Tags

,


panorama: apik, penginapan: Rp250.000 ke atas, makanan: banyak warung dan harga terjangkau, fasilitas: susah kakus umum, retribusi: banyak makelar dan ‘scam’

“Saya mulai jualan di Watu Ulo pada 1975. Waktu itu saya dagang di pantai depan sana. Jalan setapak hanya sampai sana, belum sampai di sini. Bagian tanjung ini masih berupa hutan dan batu-batuan yang susah dilewati. Dari desa tempat saya tinggal di Banyuwangi, saya bawa ubi rebus, jagung rebus, kacang rebus. Tiga butir ubijalar rebus saya jual lima rupiah. Laris. Sering orang datang jalan-jalan ke Watu Ulo, lalu memborong dagangan saya.”

papu3

dari atas bukit

Juri mengusap mulutnya. Secangkir kopi yang masih mengepul terhidang di mejanya. Aku dan saudara lelakiku duduk berhadapan dengannya. Juri, lelaki berumur sekitar 60 tahun yang empunya warung makan ini, sedang menjamu kami. Memberi kami tumpangan menginap sekedarnya di warungnya. Mobil kami mogok, pompa air di mobil bocor. Terpaksa kami menunggu kebaikan montir untuk mengganti onderdil mobil, menghabiskan semalam lagi di pantai ini. Karena enggan menyewa kamar penginapan yang harganya selangit –paling murah Rp 250.000- kami pun menumpang di warung Juri.

“Dulu saya ini buruh tani. Kerja saya menggarap sawah orang-orang di desa. Ketika menikah dan punya anak, saya rasakan hidup kok susah terus. Akhirnya saya jualan makanan di Watu Ulo. Lumayan hasilnya. Bahkan di tahun 80-an Watu Ulo ramai sekali. Saya pun rela pulang pergi dari Banyuwangi ke Watu Ulo setiap hari, naik kendaraan umum, kadang menumpang truk, untuk berjualan.”

Ketika dagangannya laris, maka menetaplah Juri di desa sekitar Watu Ulo. Namun dia hanya mengontrak rumah. Juri sendiri mengaku baru dapat membeli tanah dan membangun rumahnya setahun lalu. “Saya bayar lima belas juta, dapat tanah ukuran 400 meter persegi di kampung sana.” Murah sekali tanah di sekitar Watu Ulo, pikirku.

ppu2

mobil yang mogok

Aku pernah punya paman yang bekerja di sebuah perkebunan milik PTP di Jember puluhan tahun lalu. Dia sopir perkebunan. Rumahnya di Kalisanen. Setiap kali keluargaku berkunjung ke rumahnya, dia selalu membawa kami ke Watu Ulo untuk bertamasya. Kami naik mobil kantor yang disopirinya. Berangkat pagi-pagi sekali, pulang jelang sore hari. Watu Ulo dalam kenangan kami adalah pantai yang sunyi. Tak ada warung permanen, tak banyak penjual makanan. Adanya satu dua pedagang mirip Juri tempo dulu. Tak ada kakus dan kamar mandi umum, bahkan tak ada penginapan. Mobil bebas keluar masuk kawasan pantai itu. Tak ada bea retribusi, apalagi ongkos parkir.

“Kenapa tempat ini sekarang disebut Papuma Pak?” Saudara lelakiku tak mampu menahan rasa penasaran. Kami sekeluarga mengenalnya sebagai Watu Ulo –batu ular- berpuluh tahun sebelumnya. Nama Papuma baru kami dengar belakangan ini.

“Oo.. papuma itu kan singkatan saja. Pasir putih malikan, karena tanjung ini tak punya jalan lurus. Kalau kamu lewat terus, akhirnya balik lagi ke jalan masuk tadi.” Juri tertawa, memamerkan giginya yang tersisa satu dua. Anak bungsunya dari istri ‘sambung’, perempuan umur tiga tahun yang lebih pantas jadi cucunya, bermain-main tak jauh darinya.

“Banyak cerita tentang tempat ini. Nama watu ulo misalnya, karena watu gugur yang dekat pos perhutani saat kamu masuk sini, dulunya dipenuhi ular. Ular yang macam-macam jenisnya, ada kobra, ular hijau, dan banyak lagi. Namanya juga hutan wingit, dihuni banyak dedemit.”

papu1

Lagi-lagi anganku melayang. Pada ribuan ular kobra yang dilepaskan ke Taman Nasional Baluran dua tahun lalu. Entah dari mana ular-ular itu ditangkap. Mungkin ada beberapa yang berasal dari Watu Ulo. Ular-ular yang kehilangan habitat aslinya karena pongahnya pembangunan dan pengembangan wisata, kini dirumahkan di hutan-hutan tersisa tanah jawa ujung timur.

