Tags


kbsayurGara-gara kertas tugas peserta ketumpahan wedang kopi, saya kembali memeriksa dan membaca hasil pelatihan menulis narasi bulan kemarin. Sebelum kertas-kertas itu rusak dan tak terbaca, tentunya.

Ada 11 kertas yang dikumpulkan, yang 5 sudah saya tuliskan hasilnya minggu lalu. Sisanya, saya anggap berat sehingga saya baca dan apresiasikan belakangan. Disambi dengan nyicil tulisan SE Asia Journey yang seabreg bahannya.

Berikut, tafsiran seorang peserta (shofiyatun@gmail.com) yang banyak saya sunting isinya. Shofi menggunakan banyak kalimat yang membingungkan, tak beraturan (mirip ditulis cepat-cepat tanpa banyak berpikir). Gagasan narasinya lumayan, membandingkan lelaki dalam gambar dengan bapaknya, atau lelaki peminta amal di jalan-jalan seputar pantura dan Madura.

Melihat bapak yang berada di depan kotak amal untuk kegiatan Maulid Nabi mengingatkan saya akan bapak di rumah. Perawakan kulit gelap serta urat-urat yang menonjol di raut wajah menandakan kerasnya kehidupan yang beliau jalani. Kalau bapak saya menghabiskan masa tuanya dengan bermain-main dengan cucu, bapak ini lebih memilih menghabiskan waktu dengan beribadah atau pengajian.

Mungkin di daerah Kebun Sayur ini, orang terbiasa mencari amal di pasar, tempat banyak orang berbelanja. Kotak amalnya berbentuk kayu kotak yang digembok, dengan sebuah lubang di atasnya. Sungguh berbeda dengan di Jawa, terutama daerah sekitar tapal kuda hingga Madura, orang mencari amal di jalan-jalan. Bapak-bapak dilengkapi speaker di pinggir jalan, bersuara mengetuk pejalan untuk menyumbang. Bapak ini disertai dua tiga pemuda yang bertugas memungut uang yang dilemparkan pengendara motor atau mobil d jalan.

Lain lagi tulisan istiviani1906@gmail.com Ia lebih suka mendeskripsikan ciri-ciri fisik si lelaki dalam foto.

Berdoa dan mengharap. Kulitnya coklat, berpeci merah maroon bermotif. Tangannya menengadah tetapi mulutnya terkunci. Matanya tak lelah mengikuti gerak setiap pejalan kaki yang melintas di depannya. Mengharap:

“Sumbangan untuk Maulid Nabi 1434 Hijriah. Mudah-mudahan amal ibadah Anda di terima yang kuasa dan untuk anak-anak yatim piatu dan untuk Bilal Basran minum.”

Papan di depannya didampingi kotak amal. Walau tatabahasanya kacau namun setiap pejalan kaki tahu apa maksudnya. Tidak banyak yang peduli, namun tidak sedikit yang acuh. Sembari mengucapkan ‘terimakasih’ kepada penderma, tatapan matanya memelas.

Sedang dr.dr3e@gmailcom lebih menuliskan komentarnya tentang foto, bukan menggambarkannya lewat narasi. Jadi saya akan mencoba menarasikan komentarnya tadi (prinsip saya, jika pesan tidak tersampaikan, yang salah adalah si penyampai pesan :D)

Aku tersentuh. Bapak itu peduli pada anak yatim piatu. Memakai peci merah, dia berdiri di balik papan yang bertuliskan “Sumbangan untuk anak yatim piatu, mudah-mudahan amal ibadah Anda diterima.”

Matanya berbunga-banya, membayangkan anak-anak yang berlarian. Dia berbisik, “Budi, Tono, Ani..” sambil mengangkat tangannya, memanjatkan doa.

Apa yang dituliskan mumun@indohoy.com mencerminkan perasaan banyak orang di negeri ini. Kemurahan hatinya, bikin orang tersenyum.

