Tags

,


sandal

Penjaga sandal di sebuah surau di Kebun Sayur, Balikpapan

Saya memberikan sebuah tugas -satu-satunya tugas malah- yang mungkin kurang menarik, dalam pelatihan menulis narasi perjalanan 24 Februari. lalu. Saya pampangkan sebuah foto, tentang lelaki penjaga sandal di sebuah musholla yang berdiri tepat di depan pusat perbelanjaan rakyat Kebun Sayur, Balikpapan. Ini foto lama, sisa perjalanan tahun 2003. Saya minta peserta untuk menuliskan dengan gaya bertutur, kesannya tentang foto tersebut.

Tujuan saya hanya memancing, sejauh mana imajinasi seseorang berkembang hanya dengan melihat sebuah foto. Dalam perjalanan, para pejalan akan melihat jutaan gambar yang bergerak. Sebagian kecil gambar itu diabadikan dalam bentuk foto dan video. Detil ingatan manusia itu terbatas, walau kapasitas otak menyimpan ingatan mungkin lebih dari kemampuan harddisk 1000GB.

Ingatan akan gambar tertentu yang kuat, biasanya dipicu oleh emosi, pengalaman merasakan, dan ketertarikan mendalami. Gambar yang menggugah imajinasi juga akan tersimpan lama dalam ingatan. Masalahnya, sejauh mana kita mampu mengelola imajinasi kita selama ini?

Penulis narasi seperti Marguerite Yourcenar, amat kuat daya imajinasi sekaligus studi literaturnya. Memadukan data yang akurat dan imajinasi, akan menghasilkan karya yang kerap tak bisa dibayangkan. Itu motivasi saya menuang foto seperti terpampang di halaman muka. Saya kemudian meminta peserta untuk menulis 2-3 kalimat ala artikel yang mencerminkan imajinasi mereka tentang foto tersebut. :

Berikut hasil penulisan beberapa peserta (kalimat sudah saya edit):

1. Peci bapak ini berwarna merah, mengingatkan saya kepada lampu yang menyala di sepanjang gang di sini. Wajarlah tempat ini diberi nama Gang Merah. Sehati dengan gang tempat di mana ekspatriat tinggal di daerah ini.

Masjid bapak ini tinggal adalah satu-satunya masjid di tempat in. Menjadi minoritas muslim memang sesuatu yang jarang kita temukan di negeri ini. Tapi inilah yang terjadi di ujung gang ini. (wanadarma@gmail.com)

Saya suka pengandaian dan imajinasi penulisnya, dituntun oleh warna merah peci orang di dalam foto.

2.Kehadirannya sudah biasa. Seminggu ini bapak berpeci merah itu berdiam diri di situ. Menyepi di gerbang pasar. Tak ada yang memperhatikannya. Tetapiwajah orang-orang tak pernah bisa menolak untuk meliriknya ketika lewat di depannya, terutama pada papan gantung yang menutupi seluruh wajahnya.

Oh, meminta sedekah. Seketika itu pula kehadirannya seolah tak seharusnya mendapat perhatian. Buang-buang waktu.

Aku tak sengaja melirik lagi ke arah bapak tua itu. Maulid nabi kan hari ini, hari libur. Kupandang wajahnya yang seolah menangkap mataku. Pandanganku turun ke arah kedua tangannya yang menengadah penuh doa. Kesempatan terakhir, pikirku. Kutaru selembar lima ribu di bawah papan. Yang bagaikan pintu menuju kebaikan. Aku berlalu tanpa memikirkan apakah uangku akan sampai pada anak yatim, apakah amalku bertambah dalam catatan Tuhan seperti yang tertera di papan persegi itu.

Aku kasihan pada bapak tua itu dan kagum pada kenekatannya menahan malu. Kuraba perasaanku dan berlalu. (ly.freshty@gmail.com)

Wah, dia salah satu peserta yang mampu menangkap maksud saya menyajikan foto ini. Mengubah gambar menjadi narasi. Walau tak menyajikan imajinasi baru, dia mampu mengungkapkan gaya sarkastis. Kekaguman pada bapak tua yang nekat menahan malu.