“Untungnya tempat ini sekarang ramai. Sudah terkenal. Tapi sayang penginapan di sini muaahal, ya Pak,” keluhku, ingat pengalaman semalam tatkala mencoba mencari penginapan.. “Toilet umum juga susah didapat kalau malam. Mesti nunggu siang dulu, saat banyak pengunjung masuk.” Anak saudara lelakiku, gadis remaja, susah cari kakus tadi. Semua yang mengaku toilet, hanya berupa pancuran bilas bagi mereka yang baru mandi laut.

Sebetulnya banyak hal yang ingin kukeluhkan. Memang ada beberapa penginapan di sini, semua dikelola bekerjasama dengan pihak perum perhutani unit II Jatim. Tanah hutan di pantai ini memang milik perhutani.  Bahkan, pemilik warung-warung permanen yang berada di sepanjang pantai adalah mitra dari perhutani, dimana pemilik warung bekerjasama dengan pihak perhutani untuk menjaga kelestarian pantai sekaligus menunjang program perhutani.

ppu3

juri dan anaknya

Itu sebabnya pemilik warung atau penduduk yang menjadi pelaku wisata di kawasan wisata Papuma tak boleh menebang pohon sembarangan. Bahkan sebuah pohon kelapa yang sudah mati di samping warung Juri tak boleh ditebang, takut jatuhnya akan merusak tanaman setempat.

Penginapan yang tak seberapa jumlahnya ini, baik yang menawarkan kamar hingga pondok inap mirip ‘guest house’ yang dilengkapi dapur dan  dua kamar tidur, harganya selangit dan berubah-ubah sesuai selera pemiliknya. Pihak perhutani misalnya, mengatakan harga per kamar Rp200.000 saat booking. Ketika hendak membayar di kasir, tiba-tiba harganya melonjak menjadi Rp 250.000. Begitu juga harga guet house yang minimal Rp 350.000. Kesan penginapan di sini jadi sangat mahal dan eksklusif. Malah mirip aji mumpung, karena fasilitas di kamar hanya AC dan kamar mandi dalam. Tak lebih.

Bagaimana dengan nasib mereka yang berkocek dangkal? Kalau tebal muka dan berkulit badak, dapat saja tidur di gazebo mirip pondok kayu tanpa dinding dengan atap genting yang bertaburan di sepanjang pantai. Atau, membawa tenda sendiri ala anak-anak yang kemping itu. Semalam, aku dan saudara-saudaraku kebetulan membawa dua tenda. Entah karena petugas tahu kami tak jadi menyewa penginapan, atau saat itu sedang liburan, dia menarik kami Rp 2.500 per orang untuk ongkos bermalam di dalam tenda kami sendiri. Padahal saat di gerbang pintu masuk, dua kali kami kena palak. Bayar retribusi Rp 12.500 per orang dengan alasan bea masuk Watu Ulo, dan Rp 7.500 per orang untuk masuk Tanjung Papuma. Padahal baik Watu Ulo dan Tanjung Papuma ala mereka itu masih satu kawasan. Mirip mau ke Pantai Parangkusumo dan ParangTritis, atau lanjut ke Parang Endog. Aneh-aneh saja cara dinas pariwisata mencari uang di sini.

Tentu saja aku terbahak, saat kerabatku yang lain muntah cacian. Jadi ingat kawasan wisata Parangkusumo dan teman-temannya, juga kawasan pantai di Gunung Kidul seperti Sundak-Krakal-Kukup, hingga sekitar Sawarna-Malingping di pantai barat Jawa bagian selatan. Karena, dibanding pantai-pantai lainnya, tarikan retribusi Papuma paling aneh, paling mahal, dan mental makelaran petugas wisatanya masih kuat. Seolah pengunjung –yang mayoritas bermobil karena terpaksa, tak ada angkutan umum langsung- seolah ikan menggiurkan yang harus digoreng sampai garing dan bebas minyak.

“Saya akui di sini banyak yang licik. Kalau lihat pengunjung bermobil seperti sampeyan, mesti dikira orang kaya. Makanya mau nginap di losmen pun harganya dinaikkan, masuk ke pantai kena bayar mahal.” Wajah Juri berkedut-kedut, tanda prihatin.

