirus dalam ketuaan dan kesendiriannya. “Kapan kawin, Mas?” tanyaku menggoda. Dia melemparku dengan koran, sebelum menutup jendela.

Sore itu langit gelap, seperti mau turun hujan. Aku bergegas meninggalkan kantor, menerjang bus pertama yang lewat. Turun dari bus, tanpa banyak menoleh kiri-kanan, aku menyeberang. Tak kuduga sebuah motor nyelonong, menubrukku dari belakang. Aku terjungkal. Mukaku mencium kubangan air. Tas yang kupegang jatuh entah kemana. Isinya, sebagian kertas-kertas, berhamburan diterjang angin dan basah oleh air hujan. “Anda tak apa-apa, Nona?” tanya seseorang membantuku bangun. Tak seperti orang-orang yang hanya mengerumuniku, atau kendaraan lalu-lalang yang enggan memandangku, dia memunguti kertas-kertasku yang berceceran, memasukkannya ke dalam tas, lalu menyerahkannya kepadaku.

“Terimakasih,” kataku tanpa memandang ke arahnya. Rasa panik dan malu menderaku. Wajahku masih berlumuran tanah basah Pandanganku pun kabur. Sambil melap mukaku dengan tangan, aku berjalan tertatih mencari tempat berteduh. Hujan mulai turun, deras. Kerumunan bubar. Sementara pengendara motor yang menubrukku kabur entah ke mana. “Di sini saja, Nona. Anda bisa membersihkan tubuh sambil minum teh hangat,” buru-buru dia menarik tanganku. Mengajakku masuk sebuah warung makan sederhana, dan memesankan dua gelas teh manis.

Aku masih sibuk membersihkan wajahku dengan sapu tangan, sehingga abai memandang wajah penolongku. Aku hanya melihat tangannya yang menyodorkan segelas teh panas ke arahku. Teh yang segera kuraih, kuhirup satu dua teguk. Aroma Camellia sinensis mampu menenagkanku. Baru kusadar belum berterimakasih kepada penolongku. “Anda baik sekali. Siapa nama..,” kata-kataku segera hilang di ujung lidah begitu menyadari siapa yang menyodorkan teh tadi. Dia si mantan bhiksu itu, memandangku dengan tersenyum. Terus memandangku tanpa berkata-kata. Tiba-tiba rasa sakit kepalaku reda, diganti perasaan ringan luar biasa. Aku terbang.

Note. Pernah dimuat di kompas.com

Advertisements