Tags

, ,

Dulu mereka dikenal sebagai orang pedalaman yang tertutup dan pemalu, kuat memegang tradisi, dan dikenali dari sarung hitam yang dikenakannya. Kemiskinan memaksa mereka membuka diri, kalau perlu berkompromi dengan tradisi. Demi kehidupan yang lebih baik, alasannya. Namun semua itu belum cukup.

Oto sudah sarat muatan. Namun sopirnya masih berputar-putar mencari penumpang, mengitari jalan sepanjang terminal kota Ruteng. Ketika akhirnya truk dengan tempat duduk berjajar di belakang ini melaju, membelah bukit-bukit tinggi, menekuk aspalan tipis penuh tikungan, saya merasa lega. Sebagian penumpang bergelantungan di sisi luar, membiarkan tubuhnya digores-gores pepohonan. Harum bebungaan kopi mengisi dingin udara, bercampur kuikan babi hitam sebesar anak kerbau di bangku belakang.

ma2_1_1

rumah adat Todo

“Mau ke mana?” tegur pemuda yang duduk di depan saya. Usai sejenak bertukar kata, pertanyaan serupa ganti dilontarkan seorang bapak bersarung hitam di sampingnya, lalu orang di sebelahnya, disambung orang di belakangnya, lalu disampingnya, begitu seterusnya. Hingga penumpang seluruh oto tahu tujuan saya.

 Di balik penampilannya yang tertutup dan pemalu, orang Manggarai ternyata ramah dan selalu ingi tahu. Bentuk fisiknya pun tak melulu berkulit gelap atau berambut keriting. Banyak yang rambutnya lurus, wajahnya halus, dan berkulit langsat. Banyak suku bangsa yang memengaruhi penghuni kabupaten terluas di Flores barat ini. Di antaranya orang Bugis, Bima, Minangkabau, dan Portugis. Orang Bugis menghuni pantai, sementara yang lain berdiam di pebukitan.

Manggarai dikenal kukuh mempertahankan tradisi. Hampir di setiap desa dapat dijumpai rumah adat. Di Desa Todo Kecamatan Satarmese misalnya, rumah adat yang besar berada di puncak bukit. Rumah ini dihuni tujuh keluarga yang dipisahkan lewat sekat di antara hamparan tikar di dalam rumah.

“Mereka baru boleh menetap di rumah adat setelah melakukan upacara potong kerbau yang disebut kabawa’e,” jelas Sebastian Manggur yang menjamu saya saat itu.

Ketika digelar upacara adat seperti menyambut tahun baru atau penti, rumah adat akan menampung 400-500 orang, meliputi tamu dan turis. Bagian dalam rumah adat amat gelap karena tak berjendela. Hanya pintu dan undak-undakan di sana. Kalau mata awas, bisa terlihat sebuah kendang kuno dalam rumah kuno dari kayu dan beratap daun rumbia itu. Konon kendang tersebut terbuat dari kulit manusia, dan mengandung sebuah kisah.

“Kalau kendang ini ditabuh, saudara kembarnya yang tersimpan di Bima akan ikut berbunyi. Kendang ini merupakan bukti ikatan cinta seorang Putri ima dengan pemuda Manggarai. Sayangnya cinta mereka tak kesampaian,” lanjut Sebastian.

Kehidupan sehari-hari orang Manggarai pun sarat tradisi. Ketika menginap di rumah Sebastian, dia menyerahkan ayam putih kepada saya dan meminta saya memotongnya. Adat ini disebut manuk kapuk, yang berarti dia menyambut saya sebagai tamunya dengan tulus hati. Lalu jamuan terbaik pun saya dapatkan, membuat saya merasa malu telah merepotkan.

Pada hari kedua Sebastian mengajak saya mengunjungi rumah penduduk. Di setiap rumah, hidangan wajib segelas kopi di atas bantal harus saya minum. Sementara para lelaki duduk di tikar mengelilingi saya, perempuan tinggal di dapur untuk menyiapkan makanan. Kalau ikut duduk di ruang tamu, mereka lakukan sambil menenun sarung.

Perempuan Manggarai penenun yang handal. Mereka menenun sarung untuk dikenakan sehari-hari. Beberapa di antaranya mahir menenun songke, sarung hitam dengan sulaman geometris aneka warna bunga rumput. Songke merupakan tenun sulam khas Manggarai yang tak bakalan ditemukan di daerah lain Flores. Mirip pakaian identitas. Itu sebabnya ke mana pun pergi, orang Manggarai selalu membawanya. Saya sempat membeli songke kelas dua. Harganya Rp75.000. Ketika tak punya uang, songke itu saya jual Rp 250.000. Kini saya dengar harganya mencapai Rp 400.000.

naik oto ramai-ramai

naik oto ramai-ramai

Memelihara babi hitam juga menjadi tradisi. Nyaris tak ada rumah yang tak dilengkapi kandang ela atau babi. Namun jangan harap dapat menyantap daging babi setiap hari. Binatang yang beratnya bisa mencapai 500 kilogram ini hanya dipotong untuk keperluan upacara adat. Bersama kerbau dan kuda, babi dijadikan mahar atau helis ketika lelaki melamar perempuan.

