Tags

,


Kami berkendara membelah siang yang mendung, menunggu hujan datang berkepal-kepal, menuju kawasan Probosuman. “Kita mau ke rumah warok tua. Namanya Pak Kardjo. Mungkin kita bisa menanyakan sesuatu kepadanya.”  Sugeng Hariadi, ipar kawan ini, tampak optimis.

topeng singa barong dan paman kawanku

topeng singa barong dan ipar kawanku

Hari itu tepat digelar Festival Reog Ponorogo bersamaan dengan perayaan Malam Satu Suro di alun-alun. Festival pada Suro selalu meriah, mirip hajatan rakyat. Selain diikuti puluhan grup reog dari berbagai kota, juga ada pawai keliling kota. Alun-alun selama beberapa hari terlihat padat saat malam, mirip perayaan Sekaten di Jogja saja. Ribuan orang berduyun datang ke Ponorogo, banyak di antaranya dari desa dan dusun sekitar. Tumpangan seperti prahoto dan pick up, ramai memasuki kota.

Aku sendiri sengaja datang memenuhi undangan kawanku. Rui, kawanku yang penulis novel detektif itu, merasa perlu memperkenalkan kota masa kininya kepadaku. Dia memutuskan tinggal di Ponorogo setelah menikah, meninggalkan kota kelahirannya Jogja yang nyeni dan berbau sastra itu.

“Ada yang unik dari Ponorogo. Sesuatu yang berbeda dari Jogja. Memang lebih kecil, lebih sunyi, tapi juga lebih nyaman dan inspiratif.” Begitu pernah didengungkannya via SMS.

Apa yang unik itu, pikirku. Masjid tua yang jadi salah satu latar film ‘Negeri 5 Menara’? Pondok Gontor? Nafas islami yang kental? Atau.. kesenian reog Ponorogo yang menasional itu? Jadi aku datang ke kota para warok ini, setelah menempuh perjalanan 5 jam dengan bus dari kotaku, menyongsong siang yang terik. Sudah berbulan-bulan Ponorogo tidak diguyur hujan. Sepanjang jalan kulihat sawah meranggas. Musim tanam padi tampaknya molor. Petani resah. Lagi-lagi hujan salah mangsa.

“Tapi hujan pasti datang saat perayaan malam 1 Suro. Selalu begitu.” Baik Rui maupun suaminya yang asli Ponorogo itu yakin. Lalu kubuktikan hari ini, usai mengunjungi si warok tua di Probosuman. Hujan mengguyur sepanjang pawai hingga malamnya. Kadang hanya gerimis cepat kadang benar tercurah. Berkepal-kepal. Udara yang gerah mendadak menjadi sejuk dan segar.

kardjo si warok tua

kardjo si warok tua

Dalam imajinasiku, warok adalah sosok maskulin yang gagah sekaligus menyeramkan. Yang jantan namun ’emoh wedokan’. Itu sebabnya warok suka ‘nggemblak’, karena tak menyentuh perempuan. Wajahnya yang dipenuhi cambang hitam lebat, suaranya yang menggelegar, dan kemampuan fisiknya yang mampu mengangkat topeng singa barong plus dada merak seberat 50-60 kilo dengan giginya itu, kerap membuatku takut sekaligus takjub. Di masa kecil, jika aku rewel, bapakku akan menakut-nakuti, “Tak kekno warok lho nek nangis terus. Kuberikan kau kepada warok jika terus menangis.” Maka akupun terkesiap. Diam penuh kengerian. Tapi itu dulu.

Di depan sebuah rumah tembok bergaya lama, dengan halaman cukup luas, dan tumpukan jerami menggunung di luar, kami menunggu Mbah Kardjo. Seorang lelaki muda menyambut kami, anak si warok. Tak berapa lama keluar lelaki itu, berperawakan kecil, tingginya sekitar 1,5 meter, wajahnya mulus tanpa cambang, dan tampak pemalu. Dia takkan bicara tanpa ditanya, dalam bahasa Jawa halus tentunya. Ucapannya patah-patah, namun kurasa daya pikirnya masih tajam walau umurnya sudah lebih 80 tahun.

“Saya jadi warok sejak umur 16 tahun. Ikut-ikutan kesenian reog di desa,” akunya. Tak banyak dia berkisah tentang rasa dan pengalaman sebagai warok. “Ya begitu itu. Ada pantangan yang harus saya jalani dalam menuntut kesaktian.” Tapi sakti macam apa tak dijelaskannya. Ilmu seperti apa juga tak dikisahkannya.

