Tags

,

Tak ada yang begitu besar mempengaruhi hidupku kecuali dia, sahabat masa kecilku. Saudah namanya, gadis berambut panjang sepinggang, dengan kaki kirinya pengkor karena polio. Namun cacat itu tak membunuh keceriaannya, tak menghalangi kebahagiaannya. Justru adat yang memasung geraknya di kemudian hari.

main

ini foto anak-anak pantai di ternate

Ketika pertama masuk sekolah dasar, aku amat pemalu. Sekolahku, sebuah pendidikan islam terbaik di kotaku. Jumlah murid perempuan lebih banyak dibanding lelaki. Aku, tak punya banyak teman, dan sulit bergaul. Pada saat itulah Saudah pertama menyapaku.

“Siapa namamu?” tanya gadis kecil itu berani. Matanya berbinar tajam. “Aku Saudah,” dia mengulurkan tangannya. Sejak saat itu, Saudah menjadi teman dan sahabat pertamaku.

Saudah adalah pusat hidupku sehari-hari, karena dia tahu apa yang kurasa dan kualami. Orangtuaku bukanlah keluarga miskin sangat, namun mereka sangat keras. Aku jarang mendapat uang saku untuk jajan di sekolah, tapi ibuku tak memberiku bekal makanan ketika aku berangkat sekolah. Jangankan bekal, sarapan saja aku tak pernah.

Derita laparku semakin menjadi ketika aku menginjak kelas tiga. Aku harus berjalan kaki pergi dan pulang sekolah, sementara jarak rumahku dan sekolah sekitar 3 km. Aku harus berangkat pagi sekali, pukul 5 lebih sedikit. Tanpa bekal, tanpa sarapan, juga tanpa uang saku. Kelaparan membuat tubuhku tumbuh kurus, dan sulit meninggi.

Beruntung aku punya sahabat Saudah. Pagi dari rumah yang kutuju pertama kali rumah Saudah. Rumah Saudah sangat dekat dengan sekolahku, hanya 10 meter saja dari gerbang sekolah. Rumahnya menghadap ke jalan besar, paling ujung jalan, lalu terpisah sebuah gang dengan sekolahku.

Orangtua Saudah bekerja sebagai penjual arang. Rumahnya nampak gelap, tertutup toko arang dari depan jalan. Biasanya aku langsung masuk lewat pintu samping toko, menembus gang sempit, gelap, dan kotor, lalu duduk di ruang tamu yang tak kalah kotor dan gelapnya. Kamar Saudah ada di lantai atas, dibatasi papan kayu dari bawah. Aku akan menunggu Saudah mandi, lalu ikut naik ke kamarnya.

Di kamarnya, hanya ada dua kasur telanjang tanpa sprei, dan beberapa bantal. Aku akan menunggunya berpakaian, merapikan rambut dan pupur pipi, lalu kami turun lewat tangga sempit. Di bawah, ibunya sudah menghidangkan dua gelas teh hangat dan terkadang makanan kecil, entah pisang goring atau jajan pasar.

Walau orangtuanya penjual arang, Saudah hidup berkecukupan. Lebih makmur dariku malah. Dia mendapatkan buku-buku terbaik dan baru, tas sekolah yang setiap tahun ajaran ganti. Seragam sekolahnya pun baru, juga sepatunya. Dan, uang sakunya sungguh melimpah. Berkali lipat lebih banyak dari uang saku teman-temanku.

Kondisinya sungguh berbeda denganku. Buku pelajaran kubeli dari toko buku bekas. Ibu tak akan membelikanku baju seragam kalau bagian leher bajuku tak koyak. Sepatu sekolahku selalu dibelikan dua nomor lebih besar agar tak cepat ganti.

Semua kemalangan itu tak membuatku kecil hati dan mencemburui Saudah. Dia sangat baik dan setia kawan. Ketika istirahat, dia selalu membelikanku segelas es sirop dan sepiring kecil bihun goring. Tatkala pulang sekolah dia masih menraktirku dengan semangkok bakso. Selalu begitu setiap hari, di saat aku tanpa uang saku.

Saudah tak pernah meminta imbalan apapun atas kebaikannya kepadaku. Dan aku takkan membiarkan sahabatku dihina orang karena cacatnya. Jadilah kami sepasang sahabat, mirip panci dan tutupnya, yang tak bisa dipisahkan kapanpun.

Walau aku nyaris selalu mendapat nilai terbaik di kelas saat itu, aku merasa tak pasti akan cita-citaku. Hingga suatu hari Saudah memamerkan tas barunya.

“Hadiah dari majalah Bobo. Karanganku dimuat di Bobo,” pamernya bangga.

Tas barunya membuatku iri setengah mati. Sejak saat itu aku rajin menulis dan mengarang seperti Saudah. Mulanya hanya puisi-puisi pendek berisi curahan hati, lalu cerita anak. Siapa nyana kelak menjadi penulis adalah pilihan hidupku.

Aku teringat saat-saat terakhir kami di sekolah. Lagi-lagi aku masuk jajaran terbaik. Melanjutkan ke SMP negeri favorit sudah di depan mata. Sementara Saudah nampak sendu di acara perpisahan kami.

“Aku tak bisa sekolah lagi, Ri. Mak menjodohkanku dengan seorang lelaki,” bisiknya hampir menangis.

Saudah belum genap 13 tahun, masih gadis kecil. Namun tradisi dalam sukunya, Orang Madura, mengharuskan anak gadis yang sudah mengalami menstruasi untuk segera kawin. Tanpa itu, mereka akan merasa malu. Mirip aib. Sulit bagi Saudah melawan tradisi ini. Apalagi keluarganya bukan kelompok intelektual. Mak bapaknya dulu pun kawin muda.

Aku masih sempat bertemu Saudah dua tahun kemudian, saat melewati depan rumahnya. Dia sedang menggendong seorang anak, belum genap setahun umurnya. “Ini anakku,” ada nada bangga sekaligus pilu dalam suaranya. “Aku bangga melihatmu, Ri. Bangga. Kau sekolah yang tinggi. Semoga anakku nanti bisa sepertimu.” Matanya saat mengucapkan kata itu berbinar, sama binarnya dengan saat dia memperkenalkan dirinya di awal kami masuk SD dulu.

Note.

versi inggrisnya : Saudah

juga dimuat di http://baltyra.com/2011/07/05/saudah/

Advertisements