Tags


Saya menemui Seno Gumira Ajidarma tahun 1997, demi sebuah liputan yang ditugaskan redaktur saya –Tina- ketika masih bekerja di sebuah majalah wanita ibukota. Waktu itu saya mewawancarai Seno di kantornya, di markas majalah Jakarta-Jakarta sebelum dibredel, dan kami berbincang pendek. Entah dia sadar atau tidak bahwa majalah saya sedang mengekspos sesuatu yang romantis, tapi dia menjawab dengan entengnya. Kelak dia marah karena liputan itu, entah bagian mana, sehingga Vega –kawan seangkatan di majalah itu yang kini menjadi editor majalah traveling ternama Indonesia, NGI- selalu mengungkit-ungkit kasus itu jika kami bersua.

books

Saya tak hendak mengungkap kasus di atas, tentu saja. Saya juga tak hendak mengumbar kedekatan saya dengan istrinya –yang kerap mampir di pintu utara gelanggang mahasiswa UGM kala meriah masa unjuk rasa jelang reformasi. Atau mengingat kepanikan istrinya saat Timur Angin, putra mereka, jadi sasak pentungan para polisi dalam demo menjatuhkan Suharto di Jogjakarta.

Hanya, peristiwa-peristiwa yang susul-menyusul di ataslah yang membuat saya tergiur,  membaca buku-buku Seno. Apalagi tatkala rekan saya di majalah yang sama –Endang (alm)- suatu ketika mendatangi saya dan menunjuk buku putih tipis. ‘Kamu harus baca ini, penting!” begitu bujuknya. Saya tengok judulnya, ‘Ketika Jurnalisme Dibungkan Sastra Harus Bicara’. Waktu itu saya sekedar membaca tanpa memahami benar apa isinya. Kelak setelah menjadi manusia bebas, tanpa pekerjaan yang mengikat, tahulah saya apa maksud buku itu.

Sejak saat itu, saya kumpulkan buku demi buku Seno dengan ‘susah-payah’. Ada lima koleksi saya, yaitu :

Dilarang menyanyi di kamar mandi
Atas nama malam
Jazz, parfum, dan insiden
Iblis tidak pernah mati
Ketika Jurnalisme dibungkam sastra harus bicara

Sebagai penikmat sastra pemula, saya amat menikmati cerpen-cerpen Seno. Begitu sederhana temanya, runtut gaya bertuturnya, dan bahasanya gamblang. Tak sok nyastra atau diliris-liriskan. Unsur kebebasan, semata berkisah, kuat menggema dalam kisah-kisahnya. Belum lagi gaya bahasanya yang kaya humor –meski kerap nyindir dan nyinyir- serta keberpihakannya kepada kemanusiaan.

Di antara semua buku, yang paling saya suka memang ‘Ketika Jurnalisme…’ Tak hanya mengisahkan susahnya menyatakan kebenaran di era represi pers masa orde baru dalam kasus Timor Timur, namun dia juga memberi solusi bagaimana berita dapat disamarkan lewat karya sastra. Jadi wartawan tak perlu ‘onani’. Bertahun kemudian, ketika menjadi manusia bebas, berpetualang ke sana sini dan mengumpulkan data penelitian di jalanan, saya menyadari makna buku ini.

Laporan harfiah, kebenaran lapangan, kerap tak dapat diutarakan dengan semestinya dengan berbagai alasan. Mulai atas nama keselamatan, keamanan, dan stabilitas negara hingga alasan demi kepentingan umum yang ‘dangkal’ otaknya.. Bahkan, hal ini masih berlaku di era keterbukaan yang serba kebablasan seperti sekarang. Maka kita dapat menuliskannya dalam bentuk karya sastra, baik cerpen, puisi, atau novel, dengan nama-nama fiktif, setting fiktif. Walau beraneka warna, kebenaran tetaplah kebenaran. Walau ditopang aneka gaun, jiwa kebenaran tetaplah kebenaran. Tak mungkin manusia berpaling darinya.

Buku-buku Seno juga menjadi salah satu referensi saat saya bekerja di Timor Leste tahun 2003-2004. Saya jadi punya pembanding, dan bisa bersikap waspada dan bijak di sana. Kini, setelah buku berpindah tangan, saya harap pewarisnya akan merasakan manfaat yang sama, seperti yang saya dapatkan dari buku tersebut. Buku, tak hanya membawa ruh penulisnya, tapi juga ruh orang-orang yang mencintainya.