Tags

,


Aku sedang duduk di terminal dekat Phsar Thmey, menunggu bus yang akan membawaku ke Poipet ketika melihat seorang perempuan tak begitu tua mendatangi tempat penumpang duduk. Tak ada nyanyian atau musik sekedar seperti umumnya yang dilagukan pengemis berkedok pengamen di negeriku. Dia hanya menjulurkan sebuah tas plastik berwarna merah, mendekati penunggu bus sepertiku yang mengisi tiga baris tempat duduk dari plastik warna biru.

 tkpotongAda penunggu yang buru-buru membuka dompetnya dan menaruh selembar kertas biru senilai seribu riel, kertas hijau lima ratus riel, atau beberapa lembar kertas merah kumal senilai seratus riel. Usai wanita itu berlalu, datang lagi pengemis baru, masih dengan pakaian bersih pantas pakai. Lagi-lagi orang berebut memberi lima ratus atau beberapa ratus riel. Lalu datang seorang lelaki, setengah baya juga dengan pakaian lusuh yang kupikir bersih dan layak pandang. Masih orang mau memberi beberapa ratus riel.

Lalu, datang seorang perempuan dan seorang bhiksu. Perempuan itu berbicara dalam bahasa Khmer yang kurasa artinya adalah, ‘Aku meminta sumbangan kalian atas nama bhiksu ini. Jadi berdermalah.” Mungkin itu diucapkannya setelah melihat antusias orang memberi pengemis sudah mengempis. Sebetulnya bukan mengempis, tapi kurasa karena kami, para penunggu, mulai kehabisan uang receh.

Ada seorang ibu yang rajin memberi sebelumnya, sampai menunjukkan dompetnya hanya sekedar menunjukkan uang recehannya habis. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya meminta maaf. Aku masih punya beberapa ratus riel. Sejak tadi, jika pengemis itu tak mendekatiku, maka tak kuangsurkan uang kertas dua-tiga ratus riel. Kini, kuangsurkan tiga lembar kertas warna merah. Dan, perempuan itu berlalu sambil tersenyum.

Ini negeri yang aneh, pikirku. Banyak orang welas asih kepada pengemis. Phnom Penh memang kota aneh. Setidaknya, baru di terminal bus ini kujumpai pengemis. Di jalan, di lapangan, atau sepanjang tempat-tempat yang dipenuhi turis, jarang kujumpa pengemis. Yang banyak justru sopir tuktuk dan penjual minuman kemasan. Dan animo orang untuk memberi pengemis uang begitu besar.

Aku ingat Raiya, gadis yatim piatu yang segera mengangsurkan uang begitu melihat seorang ibu dan anaknya yang mendorong gerobak. Padahal hidup Raiya sendiri sudah pas-pasan di Siem Reap itu. Ada juga anak-anak jalanan yang suka menadahkan tangan kepada turis yang berbelanja di pasar pagi. Tapi mereka mau menerima apa saja. Gula-gula, sisa air mineral. Tak harus uang. Dan, andai kepergok oleh polisi wisata, mereka akan ditangkap dan dimarahi.

Mengemis mirip bukan budaya di negeri Angkor ini. Orang terbiasa bekerja keras, apapun pekerjaannya. Mencabuti rumput di taman, mencari ikan, menjual pakaian, makanan, apa saja. Bahkan anak-anak umur 6-10 tahun banyak memenuhi kawasan Angkor Wat untuk berdagang kartu pos, scarf sutra kualitas rendah, apa saja, demi mengejar untung 1-2 dolar sehari. Duit sebesar itu sudah cukup untuk mengganjal perut mereka, sekedar bertahan hidup. Karena, rata-rata pendapatan penduduk Kamboja antara 60-70 dolar per bulan. Bahkan banyak penduduk yang penghasilannya di bawah itu.

Riel sebagai mata uang resmi Kamboja hanya setingkat lebih baik ketimbang rupiah. Jika satu dolar Amerika setara dengan Rp 9700, maka dia juga setara dengan 4000 riel. Sebetulnya harga makanan di Kamboja sama saja dengan Indonesia. Ada roti Prancis isi seharga 1500 riel (Rp 4000), ada es krim seharga 200 riel (Rp 500) di desa pelosok Takeo, makanan di pasar kota wisata sekitar $1-1,5. Sama saja!

Yang berbeda mungkin harga bensin atau solar. Harga bensin berkisar antara 4700 riel (produksi PTT, sekitar Rp12.000) dan 5300 riel (produksi Total, sekitar Rp14.000). Bandingkan dengan harga bensin Indonesia yang Rp6000 sekian dan selalu memicu demonstrasi jika dinaikkan. Padahal, Kamboja secara ekonomi lebih miskin dari Indonesia dan mereka bukan negara penghasil minyak.

Mata uang Riel selalu membuat aku terkaget-kaget. Bukan hanya orang-orang negeri itu lebih suka dolar (jika di perkotaan), tapi aku dapat menilai kejujuran orang dari jumlah riel yang kerap kuterima sebagai uang kembalian. Ketika berbelanja di sebuah minimarket, aku mendapat kembalian riel setelah membayar menggunakan dolar Amerika. Si penjual menetapkan patokan 1 dolar sama dengan 4000 riel. Ketika seharusnya menerima kembalian $2,5, aku menerima 10 ribu riel.

Ketika naik minivan ke Takeo, aku harus membayar 20000 riel. Namun satu-satunya uang ku yang tinggal hanya selembar 100 dolar. Malu rasanya dilihat belasan orang dalam van, seolah aku tuan kaya raya. Jadi, kembalian si sopir langsung aku masukkan ke kantong tanpa menghitung dulu uangnya. Sopir itu menukarkan uangku di pom bensin. Uang kembalian kuterima dalam bentuk dolar dan riel. Sampai di tempat tujuan, Takeo, baru kuhitung kembaliannya. Rupanya si sopir menghitung $1 sama dengan 4400 riel, sama dengan ‘rate’ yang berlaku waktu itu. Kejujurannya kuacungi jempol. Sungguh, aku tak keberatan jika dia mengembalikan uangku dalam hitungan 1$ sama dengan 4000 riel. Namun toh tidak dia lakukan.

Hal-hal seperti ini kerap aku temui di Kamboja. Contoh lain, aku membeli roti Prancis dari pedagang biasa yang tak dapat berbahasa Inggris. Dia memberi harga 1500 riel per potong. Namun jika dia dapat berbahasa Inggris, harganya naik menjadi $1 per dua potong roti. Begitu juga tukang ojek. Tukang ojek yang ‘sedikit’ dapat berbahasa Inggris akan menetapkan tarif 3-4 kali tarif normal dibanding yang tak dapat berbahasa Inggris. Itu sebabnya aku selalu pilih yang ‘culun’, agar mendapat tarif standar, bukan dilebih-lebihkan. Semakin pintar orang, rupanya semakin mahal dia menetapkan jasa pelayanannya.

Dimuat juga di http://baltyra.com/2013/05/10/kamboja-pengemis-dan-uang-riel/