Tags

, , ,

Kalau kau pejalan lamban sepertiku, yang tak menomorsatukan kenyamanan, suka berlama-lama di suatu tempat, harus membelanjakan uangmu dengan batasan ketat, dan gemar menjalin hubungan dengan orang sekitar, maka ikut grup seperti couchsurfing (CS) mungkin berguna. Apalagi jika kau kerap berkeliling manca negara.

anghuah1_1_1

ang huah, foto: dok ang

Di Pulau Penang, Malaysia, ketua atau ambassador CS-nya adalah Ang Huah, lelaki  setengah baya berperawakan kurus kecil keturunan Cina yang luar biasa enerjik, ramah, dan cenderung cerewet. Ketika seminggu mengunjungi Penang Agustus 2012, kuhabiskan dua malam di kediaman Ang.

Ang lebih banyak menghabiskan waktunya di tokong (semacam kuil Buddha) miliknya di Muntre Street. Dari tokongnya ini dia mengelola kegiatan bisnis sekaligus sosialnya. Tokongnya ini terbuka untuk umum. Namun jangan harap dia mau menjelaskan secara detil isi dan sejarah koleksi barang di kuilnya. Dia lebih suka berkutat dengan pekerjaannya, dan membiarkan pengunjung tokongnya mondar-mandir dengan kamera mereka.

Yang disebut rumah bagi Ang mirip ruko dua tingkat di kawasan pertokoan Lebuh Carnarvoon. Rukonya nomor dua dari ujung, di tingkat dua, berada di depan anak tangga. Ketika membawaku ke sana, ia menunjukkan sekaligus mengenalkanku dengan penjaga toilet umum di ujung lain bagian bawah. Di toilet itulah aku akan mandi sehari-hari tanpa mengeluarkan seringgit pun uang kebersihan. Aku kan tamu Ang. Usai perkenalan singkat dengan orang-orang yang dianggapnya penting lainnya di kompleks itu –seorang satpam selain penjaga toilet- dia lalu mengajakku naik ke rukonya, ke sebuah ruangan  khas milik lelaki bujangan.

Ruang itu berukuran sekitar 6 meter kali 5 meter, agak luas, menghadap ke arah matahari terbit, juga ke pasar pagi di depannya. Ada setengah lusin kasur busa gulung menghadap dinding, juga setengah lusin bantal busa. Sebuah almari es warna putih berpintu satu menghadap dinding lainnya. Di bagian yang menghadap pasar, dua buah jendela kayu buka tutup yang sangat lebar tertutup sempurna. Ang membuka sebuah jendela, membiarkan cahaya matahari menorobos kepengapan dalam ruangan. Dua kipas angin besar yang menempel di langit-langit segera dihidupkannya.

pasar pagi penang

pasar pagi penang

“You boleh ambil air, es, atau makanan di peti es ini,” katanya sambil menyerahkan kunci ruko ke tanganku. Heran juga aku. Ang begitu percaya kepadaku walau kami baru kenal. Mungkin wajahku memang bukan prototipe buron atau penipu.

Buatku dan kurasa anggota CS lainnya yang pernah dijamunya, akomodasi yang disediakan Ang tergolong lumayan. Letak rukonya yang dekat pasar memudahkanku mencari makanan sedari subuh hingga larut malam. Apalagi, di belakang ruko, setelah berjalan kaki sekitar 100 meter melalui jalan sempit mirip gang, menjulang Masjid Kapitan Keling yang terkenal itu.

Aku terbiasa terjaga sebelum subuh, antara pukul dua setengah dini hari hingga pukul tiga, kala kudengar kebisingan mendadak karena kedatangan pedagang di pasar. Mereka, penjual daging, sayur, atau buah, mulai berdatangan dengan pick-up, berteriak memberi perintah menurunkan barang dagangan dan keranjang, atau menarik-narik keranjang rotan dan peti dari kayu dengan suara menggeret. Kebisingan yang menyenangkan buatku, mengingatkanku akan keramaian di Pasar Keputran atau Wonokromo di tanah air.

Tatkala azan subuh menggema, akan kubuka pintu perlahan, lalu berjingkat berjalan kaki menuju masjid di Jalan Kapitan Keling. Pulang sembahyang, aku mandi di toilet umum, lalu bersiap memulai aktivitas mengoprak-oprak pasar pagi dengan kameraku atau mengunjungi bagian Penang lainnya. Kalau mengantuk, aku biasa tertidur beberapa menit di bus rapid yang membawaku ke berbagai tujuan, mulai Kek Lok Si, Penang Adventist Hospital, atau ke Tanjung Bungah.

Biasanya Ang akan memintaku datang ke tokongnya yang sekaligus menjadi kantor Penang Hainan Association sore hari, sekedar bersua dengan kawan-kawan akrabnya seperti Renuka yang menjadi voluntir di Chesire Home maupun Carmen yang sudah 14 tahun tinggal di India. Kami berbincang, bertukar informasi, sambil minum teh dari campuran bebungaan miliknya. Dia juga menyempatkan diri mengantarku ke rumah para difabel di Chesire Home, mengunjungi klinik gratis di Jalan Burmah, atau menunjukkan jadwal acara soap opera ala Cina yang berlangsung di beberapa tokong di pusat kota.

Ang sebetulnya hidup berkecukupan kalau tak dapat disebut berkelimpahan ringgit. Tak semua keturunan Cina di Penang memiliki tokong sendiri dan mampu memeliharanya. Walau makmur, penampilan Ang amat sangat sederhana. Bukannya membeli mobil, justru dia amat nyaman menaiki motor buntutnya. Alasannya, “Penang suka jem (macet, pen) sekarang. Susah bawa kereta.” Jalanan di Penang memang kerap macet. Tak senyaman 5-6 tahun lalu.

Sekilas kulihat motor warna hijau lumut yang biasa dikenakannya. Bentuknya mirip honda tahun 80-an awal. Ang pun jarang mengenakan baju pantas pakai. Kesukaannya celana kain biasa dan kaos putih. Tapi di ransel mbulaknya selalu tersedia kemeja, sebagai persiapan jika sewaktu-waktu menghadiri acara resmi seperti jamuan makan malam, pembukaan pameran, dan sebagainya. Ang memang aktif di kegiatan sosial maupun seremoni Kota George Town.

Aku selalu pulang ke ruko nyaris larut malam, kala pasar sudah sunyi dan jalanan lengang. Namun suasana terasa nyaman dan aman. “Itu karena you berwajah Malay,” kata Ang yang nyaris tak pernah bercakap Melayu. Bahasa Inggrisnya fasih dan amat cepat. Menurut Ang, turis perempuan asal Asia, baik berwajah Melayu, Cina maupun India, tak bakalan diganggu bila berjalan-jalan di George Town. Namun tidak demikian jika berwajah Eropa. Selalu saja ada yang gatal berbuat iseng jika ada bule, khususnya yang muda dan cantik, berjalan sendirian di jalanan George Town, pada malam hari. Untuk keberuntungan yang satu ini, aku merasa sangat amat bersyukur.

Advertisements