3. Pria itu terduduk di sudut Kebun Sayur. Memeluk kotak kayu yang dimakan usia, setua raut wajah si pria. Kedua tangannya membuka, menghadap langit, seolah berharap secercah harapan menyelinap ke kotaknya.

“Sumbangan untuk Maulid Nabi 1424 Hijriah.”Demikian tertulis pada tripleks yang tergantung di depan kotak. Baris berikutnya berisikan seujud doa untuk orang-orang yang sudi berhenti, dan memberi logam berharga bila si pria tak beruntung, lembaran berwarna bila ia lebih beruntung. Namun ia terus menunggu, tak peduli kotak itu kosong atau berisi.

Peci merah di kepala si pria terlihat kokoh. Harta tunggal bersama dengan seragam hijau yang tergantung di paku. Mungkinkah ia veteran? Yang terlunta dalam modernisasi kota?Mungkinkah ia sekedar memungut seragam pejabat? Untuk merasakan kemewahan sejenak di hidupnya?

Pria tua tak bernama yang terduduk di Kebun Sayur. Mulutnya terkunci menunggu harapan hingga ia membuka kunci kotaknya dan menghitung materi untuk esok hari. (vassilisa.agata@live.com)

Lagi, satu peserta yang menangkap maksud penyajian saya dalam foto ini. Gayanya realis, dengan sedikit pertanyaan.

4. Panas dan peluh tak dirasakan oleh bapak tua penjaga kotak amal. Kotak amal yang diharapkan akan bisa memberikan sumbangsih pada perayaan maulid nabi 1424 H. Untuk menggugah orang-orang yang kebetulan lewat, agar menyedekahkan uangnya ke dalam kotak amal itu, dia menuliskan doa sederhana.

Sampai siang pun tak banyak orang yang menyedekahkan sebagian uangnya. Mereka hanya sekedar lewat tanpa mempedulikan apa yang ada di depannya.

Bapak itu tetap tidak putus asa. Dia masih setia menunggu uluran tangan penderma. Berharap perayaan Maulid ini akan meriah, dan tak hanya itu saja. Uang yang dari kotak amal itu akan bisa mmbantu anak yatim dan juga Bilal Basran yang sedang terkulai karena penyakitnya. (verena.mumtaz@yahoo.com)

Lagi, gaya realis dalam narasi. Mengisahkan apa yang tergambar dengan detil.

5. Bilal Bsran kembali menengadahkan tangannya. Beberapa saat lalu dia terlihat sedikit memijat lengannya. Mungkin pegal. Sorot matanya di arahkan ke kanan dan kiri bergantian, mengikuti langkah kaki mereka yang berbelanja di Pasar Kebun Sayur, Balikpapan.

Sudah beberapa hari kotak kayu di depannya kosong. Hujan membuat orang pelit berderma, pikirnya. Mereka memilih cepat berjalan menuju los tujuan, lalu segera pulang tanpa memperhatikannya. Tulisan yang kemarin dia tebali dengan arang tampaknya tak berguna. Sesekali sambil membenahi baju yang dia gantung pada paku tak bertuan, dia melirik papan wasiatnya itu. Tulisannya masih utuh dan tidak luntur.

“Sumbangan untuk maulid nabi 1424 Hijriah. Mudahmudahan amal ibadah Anda diterima Yang Maha Kuasa. Dan untuk anak-anak yatim piatu dan untuk Bilal basran. Amin”

Tidak ada yang kurang, pikirnya. Kotak sumbangan dan papan wasiatnya masih menunjukkan performa prima. Dia hanya kurang beruntung lagi hari ini.  (fayzahiqmah@gmail.com)

Peserta tampak bersungguh-sungguh, menulis dengan hati. Tak sekedar narasi, tapi mirip fiksi yang menyentuh hati pembaca.

Note. Sisa tulisan akan saya muat di edisi berikutnya.