Tags

Buat pejalan, khususnya yang menggemari keliling Indonesia, mendekatkan diri pada orang lokal banyak keuntungannya. Kita dapat berbagi, lebih memahami kondisi tempat yang kita kunjungi, sekaligus mengumpulkan keluarga dan teman di mana-mana. Bukankah perjalanan bermakna pulang, bukannya datang?

_MG_8447_1_1_1

seorang ibu dirubung para maniac street walkers di pantai kenjeran

Kalau kita renungkan, pejalan itu penyatu. Menjadi penghubung yang mendekatkan orang-orang dari tempat-tempat yang jauh. Pejalan asal Jawa akan menjadi penghubung, waki, orang Jawa jika berkunjung ke Maluku, misalnya, atau Papua.

Pejalan juga agen informasi. Bisa jadi orang-orang di tempat yang kita kunjungi akan bertanya bagaimana keadaan tempat kita tinggal. Kita pun dapat menerangkan kepada teman-teman tentang daerah yang kita kunjungi pada lain kesempatan.

Pejalan juga agen perubahan. Kita dapat memperkecil jurang perbedaan antar pulau, daerah. Ini terjadi kalau kita pejalan tak sekedar datang, melihat, dan menikmati. Tapi juga berbuat sesuatu. Indonesia yang terpisah dalam ribuan pulau menciptakan ribuan perbedaan. Boleh jadi pulau tempat kita tinggal lebih baik kondisinya, lebih mudah fasilitas. Begitu mengunjungi sebuah pulau yang miskin fasilitas, mungkin akan terbentik niat di benak kita untuk membantu. Melihat panel surya di Pulau Ay yang rusak misalnya, kita tergerak memperbaikinya karena kebetulan kita ahli elektro. Begitu sebaliknya.

Ketiga hal di atas, lebih mudah terwujud jika seorang pejalan mau dan mampu mendekati orang lokal. Banyak cara dapat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada orang lokal (bukan hanya pemilik hotel, restoran, atau pemandu wisata, dan pemilik toko suvenir). Misalnya dengan membuka diri, ngobrol ngalor-ngidul dengan penduduk. Modal murah senyum, selalu mengucapkan salam, atau sok ramah dengan anak kecil pun bisa membuat kita dekat dengan penduduk.

Pendekatan bisa dimulai dengan memeriksa bekal yang kita siapkan dalam ransel. Apakah ransel kita berisi :

1.Permen, biskuit, yang dapat dibagi-bagikan buat anak-anak? Cara termudah mendekati orang lokal, khususnya orang dewasa akrab adalah dengan mengakrabi anak-anak mereka.

2.Rokok atau tembakau? Walau promo merokok berbahaya bagi kesehatan gencar dilakukan, namun harus diakui rokok menjadi senjata andalan untuk mendekati orang-orang dan suku-suku tertentu. Jika pergi ke Mentawai misalnya, tembakau atau rokok mirip tiket mengenal orang lokal.

3.Sarung? kain batik? celana batik? Sandang begini dapat dijadikan tanda terimakasih saat perpisahan, dan kerap dianggap lebih berharga ketimbang memberi sejumlah uang. Andai terpaksa tinggal di rumah penduduk, usahakan mengganti apa yang anda makan dengan berbelanja kebutuhan seperti beras, minyak, mi instan, telur, atau meninggalkan uang makan.

4.Obat-obatan umum seperti penurun panas, pilek, batuk. Kadang juga jejamuan. Di Banda kepulauan, seorang ibu meminta saya membawa jamu untuk menguruskan tubuh dan lulur, serta obat pintar buat anaknya. Sebagai gantinya, dia memaksa saya membawa kenari.

5.Buku-buku bermanfaat, seperti buku pertanian, apotik hidup, teknologi tepat guna seperti mengolah sampah, menghasilkan energi alternatif, atau memanfaatkan barang bekas. Juga buku berisi teknik memijat, pengobatan alternatif. Lebih baik lagi jika pejalan dibekali kemampuan tertentu seperti memijat atau berkebun. Hal-hal yang tampak remeh-temeh begini justru amat bermanfaat bagi orang lokal, khususnya yang hidup agak pelosok atau pedalaman.

6.Terkadang memberi perangkat ibadah seperti mukena, alat shalat, rosario, dapat mendekatkan diri ke orang lokal, terutama di daerah-daerah ‘religius’. Tajamnya pertentangan agama di Indonesia (selain suku dan ras), khususnya di daerah konflik seperti beberapa tempat di Maluku, membuat banyak pejalan risih. Andai KTP tak mencantumkan agama seseorang.

Ada satu prinsip yang saya pegang kuat, untuk menilai sesuatu semata berdasar uang. Menghargai ketulusan penduduk lokal lalu membalasnya dengan uang misalnya, memberi hadiah anak-anak yang menolong kita dengan uang, atau hal semacam itu. Murah hati tidak selalu dikaitkan dengan uang. Lebih baik membalas kebaikan dengan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi mereka ketimbang dengan uang. Sedih rasanya melihat daerah potensi wisata yang masyarakatnya menjadi materialis, lalu dilindas komersialisasi dan materialisme itu. Tak perlu menciptakan Vang Vien kedua di Indonesia.

Catatan:
Vang Vien : sebuah tempat di Laos, yang masyarakatnya tergerus karena komersialisasi tempat wisata. Masyarakat tempat yang tenang dan indah itu akhirnya dipenuhi kejahatan, para pemabuk, dan pemadat. Surga bagi turisme, bagi para turis, tapi menjadi neraka bagi penduduk lokal.

Advertisements