Tags

Dia pengusaha ikan. Omzetnya bisa puluhan juta sebulan. Tapi tampangnya, mirip tukang becak. Berbekal dua ransel kain kecil kumuh, dan tubuh yang dijalari panu.

kapalLelaki tua itu duduk di sebelahku. Membawa dua ransel kecil, mirip ransel mainan anak-anak yang terbuat dari kain. Satu ransel berwarna lusuh, satunya bermotif tentara, hijau baret. Matanya nyaris terpejam, menahan kantuk. Sesekali dilepasnya sepasang kakinya yang hitam bersisik dari sandal japit berwarna oranye nyeter, dengan banyak bintil-bintil di permukaannya. Sandal japit ala pijat reffleksi. Celana panjang kainnya berwarna coklat kusam. Kurasa, kaos putih yang disembunyikannya di balik hem batik lengan panjang berpola biru itu tak kalah kusamnya.

“Mau pergi ke mana, Pak?” tanyaku sopan.

Menunggu kapal yang tak jelas jadwalnya di Pelabuhan Tanjung Perak ini sungguh membosankan. Sekarang baru pukul tiga petang, kapal menuju Banda, KM Ciremai yang kutumpangi, mungkin akan datang terlambat. Ada kapal terbakar di pelabuhan. Tujuan Banjarmasin, katanya. Setidaknya delapan penumpang mati karena panik mencebur ke laut, padahal mereka tak dapat berenang. Ironis  juga, kita memilih naik kapal laut tapi tak dapat berenang. Bagaimana mau menyelamatkan diri jika terjadi kecelakaan? Pasrah sajalah, begitu kupikir.

“Papua,” jawab lelaki bertubuh kecil dan kurus pula itu. Logat bicaranya memang mirip orang papua. Namun rambutnya tak keriting. Jadi kupikir dia bukan orang Papua asli.

Tak berapa lama lelaki itu menitipkan tas-tasnya kepadaku. Katanya hendak mencari toilet umum, membuang hajat. Dengan senang hati kuanggukkan kepala. Kantor Pelni semakin ramai. Aku bertambah gelisah. Sudah lama aku tak naik kapal laut, sendiri pula. Kalau sekedar naik feri jarak dekat, hampir setiap bulan kulakukan. Perjalanan terakhirku dengan kapal laut terjadi delapan tahun lalu. Rute Surabaya menuju Balikpapan. Tak berapa lama, hanya satu malam. Kini aku terpaksa naik kapal menuju Laut Banda. Empat malam perjalanan, begitu rencananya.

Aku sedang berbincang dengan seorang bapak yang hendak menuju Makassar dan seorang lelaki muda asal Mandar ketika lelaki itu kembali. Dia melirik tasnya yang masih utuh. Lalu kulihat penjual tikar plastik warna biru. Tiba-tiba aku tersadar, penumpang kapal kelas ekonomi sepertiku dapat tidur di mana saja. Kadang di dek, kadang di geladak. Mungkin mendapat jatah ranjang dari kayu, bisa jadi terbaring di lantai. Aku butuh alas tidur. Maka kupanggil penjual tikar itu. Si lelaki tua tampaknya juga hendak membeli tikar. Sekalian, pikirku, kubayar tikarnya. Dia tampak tertegun. Aku menggeleng lemah. “Nggak pa-pa Pak. Biar pakai uang saya saja.”

Ketika penumpang KM Ciremai digelandang ke ruang tunggu yang sebenarnya karena kapal segera sandar, aku, pemuda asal Mandar dan lelaki tua itu berjalan beriringan. Kami mirip sebuah tim. Tak kusangka, aku sudah mendapat teman perjalanan. Pukul sembilan malam, di antara jepitan ratusan calon penumpang dan himpitan asap sisa kapal yang terbakar, kami bertiga menaiki KM Ciremai, lalu berlari seolah orang panik menuju dek 2, berharap mendapat kamar yang tersisa. Akhirnya, kami memang mendapat tempat kosong. Di bagian paling ujung. Aku mengatur tempatku di dekat jendela, lalu lelaki tua itu dan si pemuda Mandar. Dalam satu dipan kayu panjang, di sana kami berbaring dengan lima penumpang lainnya. Mirip ikan pindang.

