Tags


Tentang 1

Ketika pertama mengenalnya, saya hanya tahu dia tetangga di kampus Bulaksumur. Saya kuliah di teknik A, dia di teknik B. Dia kakak angkatan, yang saya temui saat sama-sama naik gunung. Setidaknya kami pernah naik gunung bareng di Sundoro awal 1990-an. Tak terbersit di benak saya jika nantinya dia berkelana di dunia sastra. Nggak tampang nyeni blas, kecuali rambutnya yang gondrong.

pak guru yusi yang mengajar penulisan fiksi

pak guru yusi yang mengajar penulisan fiksi

Beberapa tahun kemudian, saat saya hijrah ke Jakarta tahun 1997 dan bekerja di sebuah majalah wanita, saya dengar kabarnya. Dia bekerja di majalah berita terheboh saat itu. Sekali saya menelponnya, kami ngobrol sebentar. Sekitar 40-50 detik.

Saya mulai mendengar namanya lagi saat membaca buku ‘Mimpi-Mimpi Einstein’ yang belasan kali cetak ulang. Baru saya tahu kalau dia penerjemah dan editor handal. Sejak itu kalau saya lagi malas buka KBBI atau ensiklopedi, cukup kirim SMS ke dia. Gampang saja.

Saya baru tahu kalau dia mengeluarkan buku kumcer ‘Rumah Kopi Singa Tertawa’ dari adik angkatan di mapala. Dan kumcernya bikin ngakak, terhibur, sekaligus mikir. Kaya humor satir dan deskripsi yang nggak asal nampang. Dia juga memiliki rumah penerbitan yang lebih fokus dengan menerbitkan karya-karya sastra terjemahan. Alasannya, warga negara yang melek literasi akan jauh lebih baik keadaan mental dan logikanya ketimbang yang lebih suka baca koran merah dan novel bumbu kacang.

Kemarin saat memintanya memberi materi diskusi tentang fiksi kepada penulis muda. Itulah saat saya bertemu langsung dengannya setelah 20 tahun. Dari sosok gondrong enerjik saat turun gunung di masa lalu, kini saya hadapi si kurus, kusam, nyaris kehabisan tenaga, botak, menua, mulai bijak dengan otak yang masih  cemerlang dan matang pengalaman. Tapi, dia juga agak frustasi melihat perkembangan sastra dan dunia perbukuan Indonesia. Dia mengaku buku-bukunya lambat panas. Saya jadi membayangkan petarung idealis yang berjuang di jalan pedang, tapi hanya mengandalkan pedang kayu saat tubuhnya mulai kehilangan tenaga. (Masih beruntung Musashi yang menguasai ilmu dua pedang dalam satu pikiran dan puasa perempuan!)

Bak bapak guru yang menuntun murid-muridnya mengenal tumbuhan dan kupu, dia mengajarkan secara singkat penulisan fiksi. Misalnya, bagaimana menggali ide, bahwa fiksi yang menarik selalu mengandung konflik, atau seajaib apapun sebuah fiksi harus memiliki penjelasan logis. Hal-hal ‘berat’ yang diungkapkan dalam bahasa sederhana. Mirip menguplik katak-katanya dari ‘Dalil Kebun Pisang’. Tak ada kata muluk, tak juga perumpamaan dan gambaran tinggi. Benar-benar begawan. Ke-18 murid yang menyimak pun mirip ember yang diletakkan di bawah pancuran. Tanpa tekanan atau cipratan, meluber sebagaimana mestinya.

Tentang 2

Sejak lama saya sadari bahwa negeri saya, Indonesia, kerap membuat para idealis –siapapun itu, ilmuwan, guru, petani, penulis, sastrawan- patah hati, menyakiti diri sendiri, atau bunuh diri. Gambaran sederhananya, ketika kuliah di Teknik Nuklir dulu, banyak kawan yang berharap dapat bekerja di BATAN atau PLTN. Apalagi waktu itu digembar-gemborkan PLTN segera dibangun. Ketika PLTN negeri tetangga sesama Asia yang dibangun, banyak kawan yang jelas otaknya encer itu berpaling jadi auditor NGO, tukang khotbah, di perminyakan macam Harriburton, dan lainnya. Ada juga yang jualan kecap sampai ke Korea dan Taiwan. Bunuh diri yang indah tentunya. Yang tidak indah, jadi petani dan peternak madu.

Gambaran mbuletnya, dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, andai 30% di antaranya adalah golongan ekonomi menengah ke atas (sekitar 75 juta jiwa), berapa yang benar-benar sadar literasi dan menjadikan buku sebagai kebutuhan atau gaya hidup? Saya pikir, 10% saja sudah bagus. Kalau kebutuhan akan internet atau gadget, bisa mencapai 90%. Ini kan negeri ajaib. Melek literasi cukup dimaknai dengan bisa baca tulis, punya ijazah sarjana –S1,S2,S3- baca koran, majalah, berita onlen, dan sesekali novel dan buku populer.

