Tags

, ,

30 Hari Keliling Sumatra

30 Hari Keliling Sumatra, diterbitkan Dolphin, 286 halaman, harga Rp55.000, tersedia di toko buku terdekat di Jawa

30 Hari Keliling Sumatra, diterbitkan Dolphin, 286 halaman, harga Rp55.000, tersedia di toko buku terdekat di Jawa

Puluhan kali mereview buku orang bukan jaminan saya akan obyektif mereview buku sendiri. Review bagi saya bukan sekedar promosi, tapi memberikan pengantar akan kelebihan dan kekurangan sebuah buku, termasuk latar belakang buku itu lahir jika memungkinkan. Sementara pilihan terakhir, untuk membeli atau menolak buku tersebut, terserah pembaca.

Seorang kawan mengatakan, saya penulis wisata yang ‘lemah’, kalau tidak dapat disebut buruk. Saya kerap gagal mempromosikan sebuah tempat wisata karena selalu menyajikan kekurangan, di samping keindahan sebuah tempat. Saya juga kurang melaporkan kuliner, karena saya memang tak suka makan. Andai saya menjadi agen wisata, turis-turis pasti akan hengkang semua.

Tapi, katanya pula, saya penulis perjalanan yang baik. Mungkin itu sebabnya mengapa buku ’30 Hari Keliling Sumatra’ yang saya terbitkan secara indi Maret 2011 dibeli orang. Tak banyak, hanya sekitar dua ratus eksemplar. Saya malu promosi. Lebih tepatnya tak punya cukup tenaga untuk promosi, menjual, sekaligus menulis buku baru, mengadakan perjalanan baru, dan mencari makan sehari-hari. Sungguh menguras energi.

Naskah buku ini lalu dibeli penerbit Dolphin di Jakarta, dan setelah melalui revisi ‘cukup banyak’, akhirnya diterbitkan akhir April lalu dengan kover yang ‘wah’, halaman bertambah banyak (286 halaman), 22 halaman di antaranya merupakan foto penuh dalam hitam putih. Meski tak berwarna, foto manis tersaji. Pas dengan paket ‘kekunoan’ buku dan pilihan kertas penerbit.

Buku ini terbagi dalam 32 kisah, yang dapat dibaca meloncat-loncat. Tak harus urut ala novel, tapi pembaca dapat memilih kisah mana yang menarik perhatiannya. Urutan itu adalah:

Prolog

1.Menuju Pariaman

2.Adat Membeli Lelaki

3.Semangat Paska Gempa

4.Semalam di Kota Bukit

5.Gempa Mentawai dan Adat Dedaunan

6.Sejenak di Madina

7.Orang Maya-Maya

8.Mengenang Medan

9.Jejak Amir Hamzah di Tanjung Pura

10.Menari di Tanah Karo

11.Danau Lau Kawar

12.Berastagi

13.Gundaling

14.Pemanggil Roh di Toba

15.Baharudin, Si Tukang Becak

16.Pemelihara Tradisi dan Budaya

17.Opera Batak

18.Memoar Jatuhnya Tembakau Deli

19.Mencecap Negeri Hijab

20.Lelaki Takengon itu Seksi

21.Perempuan Penyapu Jalan

22.Kasih Sayang Lelaki Aceh

23.Menghapus Wajah Tsunami

24.Kerkhof

25.Warung Kopi Aceh

26.Kuli Bangunan Seusai Gempa

27.Kuda Liar dan Orang Kubu

28.Pelimbang, Musi, dan Budaya Cina

29.Hujan Karet di Prabumulih

30.Sawit Sang Idola

31.Tradisi Lisan Prabumulih

32.Naik Kereta Api Kelas Dua

Epilog

Perbedaan dengan buku Sumatra yang dicetak ala Indi (terutama edisi cetak pertama), adalah dibuangnya kisah ‘Foto Tua Bapakku’ yang saya anggap tidak relevan dan amat pribadi sifatnya. Selain itu ada penambahan kisah ‘Orang Mentawai dan Adat Dedaunan’, bagian ‘Orang Kubu’, dan pengayaan materi pada ‘Sawit Sang Idola’. Revisi lainnya hanya pada pilihan kata atau diksi, keterangan untuk kalimat atau kata-kata yang mirip asing.

