Tags

,


titik nol

Titik Nol, penulis Agustinus Wibowo, terbitan GPU, 556 halaman

“Sedang baca apa?” tanya kawan.
“Buku Agustinus Wibowo terbaru, Titik Nol,” jawab saya.

“Oo.. buku lelaki kecil yang nekad itu ya?” timpal kawan saya.

“Kok nekad sih? namanya juga petualang.” Saya membela diri. Kata nekad menurut saya lebih rendah dan dangkal pikiranny. Petualang punya nyali dan perhitungan, jadi tak bisa dibilang nekad.

“Apa namanya bukan nekad kalau suka nyerempet bahaya, nyerempet kematian. Aku yang baca jadi ngeri sendiri,” alasannya.

“Ah.. mati bisa di mana saja. Buktinya dia masih hidup, segar bugar malah. Tahu tidak, buat petualang, mengalami kematian saat berpetualang itu kebahagiaan tertinggi. Walau akhirnya menyusahkan banyak orang” Saya berkhotbah.

“Ah.. pejalan memang orang aneh!.”

Di negeri ini, menjadi pejalan bukanlah kultur yang diwariskan. Entah kalau  kau lahir dari keluarga gipsi atau bangsa nomad yang berpindah-pindah sepanjang hidupmu. Maka menjadi pejalan seperti sudah ada di dalam darah.

Di negeri ini, pejalan itu dibentuk. Baik oleh keadaan, kondisi keluarga, lingkungan, serta pemikiran yang berkembang. Umumnya seseorang menjadi pejalan karena alasan memberontak, keinginan meraup kebebasan lebih, protes terhadap segala belenggu etika moral sosial, namun bisa juga melarikan diri dari kejenuhan. Ada pejalan temporer atau kumat-kumatan, ada lagi yang menjadikannya sebagai jalan hidup.

Pilihan kedua saya rasa, adalah yang dijalani Agustinus Wibowo. Dan di bukunya yang ketiga, Titik Nol, Agus mirip menelanjangi diri, buka-bukaan, tentang apa dan siapa dirinya. Dia membungkusnya dalam kisah perjalanan ke luar –berkelana ke Tibet, Nepal, India, Pakistan, dan Afganistan- sekaligus perjalanan ke dalam –tentang ingatan bagaimana dia dibesarkan, penyakit ibunya, atau masa lalunya. Semacam refleksi sekaligus penyadaran diri, untuk menuju ke tahap perjalanan yang lebih tinggi.

Umumnya pengarang ‘mati’ setelah bukunya terbit. Penulis review hanya membahas isi buku. Namun saya terpaksa mengaitkan keduanya –sisi buku dan penulisnya- karena sempat mengenal penulisnya. Sial memang, bisa-bisa review saya tidak obyektif lagi. Dalam perjalanannya, Agus mirip orang asing yang sambang ke negeri asing. Lalu  merasa senasib, sama-sama terasing, dia pun mengakrabkan dengan pejalan asing atau penduduk negeri asing itu. Mirip orang kesepian yang rindu limpahan teman, obat mencurahkan hati atau bertukar pikiran.

Tebakan saya sederhana saja. Di negerinya, atau bilanglah di kampungnya di Lumajang, Agus adalah minoritas, Tionghoa pula –mungkin kalau dia suku Badui atau Dayak akan lain perlakuan orang, karena masih dianggap WNI asli, bukan keturunan-yang mengalami banyak perlakuan diskriminasi. Keterasingan ini, ditambah kultur Tionghoa –kalau tak pintar sekolah ya dagang saja- membuat dirinya mencari ‘teman’ dalam keterasingan. Perjalanan adalah pelarian mujarab bagi keterasingan. Melihat dunia akan membuka wawasan, memperdalam pemikiran, sekaligus membahagiakan. Di negeri asing, orang-orang kesepian dan terasing, menjadi lebih peka melihat, mengamati, dan memahami sekitar. Itu yang membuat kisah-kisah perjalanannya lebih hidup, sarat makna, dan mengilhami serta memotivasi pembacanya.

Saya tak akan mempermasalahkan judulnya yang ‘Titik Nol’. Sudah banyak yang meributkannya. Intinya, kau lahir ke dunia tak membawa apa-apa, maka mati juga tak meraup apa-apa. Karena bumi bulat, jika kau berjalan lurus maka akan kembali ke titik Akau berangkat. Gitu saja kok repot!

Tapi saya penasaran dengan  pemakaian kata ‘garis batas’ yang diulang-ulangnya dalam buku ini. Lebih dari saat membaca buku keduanya yang memang berjudul ‘Garis Batas’, dan nuansa politiknya begitu kental itu. Dengan menyebut ‘garis batas’ seolah Agus masih merasakan keterasingan, sebagai orang luar, orang asing, yang serba dibatasi geraknya, terbatas. Lalu dia mengidentifikasikan diri dengan batas-batas di luar yang dilihatnya. Tentang ibunya yang menderita kanker dan berada di antara hidup dan mati, tentang Tibet yang dijajah RRC, tentang gerak manusia yang dibatasi oleh paspor, dan masih banyak lagi. Batas-batas yang sesungguhnya diadakan oleh manusia, sekaligus seharusnya bisa dikikis oleh manusia sendiri.

Seorang pengelana, ketika melintas dari satu negara ke negara lain, pada saat batas geografis bisa diatasi dengan paspor atau pun visa, seharusnya adalah agen penyatu, agen pembauran. Lewat rasa kemanusiaannya, keinginan, kemauan, dan kesediannya membantu sesama, terutama membantu orang-orang yang membutuhkan di wilayah yang disinggahinya, dia dapat memperkecil, bahkan meniadakan batas itu. Bantuan tak harus bersifat uang yang kerap menghapus surga turisme menjadi komersialisasi ala neraka, tapi bisa pemikiran, tenaga, atau sekedar membuat tawa. Ini sekedar pemikiran, yang saya dapatkan selama melakukan perjalanan ‘kecil’.