Dari Sugeng yang guru kesenian  SMU 2 sekaligus pernah melatih grup reog siswanya,  kutahu warok yang kini dimunculkan dalam kesenian reog atau yang ada di masyarakat umum lebih berkiblat sebagai warokan.

Apa itu warok? “Warok itu orang yang berilmu,” jelasnya.

Berasal dari kata ‘wewarah’ atau orang yang mampu  memberi tuntunan, pengajaran perihal hidup yang baik kepada sesama, berarti warok memang orang yang mumpuni.. Mungkin ini ada kaitannya dengan sejarah, khususnya sejarah Majapahit abad ke-15. Waktu itu Ki Ageng Kutu yang menjadi penguasa Wengker banyak mendirikan padepokan yang mengajarkan ilmu kanuragan. Tujuannya  mencetak pemuda-pemuda sakti mandraguna.

Ketika Ki Ageng Kutu dikalahkan oleh utusan Majapahit, Raden Bethoro Katong yang kemudian menjadi Bupati pertama Ponorogo, maka para murid dan pengikutnya dihimpun menjadi manggala negeri yang bertujuan mempertahankan bumi Ponorogo. Para manggala negeri ini kemudian disebut warok, yang memiliki sifat ksatria seperti berbudi luhur, jujur, bertanggung jawab, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, suka bekerja keras tanpa pamrih, adil dan tegas, banyak ilmu, dan tentu saja sakti mandraguna.

Selain warok, muncul pula istilah warokan. “Warokan itu  ksatria yang menyalahgunakan wewenang dan tingkah laku,” tegas Sugeng. Namun kemudian istilah warokan lebih mengacu pada warok ethok-ethok, seperti sosok warok yang hanya muncul dalam unit kesenian, reog di desa-desa, atau penduduk kota yang tiba-tiba mengenakan seragam tradisional hitam-hitam menyambut festival reog hari ini.

Di ruang tamu Kardjo, aku mengharapkan kisah fantastis seperti bagaimana dia menjalani tapabrata untuk mencapai kesaktiannya, pengalamannya sebagai warok, termasuk kisahnya memelihara gemblak. Bukan rahasia lagi jika ketika sedang mencari kesaktian, seorang warok akan puasa perempuan, dan menuntaskan hasratnya kepada bocah lelaki cantik yang sengaja dipeliharanya dan disebut gemblak. Namun, semua harapanku musnah. Warok tua itu senyap, mungkin terlalu pemalu, mungkin juga sangat rendah hati.

Dia baru tergerak saat dipancing paman kawanku untuk mengeluarkan topeng singa barong miliknya. Dia pun menuju rumah samping, mengambil topeng ini. Ketika seorang warok menarikan singa barong, dia akan mengenakan topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.

Topeng miliknya tanpa mahkota bulu burung merak. Semata hanya caplokan, yaitu kepala harimau yang dibuat dari kerangka kayu, bambu, trotan, sebelum ditutup kulit harimau Gembong. Yang membuatku tertegun, selain berat –kutaksir sekitar 30 kiloan- kepala harimaunya juga asli. Pasti hasil berburu. Topeng singa barong buatan kini, kepala harimaunya jadi-jadian, dibuat dari kulit sapi dan aneka plastik. Tapi ini?

“Singa barong ini sudah berumur lebih seratus tahun,” tutur Kardjo. Lebih tua ketimbang umur si warok tua.

Sugeng mencoba topeng itu. Menggigitnya pada bagian capit, kayu telanjang di bagian belakang topeng, dan menarikannya. Beberapa menit kemudian, dia mencopot si singa barong. “Sialan, kayunya bau arak,” katanya, “dan berat.”

Kami tertawa. Itu sebabnya mengapa penari singa barong mesti sakti mandraguna agar mampu memikul topeng barongan lengkap –dengan bulu merak- yang biasanya beratnya mencapai 50 kilo. Minimal, si penari melakukan tirakat, puasa, atau tapa. Apalagi topeng harus digigit, bukan dipondong di punggung. Rasanya mungkin mirip menjinjing karung beras pakai gigi. Susah kubayangkan! Mungkin itu pula yang membuat si warok kerap mennggak arak saat hendak pentas, walau dia hanya warokan. Membuat aroma arak melekat pada kayu yang digigitnya.

Kami bujuk Kardjo mengenakan pakaian kebesarannya, pakaian Warok. Lalu dia menjunjung singa barong di tangan. Dalam busana hitam-hitam dengan sebuah keris tertancap di sisi lambung kanan, kurasakan kharisma si warok tua hidup kembali. Sisa kegarangan itu masih ada di sana, juga harga diri dan kebanggaan. Tak pudar oleh kulitnya yang keriput, maupun matanya yang turun menyudut.