Lalu apa hubungannya buku Sumatra ini dengan kanker yang saya derita?

Awal Februari 2009 saya menjalani operasi terakhir –dan semoga demikian- karena kanker kulit (tumor ganas) yang saya derita. Kulit diambil selebar 12 cm dan panjang lebih 20 cm, lalu dijahit begitu saja. Maka saya mengalami cacat sementara, bongkok, sekitar 6 bulan. Karena berada di Malaysia, bekerja dan belajar, saya menjalani perawatan sendiri. Sendiri datang ke rumah sakit, sendiri pula saat pulang, dan sendiri terus menjalani hidup hingga akhirnya bisa pulang ke Indonesia. Itu pengalaman mengerikan, dan saya tak ingin menggambarkannya panjang lebar. Tak hendak meraup iba.

Intinya, jika kawan saya Agusgin merana karena ibunya sakit kanker, saya pun akan merana jika kanker bakal menghentikan kegemaran saya seperti berkelana dan menulis. Maka, 10 bulan setelah operasi, saya mulai mengadakan perjalanan kembali Mengunjungi kepulauan kecil yang masuk Kabupaten Sumenep, Madura selama dua minggu sebagai pemanasan, sebelum berkeliling Sumatra dua minggu kemudian.

Kenapa hanya 30 hari berkeliling Sumatra? Apa itu cukup?

Jelas tidak cukup. Perhitungan saya, kalau hendak mengelilingi setiap jengkal Sumatra daratan hingga kepulauan kecilnya, setidaknya butuh waktu 18 bulan. Sumatra itu luas. Mustahil rasanya meneropong setiap detil budaya dan kondisi sosial masyarakatnya hanya dalam sebulan. Paling tidak 1,5 tahun, mungkin malah bisa bertahun-tahun. Yang saya lakukan hanya meloncat dari satu tempat ke tempat lain, tanpa rencana yang jelas, hanya dituntun sambang kawan mantan TKI di Malaysia dulu, serta ‘feeling’ bahwa saya ingin ke sana, saya mau ke sini, saya tertarik dengan kasus ini yang sedang ramai. Semacam itulah. Di setiap tempat yang saya kunjungi, saya berusaha fokus total selama 24 jam. Bahkan, dalam tidur yang hanya 3-4 jam setiap hari, saya selalu bermimpi sedang terlempar-lempar di dalam bus yang melaju kencang, tiba-tiba berada di tempat asing, atau semacam itulah. Mirip dikejar-kejar.

Ini bukan perjalanan yang menyenangkan. Riang, lepas, seperti saat mengunjungi sebuah pantai atau mendaki gunung di akhir pekan. Ini mirip hidup di antara ketidakpastian setiap hari. Saya tidak tahu besok mau tidur di mana, apa yang bakal saya jumpai, makan apa, atau bahkan naik bus dan oto jurusan mana? Walau singkat, satu bulan di jalan bisa memorandakan fisik –penatnya luar biasa- dan mental. Belum lagi bekas jahitan operasi yang kerap ‘panas-dingin-perih’ sepanjang malam, sebagai efek kelelahan. Tapi berpantang seorang pejalan bersikap manja, mengeluh ini itu. Menjadi pejalan itu pilihan, dengan segala risikonya. Kalau perlu, lebih baik mati di jalan dengan menahan sakit ketimbang mengeluh betapa sakitnya dia.

Apa kelebihan buku ini dibanding buku sejenis?