00000

Agus menggunakan teknik penulisan yang berbeda di buku ketiganya ini. Sesuatu yang membuat isi buku jadi lebih segar, sekaligus lebih melow, karena mengguratkan banyak kesedihan. Sudah bagus saya tak meneteskan airmata. Polanya, dengan intro pendek kekinian saat menunggu ibunya di rumah sakit, diikuti flashback kisah perjalanannya. Mirip yang digunakan Mitch Albom dalam ‘Have a Little Faith’. Begitulah pola ini berulang.

Dari segi isi, jika pada dua buku sebelumnya penulis mengisahkan perjalanannya ke Afghanistan dan negeri-negeri pecahan Uni Sovyet, dalam ‘Titik Nol’ penulis berkisah tentang negeri-negeri yang lebih awal dikunjunginya. Mulai Tibet, Nepal, India, Pakistan, dan Afghanistan.

Lewat deskripsi umum yang detil dan menarik –orang menyebutnya sastra perjalanan- penulis bertutur tentang suka duka yang dialaminya saat menjelajah negeri jauh tadi. . Misalnya pengalamannya menyelundup ke Tibet dengan menyamar sebagai orang lokal (keuntungan sebagai etnis Tionghoa, saya rasa). Kelihaiannya menipu polisi wanita yang curiga selama di Kailash. Atau kegelisahannya tentang Kathmandu yang mirip surga bagi para backpackers, tapi tetap saja tak mengangkat sosial ekonomi kebanyakan penduduk aslinya. (Saya jadi ingat kawan-kawan Nepal yang bekerja di Malaysia. Kata mereka, lebih baik bertahan, kerja apa saja lalu menabung untuk bekerja di Amerika ketimbang pulang ke kampung halaman. Karena, hidup di Nepal memang susah dapat uang).

Dengan humor satirnya, Agus berkisah tentang joroknya semilyar umat di India, terutama di New Delhi. Orang-orang yang sembarangan membuang hajat, para lelaki yang haus seks begitu melihat perempuan asing. Tapi justru di negeri ini dia sempat dirawat di rumah sakit karena hepatitis secara gratis. Seolah dia berkata, ‘oke, ada banyak sisi brengseknya, tapi banyak juga sisi mulianya.’ Kisah tentang Pakistan atau Afghanistan, silakan dibaca sendiri (saya mulai capek menulis, tangan pegal!)

Kalau ada hal yang mengganjal saya, itu karena terlalu banyak gambaran umum dan kesimpulan yang dilihat penulis dari kacamatanya langsung. Saya berharap penulis mau sesekali memfokuskan pada satu dua obyek, orang-orang, dan mengisahkannya dari kaca mata mereka. Ah, tapi ini hanya sekedar saran.

Suka duka perjalanannya, mulai dirampok, kecopetan, nyaris diperkosa, sakit di jalan, atau menemukan persahabatan dan keluarga di tempat tak terduga, tak menghentikan langkahnya untuk terus berjalan. Mengapa? Karena menjadi pejalan, pengelana, itu mirip panggilan. Dan apapun hal buruk yang terjadi di jalan, itu adalah risiko. Kalau ada yang bilang melakukan perjalanan hal yang menyenangkan, mungkin benar untuk perjalanan pendek, kasep-kasepan. Nyaris 100% menyenangkan. Tapi long term traveler, yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain (dalam hitungan hari, minggu, atau bulan) kerap kali akan mengalami kelelahan fisik, kebuntuan pikiran, dan stress. Jika kondisi fisik menurun, penyakit akan mudah menyerang, dan kewaspadaan menjadi berkurang, sehingga gampang jadi mangsa kejahatan. Hal ini yang kerap lolos dari pengamatan.

Masalah lain bagi pejalan adalah uang. Perjalanan kerap menguras uang. Sudah untung jika kau punya tabungan lumayan. Kalau tidak? Mesti bekerja sambil berjalan. Gola Gong bisa terus keliling Asia selama 8 bulan karena kebetulan menjadi jurnalis di majalah remaja, kawan saya –pasangan Afrika Selatan, Mark dan Tine- bisa bertahun-tahun mengelilingi dunia tanpa perlu kembali ke negeri asal, karena selalu bekerja paro waktu di negeri yang dikelilinginya. Menjadi tukang cat di Melaka, guru musik di Korea, dan kini penghibur Kafe di Argentina.

Buku ini, selain menguliti perjuangan penulisnya menemukan jati dirinya lewat perjalanan, juga memotivasi mereka yang ingin dan sedang berjuang menjadi pejalan. Seperti profesi lain, pejalan itu adalah pilihan. Ada risiko yang harus ditanggung, duka yang pasti membebat, namun juga menawarkan banyak mimpi yang siap diwujudkan. Mengenal budaya dan orang-orang yang berbeda, menemukan persahabatan, eksotisme negeri lain, menyatukan orang-orang yang berjauhan, bahkan mungkin akan membawa dunia ke arah yang lebih baik. Tapi yang pasti, akan menemukan diri sendiri. Seperti kata Lawrence Blair – pembuat film Ring of Fire- dalam buku bertitel senada, ‘Perjlanan bertualang, entah hanya menikmatinya di rumah maupun betul-betul langsung berkunjung, lebih tentang apa yang bisa dilihat dalam diri kita, bukan yang bisa dilihat di luar sana’.

Selamat Membaca 😀