Saya pernah sakit hati ketika bukunya Francois Robert Zacot yang bertitel ‘Orang Bajo Suku Pengembara Laut’ diobral Rp 10.000. Bukan karena saya beli saat harganya Rp 50.000, tapi seolah tak ada penghargaan terhadap tenaga yang dicurahkan oleh si penulis dan peneliti yang mau tinggal dengan Orang Bajo di Torosiaje selama lebih setahun. Saat itu tak satu pun antropolog Indonesia mendekat ke sana.

Lagi, saya mangkel bukan kepalang ketika Komunitas Bambu pernah mengobral Kepulauan Nusantara karya Alfred Russel Wallace seharga Rp 50.000. Sebelumnya buku ini dijual seharga Rp 275.000. Selain karena saya membelinya saat diskon sekitar Rp100.000, juga ini buku yang bagus sekali terjemahannya. Wajib punya bagi mereka yang mengaku pejalan dan pengelana Indonesia asli.

Ironisnya, bahkan ketika diobral semata kaki, buku-buku stok lama keren di atas tak jua habis. Menyedihkan! Ada yang salah dengan dunia literasi Indonesia. Bisa jadi anak-anak jaman sekarang tak lagi kenal karya ‘Dari Ave Maria ke Jalan Lain Menuju Roma’ karya Idrus, atau ‘Pada Sebuah Kapal’-nya NH Dini. Mungkin juga mereka ogah membaca sampai habis karya Pramoedya Ananta Toer, hanya sekedar memiliki bukunya karena malu dengan orang asing yang punya koleksinya.

Kalau begitu jangan salahkan juga kalau penikmat fiksi muda, termasuk penulis fiksinya buta karya-karya dunia. Yang suka karya sastra selangkangan mungkin tak pernah baca buku Anais Nin seperti Delta of venus dan Liitle Bird. Penyuka fiksi imajinasi mungkin tak kenal Marguerite Yourcenar, atau si pemberontak tak pernah membaca Catcher in The Rye. Saat saya termangu-mangu dengan kesederhanaan cerpen-cerpen tanah pedesaan dan pertanian karya Erskine caldwell, kawan saya hanya bilang ‘Orang mana itu? Nggak terkenal’. Karya sastra dunia mungkin hanya dibaca oleh mereka yang pernah kuliah di sastra asing seperti Inggris, Prancis dll. Tapi itupun buku-buku referensi kuliah standar.

Ketika kawan novelis menghadiahi saya buku ‘The Professor and The Madman’ karya Simon Winchester, saya gembira bukan kepalang. Karya SW lain yang saya baca adalah ‘Krakatau’. Walau buku aslinya ditasbihkan sebagai bestseller, saya tak tahu apakah versi terjemahan yang lumayan bagus dan diterbitkan oleh Serambi juga mengalami cetak ulang. Di era 2000-an awal, saya ingat pasar buku kebanjiran novel dan karya sastra terjemahan. Saya ingat ‘Metamorfosa’ karya Kafka dan Dongeng dari Sayap Kiri diterbitkan oleh Aksara, lalu ‘Dinding’ karya Sartre diterbitkan Jendela. Bahasanya, amboii.. bikin pening kepala. Satu dari sedikit buku sastra bagus yang saya temukan saat itu adalah ‘Menapak Jejak Khalil Gibran’ yang ditulis oleh Fuad Hassan dan diterbitkan Pustaka Jaya. Bahasa dan bahasannya benar-benar terjaga.

Kini, karya sastra terjemahan masih membanjiri pasar. Namun yang biasa diterjemahkan umumnya mendapat embel-embel bestseller, sudah dilayarlebarkan, atau meraih penghargaan. Penerbit harus benar-benar jeli untuk menerbitkan karya terjemahan. Walau buku sastra tersebut bagus dan monumental, namun jika tak memiliki kedekatan dengan penduduk lokal, yah.. bye bye. Mirip tak dilirik, apalagi dibeli. Pecinta buku karya sastra dunia di Indonesia itu minim. Andai ada pun, umumnya lebih suka memiliki buku aslinya. Jadi usaha kawan begawan untuk menerbitkan karya sastra dunia yang tak umum atau populer (bagi generasi sekarang), mirip menjalankan misi bunuh diri walau tujuannya sangat mulia. Yah, ini kan  negeri ajaib, negeri yang memaknai idealisme  sebagai tindakan bunuh diri atau menghancurkan diri sendiri.