Kebaikan hati lelaki itu kurasakan ketika satu jam setelah kapal berlayar, tiba-tiba dia muncul dengan dua matras. “Ini satu untukmu,” katanya mengangsur matras itu kepadaku. Segera kuucapkan terima kasih. Ranjangku tak keras dan lengket lagi sekarang. Kelak kutahu bahwa matras yang seharusnya gratis buat penumpang ekonomi, harus ditukar dengan uang lima ribu.

Keesokan harinya dia membelikanku penganan seperti bubur kacang hijau atau semangka yang diedarkan penjual di kapal. Dia selalu menraktirku selagi bisa. Aneh, pikirku, kenapa dia baik hati sekali. Ketika aku membalas kebaikannya dengan mengantrikan  makanan di dapur, membawa tiketnya, baru kutahu kalau namanya Haji Rauf dan berumur 65 tahun.

Haji Rauf hendak turun di Bau-Bau. Itu berarti dua malam perjalanan. Katanya, ada yang mau dia urus dulu. Bisnis ikan lautnya. Dari bincang santai dengan sesama penumpang baru kutahu kalau Pak haji orang kaya, pengusaha ikan dan hasil laut yang sukses di Fak-Fak. Dia memang orang asli Buton, namun sudah puluhan tahun tinggal di Papua.

“Apa saja yang Pak haji bawa ke Jawa?” tanya seorang penumpang.

“Tidak pasti, tergantung musim. Kadang sirip ikan hiu, teripang, kerang, mutiara. Ah.. bisa apa saja,” jawabnya ringan.

Dari Papua, Haji Rauf membawa aneka hasil laut, lalu dijualnya di Surabaya. Setiap bulan. Omzet penjualannya dapat mencapai belasan hingga puluhan juta. Dia pilih naik kapal karea dapat langsung mengawasi barang dagangannya. Lagipula, suasana di kapal, khususnya kelas ekonomi terlihat santai dan akrab. Pantas dia krasan.

Tapi, menurutku, dia tak mirip orang kaya. Malah tampangnya seperti tukang becak, atau pedagang kaki lima. Saat melepas kemeja batiknya, kulihat ada beberapa panu menghias bagian dalam leher dan lengannya. Yah, penampilan seperti itu dan ransel kecil buruk mirip mainan anak-anak yang dibawanya. Siapa kira dia pengusaha?

“Wah.. Pak haji uangnya banyak dong!” seru seorang penumpang. Haji Rauf hanya tersenyum.

Ketika tali sandal jepitnya bagian kanan putus, kuangsurkan peniti untuk menyambung tali sandalnya. Haji Raut menyambut gembira. Dia tak merasa malu atau rendah diri. “Sebetulnya saya sudah beli sandal baru. Seperti ini juga modelnya. Tapi sandal ini masih bisa dipakai, sayang kalau dibuang.”

Ketika lewat pedagang cinderamata seperti kain dan pakaian batik, Haji Rauf memborongnya. “Untuk anak menantu dan cucu saya di rumah,” ujarnya ramah. Kemana pun dia pergi, dia tak melupakan yang di tinggalkannya di rumah. Kurasa, dua ransel kecil bawaannya pasti dipenuhi oleh-oleh ketimbang barang pribadinya.

Ada lagi yang kusuka dari Haji Rauf. Dia tidak merokok seperti penumpang kapal lainnya, tidak minum kopi, dan rajin sembahyang. Begitu adzan berkumandang, dia segera mengambil kemeja batiknya, memakainya, lalu mengambil kopiah hitam dari dalam ransel, sebelum menuju mushola. Tak pernah lewat satu shalat pun.

Tatkala kapal sandar di Bau-Bau, pelabuhan Pulau Buton, Pak haji pun pamit.  Masih segar kata-katanya dalam ingatanku di awal perjalanan. “Sebetulnya banyak orang kaya di kapal ini. Mereka itu, pengusaha ikan juga. Banyak hartanya. Tapi yah.. Pelni tak memperlakukan penumpang kapal kelas ekonomi dengan manusiawi,” katanya, sambil menunjuk beberapa lelaki yang menyantap kepiting besar di geladak. Manusiawi, kemanusiaan, kurasa kata-kata itu sudah lama menghilang dari kamus memperlakukan para jelata.

Dimuat juga di http://baltyra.com/2013/04/05/lelaki-tua-di-km-ciremai/

Advertisements