Setiap buku melebihi kelebihan tersendiri. Untuk buku perjalanan nusantara, saya sudah membaca ‘Meraba Indonesia’, juga ‘Kepulauan Nusantara’ punya si Wallace, ‘Ring of Fire’-nya Blair Bersaudara, ‘Revolt in Paradise’-nya Ktut Tantri, ‘Dan Damai di Bumi’-nya Karl May, juga beberapa buku Des Alwi tentang Kepulauan Banda, ‘Krakatau’-nya Simon Winchester, atau ‘Keliling Indonesia’-nya Gerson Poyk. Masing-masing buku memiliki kekuatannya sendiri, meski favorit saya tetap bukunya si Blair bersaudara dan Wallace.

Saya mencoba menuliskan sesuatu yang tak sekedar laporan pandangan mata. Saya kan bukan reporter sebuah teve. Sebelum menulis, saya melakukan studi literatur yang cukup panjang. Setidaknya saya habiskan 3-4 bulan untuk mengumpulkan data yang saya butuhkan, dan data ini terus diperbarui sepanjang buku Sumatra belum dicetak di setiap edisi. Untuk menulis ‘Memoar Jatuhnya Tembakau Deli’ misalnya, saya tak hanya berpegang pada fakta kisah si Wak. Tapi juga menengok lokasi tanah yang dipersengketakan, bertanya pada warga sekitar, lalu membuka-buka majalah lama yang melaporkan perdagangan tembakau deli di Eropa, lalu kisah Tjong A Fie yang kaya dari tembakau deli, dan macam-macam lagi.

Menulis serius itu melelahkan. Lebih melelahkan ketimbang perjalanannya sendiri. Usai menulis ‘Adat Menjual lelaki’ misalnya, saya perlu menanyai kawan-kawan asal Padang tentang masalah ini. Lalu saya uji silang dengan mereka yang pernah ‘mengakali’ adat ini, bagaimana caranya mengakali, dan sebagainya. Bukankah menuliskan sesuatu yang berbau adat, ras, agama, suku, di negeri ini adalah hal sensitif dan bisa-bisa menimbulkan reaksi keras? Lebih mudah bagi saya menuliskan bagaimana munafiknya lelaki Afghanistan yang menyukai sejenis tapi menggunakan Islam sebagai kedok menutupi perbuatan tercela mereka. Orang Afghan tak akan marah atau membaca tulisan saya.

Apa kekurangan buku ini?

Kesatu, kovernya terlalu cantik, terutama perempuan yang di foto tersebut. Saya jadi malu dan harus berterimakasih kepada Mas Iksana Banu. Saya juga merasa harus membeli sepatu sekarang, bukan hanya bersandal gunung.

Kedua, ada beberapa foto yang ditampilkan berkesan datar dan biasa saja. Misalnya foto Istana Maimun, atau Ngarai Sihanouk. Foto rumah adat Karo di Desa Lingga, yang diletakkan pada artikel Batak Toba semoga tak membuat orang Karo protes. Saya memang tak cukup memberi foto-foto bermutu. Tapi foto dua anak berlarian di sawah sekitar Danau Toba seharusnya lebih menarik dan menjanjikan.

Ketiga, dalam kisah berjudul ‘Gundaling’ sebetulnya lebih tepat bertitel ‘Sipiso-piso’. Karena lokasi air terjun Sipiso-piso yang menjadi bagian utama cerita jauh dari Gundaling atau biasa diplesetkan ‘Good night my darling’ itu.

Ingin saya, akan banyak orang menulis tentang Sumatra. Lebih lengkap, lebih berwarna, karena selama ini buku referensi tentang Sumatra selalu ditulis oleh orang asing. Dua antropolog Indonesia yang ‘menggagahi’ Sumatra antara lain Adi Prasetijo dengan orang Kubunya dan Bambang Rudito dengan Mentawai-nya. Buku Bambang tentang Mentawai, baru saja terbit.

Itu dulu sekedar review saya. Tentang kekurangan yang lain, saya serahkan kepada pembaca.

Selamat Membaca,

NB. buku bisa diperoleh di toko buku terdekat atau ke penerbitnya langsung, Dolphins. Kalau beli langsung ke saya, tidak mendapat diskon, malah ketambahan ongkos kirim. Bonusnya, tanda tangan ‘bukan orang terkenal’.

Advertisements