Tags

, , ,

Tulisan ini saya sarikan dari artikel kiriman drg Lingga, terkait banyaknya pertanyaan yang masuk dari postingan yang berjudul ‘Sakit Gigi? Jangan Dicabut!’ Lebih baik pakarnya yang menjawab daripada saya berpura-pura pintar.

sumber gambar: xhansx.blogspot.com

sumber gambar: xhansx.blogspot.com

Siapa sih manusia di bumi ini yang tidak pernah sakit gigi? Rasanya semua pernah. Pada umumnya mereka lebih memilih untuk bertanya kepada teman atau keluarga tentang obat apa yang paling manjur untuk mengobati sakit gigi. Kalau sudah pernah sakit gigi, mereka biasanya langsung membeli sendiri obat yang biasa dipakai ke apotik. Kadang juga mereka aka bertanya kepada petugas apotik, obat apa yang mujarab untuk menghilangkan rasa sakit pada gigi.

Ada lagi kelompok yang memilih menahan rasa sakit gigi ketimbang harus bertemu dengan dokter gigi. Alasannya takut, apalagi jika gigi harus ditambal atau dicabut. Takut mendengar suara bor, takut melihat darah, takut disuntik, dan seribu alasan lainnya.

Sebetulnya ada banyak penyebab sakit gigi. Ada yang dapat sembuh jika diobati sendiri, ada yang tidak. Bahkan ada sakit gigi yang tambah parah setelah minum obat. Bukannya sakit mereda, malah gigi jadi bengkah plus sakit kepala.

Sebelum saya paparkan sakit gigi lebih lanjut, harus saya jelaskan tentang susunan gigi. Ada tiga lapisan pembentuk gigi. Kesatu, email sebagai bagian terluar gigi sekaligus yang paling keras. Kedua, dentin yang berada di bawah email. Dentin berbatasan dengan pulpa. Ketiga adalah pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan limfa. Gigi tertanam di dalam tulang alveolar dan diikat serta dihubungkan oleh jaringan periodontal.

Sakit gigi yang paling umum adalah karena gigi berlubang.Lubang yang mengenai email biasanya belum terasa linu,hanya menimbulkan rasa kurang nyaman karena makanan kerap menyelip di dalam lubang tersebut. Pada kondisi begini, penderita biasanya tak peduli jika giginya berlubang. Mereka menganggap giginya masih normal, tidak terasa sakit.

Jika lubang sudah menembus hingga ke dentin, penderita mulai merasa linu bila minum dingin dan tersentuh makanan. Dalam kondisi ini, seharusnya penderita waspada dan segera ke dokter gigi untuk menambal lubangnya. Kenyataannya, banyak yang enggan dan takut menemui dokter gigi karena malas giginya diobok obok. Lubang pun dibiarkan saja.

Ketika lubang sudah menembus pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah, penderita akan merasakan sakit yang luar biasa dan rela melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa sakit. Minum obat pereda rasa sakit sebesar apapun dosisnya hanya bertahan beberapa jam, bahkan kadang tak berefek sama sekali. Jika hal ini terjadi, satu-satunya cara adalah mematikan saraf gigi, dengan memberikan obat di dalamnya, lalu menambal sementara. Atau dengan mencabut saraf gigi setelah bagian tersebut dibius (dalam hal ini disuntik terlebih dulu).

Biasanya setelah saraf gigi dimatikan, sakit akan mereda sehingga penderita merasa sudah sembuh dan enggan datang kembali ke dokter gigi. Padahal obat yang diberikan dalam saraf tadi hanya bersifat sementara. Jika efek obat hilang, sakit pun muncul lagi. Baru kemudian si pasien merasa perlu datang kembali ke dokter gigi.

Bila hal ini terjadi, dokter akan membuka ubang tersebut hingga nampak “orifice” gigi, sehingga pasien merasa lega karena produk gas dari bakteri sudah dikeluarkan. Untuk membantu penyembuhan, biasanya penderita diberi antibiotik serta antiinflamasi. Jika sakit mereda, dokter akan memberi dua pilihan, gigi dicabut atau dipertahankan. Jika penderita ingin giginya dipertahankan, maka dia harus melakukan perawatan saluran akar yang membutuhkan beberapa kali kunjungan (bisa 2, 3, bahkan 4 kali). Nah, mau pilih yang mana?

Baca juga tulisan
‘Sakit gigi? Jangan Dicabut’

‘Bila infeksi gigi pindah ke pipi’

Si pemasang gigi palsu

 

Advertisements