Tags

,


Seperti penikmat sastra pemula lainnya, saya kenal Umar Kayam dari cerpen masyhurnya, ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’. Padahal, ketika kuliah di Jogja, beberapa kali saya berpapasan dengan Pak Kayam. Tak jarang malah mengikuti diskusinya. Tapi kan saya bukan mahasiswa sastra, jadi mata saya mirip kelilipan memaknai sosok Pak Kayam.

para-priyayi

Sebelum membeli bukunya, Para Priyayi dan Jalan Menikung, otak saya yang dilahirkan dan dibesarkan di Jawa ini dipenuhi gagasan menyesatkan tentang apa itu priyayi. Sering nenek saya di masa lalu mengingatkan, “Mbok tumindak kui sing alus koyo priyayi kae.” Pikiran saya, priyayi itu orang yang lemah-lembut. Selembut pasir, mungkin, atau malah debu.

Ibu saya pun kerap berkata, “Wong kui mriyayeni,” begitu melihat tetangga yang tampak kaya, baik hati, dan tidak sombong. Namun adakalanya sikap itu ditujukan buat mereka yang memiliki ‘umbul-umbul’ alias embel-embel ‘Raden, Raden Ajeng, Raden Ayu, Raden Mas’ dan sekaumnya. Jadi apa itu priyayi?

Membaca dwilogi novel ‘Para Priyayi’ barulah saya paham yang dimaksud dengan priyayi. Tentu saja pemahaman ala Pak Kayam yang humanis itu. Priyayi, sebagaimana dituturkan dalam novel, bisa saja berasal dari keluarga petani. Seperti Soedarsono yang beruntung, dibantu asisten wedana Ndoro Seten sehingga dapat bersekolah dan akhirnya menjadi guru. Jadi, priyayi adalah orang terpandang, yang dihormati masyarakat sekitarnya.

Para priyayi tak selalu melahirkan anak-anak yang priyayi juga. Sebagai misal, dari ketiga anak Soedarsono –yang kemudian diganti Sastrodarsono agar tampak ‘meraden’- tak seorang pun yang dapat menyaingi ‘kepriyayian’ bapaknya. Sedang, kemenakannya yang anak kecu, maling, justru melambung martabatnya menjadi ‘priyayi’ karena patrap, tingkah lakunya yang baik, serta kemampuannya menata hidup.

Jadi apa itu priyayi? Pak Kayam menjawabnya dengan kisah panjang, tiga empat turunan, dalam novel ini. Kisah yang humanis, menyentuh, penuh guyonan segar yang menjadi ciri khasnya, serta sangat ‘Jawa’. Latar cerita pun beragam, mulai Wanagalih, Wanalawas, hingga ibukota. Yang membuat saya berdecak, novel tak harus panjang lebar, tapi hanya 2-3 ratus halaman. Makanya nggak bikin pegal leher dan punggung membacanya.

Mantan atasan saya di sebuah majalah –Tina, lagi-lagi Tina- pernah mengatakan betapa dia sangat menikmati humor ‘njelehketreh’ ala Umar Kayam. Kawan satu lagi, jatuh cinta pada tulisan-tulisan Pak Kayam kalau ‘pas’ membahas tentang kuliner. Wow, mulai penggeng eyem, gudeg, tempe bacem, sate usus, dan lainnya. Beruntung saya pernah menikmatinya dalam buku kumpulan kolomnya ‘Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih’.

Satu hal yang dapat dipelajari dari Pak Kayam, bertutur dalam bahasa tulis tak harus kaku,’meka-meku’. Tapi dapat meliuk-liuk ala belut. Kisah berbaur dengan seloroh segar, ungkapan-ungkapan bahasa lokal, dan nggak perlu ‘mutungan’. Pantaslah kalau Pak Kayam disebut mampu memperkaya wacana karya sastra Indonesia. Tertarik membaca karya Pak Kayam? Belilah bukunya. Sayang buku saya sudah laku.

Salam,

.