Mungkin karena bermobil pula, dan kami datang berbanyak orang, berkali makelar mendatangi saudaraku. “Pak, mau naik kapal ke Nusa Barong? Murah saja. Dua setengah juta buat lima orang. Pagi berangkat, jelang sore sudah sampai di sini lagi.” Bahkan, saat salah satu mobil yang kami bawa mogok, makelar pun datang menawari bantuan. Makelar A memanggil makelar B, makelar B memanggil montir yang sesungguhnya. Masing-masing makelar minta uang tips. Begitulah.

Soal monopoli penginapan oleh pihak perhutani dan pemodal setempat, Juri hanya berkomentar ringan. “Orang di sini takut kalau banyak penginapan murah dan asal-asalan, kawasan wisata di sini akan jadi semacam tempat orang nakal.” Mungkin maksudnya tempat prostitusi. Kawasan wisata pantai menjadi tameng prostitusi terselubung kerap kujumpai di Pantai Samas, Parangkusumo, bahkan Sawarna dan Malingping. Tapi kalau niatnya memang kelon, datang saja di pantai malam-malam, mencari tempat agak tertutup, maka jadilah. Apakah dengan standar penginapan Rp250.000 ke atas akan mengurungkan niat orang berbuat maksiat? Kuragukan!

“Saya pernah ngamuk sama pemuda setempat yang jaga pantai. Waktu itu tamu saya, yang sedang makan di sini, kebetulan mau kencing. Jadi saya persilakan kencing di tempat saya di belakang. Lalu saya kena marah. Ya saya marahin ganti. Susah memang. Pemilik warung di sini tak boleh membangun kamar mandi, semua harus ke toilet umum. Takut toiletnya nggak laku. Padahal kalau di Bali sana, sudah umum pemilik warung, rumah makan, punya toilet sendiri.” Juri sempat bekerja di Bali. Itu sebabnya warungnya diberi nama ‘Rumah Makan Ketapang Jimbaran’.

Harga makanan di warung sekitar menurutku wajar saja. Kami pesan ikan kerapu campur kakap merah satu kilogram, minta dimasakkan plus sambal dan lalapan, serta nasi untuk 5-6 orang, dan minuman kelapa muda, mesti bayar sekitar Rp100.000. Gurita bakar yang sudah dimasak sekilonya Rp65.000. Jadi memang tak mahal. Tak seperti pihak perhutani yang mengelola penginapan, jasa makanan yang dipegang penduduk setempat masih mengindahkan kaidah kemanusiaan. Tak semena-mena menaikkan harga. Itu yang kusuka. Pemilik warung makan mendapatkan ikan-ikan ini langsung dari nelayan yang pulang melaut. Beragam ikan hari itu kulihat. Mulai kakap merah, kerapu, gurita, dan sotong.

Ketika malam menjelang dan Juri beserta istrinya hendak pulang, dia mempersilakan kami berempat untuk menggunakan toilet sementaranya di belakang warung. Juga ember yang menyediakan air lewat selang yang dihubungkan mata air untuk berwudlu atau cuci muka. Bahkan Juri menyediakan dapurnya untuk tidur. Ada kompor gas dan kopi sasetan di sana, membebaskan kami memasak mi instan atau membuat kopi. Keramahan ala penduduk desa masih bertahan di sini, setidaknya di warung Juri.

Malam itu aku dan kerabat lebih memilih tidur di udara terbuka. Pada bangku-bangku dan meja yang disatukan di depan warung. Memang tak ada gangguan sama sekali. Tak ada orang mabuk atau pencuri. Hanya sesekali mirip benda jatuh atau hujan lokal menimpa atap seng. Pertanda kera-kera liar sedang membuang hajat dari atas pohon.

Papuma bukannya mudah dijangkau. Tak ada angkutan umum langsung menuju tempat ini. Bus atau L-300t hanya sampai Ambulu. Untuk menuju Papuma, orang harus menyewa ojek dengan ongkos Rp30.000 sekali jalan. Itu sebabnya banyak pengunjung yang datang dengan naik motor atau bermobil. Andai berombongan, mereka lebih memilih naik travel dari Jember. Jadi wisata ke Papuma tak dapat dikatakan murah. Namun di musim liburan, kawasan pantai ini penuh dengan mobil, motor, dan anak-anak yang berkemah. Tenda mudah dijumpai di wilayah pantai paling ujung dan sepi. Harusnya, pengelola pariwisata di sini lebih ramah, bukan cuma alamnya yang ramah.