Sumbangan lagi. Rasanya negeri ini tidak habis-habisnya minta sumbangan. ‘Obvous coice’, cuekin aja. Toh masih banyak sumbangan lain yang akan saya jumpai di jalan. Namun saya berhenti juga, terdorong rasa penasaran akan tulisan di papan kayu itu.

Saya membacanya berulangkali. Bapak di balik papan tampak bingung melihat saya. Saya keluarkan uang seribu rupiah, menahannya dalam genggaman. Saya buat keputusan. Kali ini saya menyumbang. ‘It’s a great deal!”

Saya masukkan uang itu ke dalam kotak dan tersenyum. Lalu berjalan menjauhi bapak itu. Lumayan! Kali ini saya menyumbang untuk tiga tujuan: Maulid Nabi, anak yatim piatu, dan bilal basran minum.

Si nuran.wibisono@gmail.com menuliskan kesannya tentang foto itu. Jadi kembali saya menarasikan kesannya tadi, menjadi sebagai berikut:

Masih saja ada orang yang menjual agama di negeri ini. Kali ini si bapak tua di depan surau itu. Mengatasnamakan kemiskinan yang dideritanya, terang-terangan dia meminta sumbangan bagi hidupnya, mengatasnamakan Maulid Nabi yang bakal dirayakan sebentar lagi. Padahal kutahu pasti, uang sumbangan orang-orang yang jatuh iba bakal sepenuh-penuhnya masuk kantongnya. Bikin muak saja!

Tak urung, kupuji bapak itu. Cerdas! Mengulur sumbangan di depan pasar. Kebun Sayur pula! Tempat ribuan orang, baik lokal maupun wisatawan setiap hari tumpah ruah berbelanja di sini. Kebun Sayur itu mirip Malioboro di Jogja, atau Sukawati di Denpasar. Semua model barang ada, terjangkau harganya. Kurasa setelah berbelanja puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan, menyumbang seribu dua ribu rupiah buat si bapak, bukan hal berat.

Semoga terjemahan saya akan kesan yang ditangkapnya dalam foto benar. 😀

Narasi terakhir milik ayospe@gmail.com yang tidak menghakimi. Hanya sekedar narasi.

Bapak berpeci merah itu barangkali sudah berhari-hari duduk di pojok Jalan A. Tubuhnya meringkuk di balik sebuah kotak kayu hijau tua. Pada salah satu sisinya bertuliskan permohonan sumbangan. Entah untuk apa.

Jalan A, memang tempat yang strategis untuk meminta sumbangan. Banyak orang berlalu-lalang. Anak-anak pergi ke sekolah, pedagang menuju Pasar Induk, dan para pria yang sekedar nongkrong di lapo untuk minum kopi.

Namun banyaknya orang melintas tak selalu membawa nasib mujur. Bapak berpeci merah masih saja menekuk muka. Senyum alfa dari wajahnya. Barangkali ia akan tetap tinggal di ujung Jalan A untuk meminta sumbangan beberapa hari lagi.

Bagi saya pribadi, tak ada narasi yang paling benar atau paling salah. Narasi membebaskan kita menggambarkan sesuatu, entak ciri-ciri fisik, emosi yang kita rasakan akan sebuah peristiwa, atau apapun, sesuka dan segemar kita. Tak ada batasan. Seperti lukisan, kita bebas menggunakan satu atau banyak warna, sebagai ekspresi dan membuat orang memahami ekspresi kita itu.

Hanya, dari foto pancingan, saya melihat banyak orang membaca foto sebagai apa yang tersurat, fakta yang tampak, belum maksimal menggunakan daya khayalnya. Begitu pula saat menuliskan kisah perjalanan, semata tentang penginapan, tansportasi, makanan, yang indah-indah, belum masuk ke imajinasi berabad lalu atau bertahun mendatang.

Salam narasi,

AA