Orang Manggarai di pantai umumnya menjadi nelayan, sedang yang menghuni pebukitan menjadi petani dan pekebun. Mereka menanam padi, palawija, sayur, dan pisang. Sementara kebun dipenuhi kopi, cengkeh, dan vanili. Kesuburan tanah Manggarai membuat hasil panen melimpah. Sayangnya itu tak membuat petani makmur. “Biarpun hasilnya banyak, hasil panen kami tak laku dijual. Jadi kami tetap saja miskin,” keluh Baldus, petani setempat.

Ketidaktahuan mereka akan harga dan distribusi pertanian, kerap dimanfaatkan tengkulak. Mereka jadi mangsa empuk, tanpa bisa berbuat apa-apa jika hasil panen dan kebunnya dibeli dengan harga sangat murah. Hidup mereka pun menjadi amat bersahaja, bahkan cenderung mengenaskan bagi yang tak biasa melihatnya. Banyak anak SD berangkat ke sekolah dengan telanjang kaki. Anak-anak kecil bermain dan berlarian di halaman dibungkus baju usang dan hdung penuh ingus. Mandi di ruang terbuka, berselimut sarung sambil menghadap tong bekas untuk menampung air menjadi pemandangan yang biasa.

Makanan seperti telur, ikan, atau daging menjadi barang langka. Begitu juga kamar mandi dan kakus. Hanya segelintir rumah yang dilengkapi toilet permanen ini. Umumnya mereka menggunakan tong bekas sebagai bak penampung air mandi, dan lubang di tanah yang berdekatan dengan kandang babi sebagai kakus.

“Bagaimana mungkin mau membangun kamar mandi dan kakus jika rumah masih terbuat dari kayu pohon kelapa? Atapnya daun rumbia, lantainya masih tanah, dan mesti berbagi dengan banyak orang dalam satu ruangan,” kata Isfendi yang pernah lama tinggal di Manggarai.

menenun kain

menenun kain

Memang ada juga rumah yang beralas semen dan berdinding batako buatan sendiri. Rumah macam itu biasanya dimiliki para pendatang atau warga asli yang kehidupan ekonominya lumayan.

“Seharusnya kami bisa hidup lebih baik karena sudah ada jalan dan oto. Kini tak perlu lagi membawa hasil panen ke pasar dengan berjalan kaki seperti dulu.” Lagi-lagi Baldus mengeluh.

Dulu, Manggarai pebukitan benar-benar terisolasi. Tak ada jalan raya atau angkutan. Untuk bepergian jauh, penduduk mesti berjalan kaki atau naik kuda. (Saya rasa ini bagian terseksi. Naik kuda, bayangkan! Mirip para koboi di film Wild Wild West). Di akhir 1980-an, seorang misionaris asal Swiss bernama Pater Stanis Ogrebek, SVD, membawa perubahan. Dia menggerakkan warga setempat untuk memapras bukit, membuka hutan, demi membangun sebuah jalan. Dia juga bekerja sama dengan lulusan VEDC di Malang, bahkan memanfaatkan dana bantuan sebuah LSM asing guna mengupah penduduk yang mau bekerja membuka jalan. Manggarai pun tak lagi terisolir.

“Pastor Stanis itu mirip malaikat. Dia membuat kami hormat dan mau bekerja keras. Berbulan-bulan kami menebas tebing, meratakan jalan hingga ke ujung pantai di Desa Rendang. Bahkan kami sempat membangun jembatan batu di atas Sungai Wae Mau. Kami lakukan itu semua agar mudah berhubungan dengan dunia luar, sehingga dapat memperbaiki kehidupan kami.” Baldus yang ikut bekerja waktu itu, kembali mengisahkan.

Ketika akhirnya jalan beraspal tercipta dan oto hilir mudik setiap hari, dua kali sehari, ekonomi penduduk tak juga membaik. Mereka akhirnya sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari untuk mengejar ketertinggalan. Para petani mulai belajar bertani dengan benar, anak-anak semakin banyak yang pergi ke sekolah, dan para gadis tak segan membaca buku di waktu luang. Dua anak Sebastian yang duduk di SD misalnya, mulai belajar bahasa Inggris di sekolah minggu.

Belakangan semakin banyak pasangan yang memilih perkawinan ala gereja yang sederhana ketimbang kawin adat. “Kalau punya uang, baru kami pakai cara adat,” kata Didis yang sebentar lagi menikah. Tampaknya bila harus berhadapan dengan kemiskinan dan keterbatasan, adat pun harus mengalah.

Catatan:

Tulisan ini adalah uraian perjalanan ke Manggarai, Flores tahun 2001 dan pernah dimuat di majalah Familia edisi awal (tahunnya saya lupa, sekitar 2001-2002) dengan judul ‘Menggapai Harapan di Tanah Manggarai’. Saya tuliskan kembali di sini setelah sedikit saya sunting isinya.

Saya rindu Manggarai. Semoga banyak terjadi perubahan yang positif sekarang. Kopi Manggarai yang beraroma coklat itu, semoga bisa terkenal dan terjual dengan harga pantas. AA.

Advertisements