Tags

,


Ini perjalanan 3-4 tahun lalu, merupakan bagian dari episode menyusuri kebun teh di Jawa bagian tengah dan timur. Kali ini saya niatkan bertandang ke kebun teh di lereng Gunung Lawu.

telawu2

Saya tergerak menuju Gunung Lawu setelah menjumpai teh goreng dalam perjalanan menuju Pegunungan Menoreh beberapa waktu lalu. Bagaimana kondisi industri teh rakyat yang lain? Sepilu Menoreh-kah? Atau..? Sempat saya jumpa kebun teh sepanjang pegunungan Jawa Barat bagian selatan. Konon karena begitu murahnya harga daun teh segar, hanya Rp 150/kg, maka penduduk setempat enggan menjualnya. Lebih baik dikonsumsi sendiri, begitu kata mereka.

Lalu seorang kawan memberi saya informasi tentang kebun teh di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Karena letaknya yang lumayan jauh, dan pertimbangan cuaca yang kerap hujan, saya putuskan menginap semalam di rumah kawan, Sunu, di Karanganyar. Pagi sekali, baru saya berangkat dari terminal bus Karangpandan, menuju Desa Kemuning dengan naik bus jurusan Candi Cetho. Bus kecil ini hanya ada sampai tengah hari. Jadi saya mesti bergegas.

Saya turun 3 km sebelum Desa Kemuning, biasa nyasar, dan akhirnya memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, menanjaki kebun teh dan ngobrol dengan penduduk sekitar. Daerah sekitar Lawu sebetulnya sudah lama saya akrabi, sejak kuliah semester awal dulu. Bahkan naik Gunung Lawu mirip ngelencer ke Tunjungan atau Malioboro. Sudah jadi rumah kedua.

Jalanan sepanjang perkebunan teh terus menanjak, tapi sudah beraspal dan semulus paha mama. Di kiri saya kebun teh menghampar. Sebelah kanan rumah-rumah penduduk. Tapi kebun teh ini bukan milik rakyat, melainkan dikuasai PT Rumpun Sari Kemuning. Sebagian tanah yang digunakan berkebun milik PT, sebagian lagi menyewa dari tanah penduduk setempat. Hari itu cuaca berganti sesuka hati. Sebentar terik sekejap mendung. Untung langit di bagian kiriku biru jernih dengan gumpalan putih awan yang menari. Kebun tehnya sendiri jadi tak menarik dibanding langit di atasnya.

Hari itu tak saya jumpai pemetik teh. Terlalu siang, mungkin. Biasanya mereka bekerja pagi sekali. Ada juga satu dua lelaki yang berjalan di sela-sela gundukan daun teh. Mereka sedang menyiangi tanaman, sebagian menyemprot dengan pembasmi hama. Wah, kebun teh ini ternyata bukan kebun teh organik. Dari mereka saya tahu luas total kebun milik PT ada 437 ha, namun hanya 392 ha yang aktif menghasilkan daun teh. Sisanya digunakan menjadi pabrik pengolahan teh, pergudangan, lahan pembibitan, rumah karyawan, dan emplasemen.

Puas memandang dan mengabadikan suasana sekitar kebun, saya pun mampir ke sebuah warung bakso di dekat pabrik. Dalam angan saya, pastilah bakso di situ nikmat. Mirip bakso Malang. Aromanya memang sedap mengundang selera, pentolnya pastilah gurih dan kenyal. Apalagi gerimis mulai mengguyur di luar. Udara yang dingin bercampur basah, membuat saya tergoda menghangatkan perut.

telawu1

Ternyata, harapan saya meleset. Pentol baksonya dari campuran kanji dan bumbu penyedap. Tak berbau daging sama sekali. Paling hanya rebusan tulang daging yang ada. Kopi panasnya yang lumayan. Sekilas saya lihat si pemilik warung juga menjual benalu teh, yang konon dapat menyembuhkan kanker dan penyakit berat lainnya.

Sambil ngopi, si penjual bakso mengajak saya ngobrol. Maka, tak saya sia-siakan kesempatan untuk mencari informasi.

‘Semua kebun teh di sini milik PT ya, Mas?’ pancing saya.

‘Iya.. punya PT Sari Kemuning,’ jawabnya kalem.

‘Ada nggak teh yang diolah penduduk, yang digoreng misalnya.’ Saya ingin tahu.

‘Ada juga dijual di pasar, pagi-pagi. Tapi itu ambilnya dari teh kebun juga. Istilahnya nyuri, gitu,’ jawab si penjual bakso.

‘Ooo.. banyak yang gitu, Mas?’

‘Nggak banyak, tapi ada juga sih. Mbak mau cari teh goreng itu? Besok pagi saja di pasar.’

‘Mahal nggak Mas?’

‘Nggak mahal. Paling sekitar 15 ribu 20 ribu sekilo.’

‘Kalau penduduk yang kerja metik teh kok nggak ada ya?’

‘Ada juga, tapi di bagian lain. Di sinikan dibagi-bagi daerahnya. Ada daerah yang mesti dipetik hari ini, ada yang besok. Biasanya mereka diangkut pake truk PT,’ jelasnya panjang lebar.

Ketika hujan mereda, saya coba menuju pabrik. Ngobrol sebentar dengan satpamnya yang ramah. Siapa tahu dia mengijinkan saya masuk dan motret-motret seputar pabrik.

“Pak, kalau tanya informasi seputar teh mesti menghubungi siapa ya?”

“Biasanya sih Pak Mandor, Mbak. Tapi hari Minggu begini orangnya libur. Coba saja Mbak masuk ke dalam, rumahnya yang besar dekat gudang itu,” jelasnya ramah.

“Terimakasih, Pak.”

Aji mumpung, sambil masuk ke kawasan pabrik segera saya mainkan kamera, mengarahkannya ke beberapa tempat. Pabrik nyaris sepi. Gudang penyimpanan dan bangunan lain benar-benar mirip bangunan kuno, peninggalan Belanda mungkin. Akhirnya saya bertemu orang yang mengangkuti teh ke atas truk. Tak ada Pak Mandor yang saya butuhkan. Tapi sempat ngobrol sejenak dengan mereka. Entah tampang saya yang culun atau gaya saya yang bodoh, tak ada orang yang curiga. Dua puluh menit kemudian, saya kembali ke pos satpam.

“Pak Mandornya nggak ada, Pak. Besok saja saya kemari lagi.” Saya tahu ini basa-basi. Paling lama tengah hari saya sudah meninggalkan tempat ini, ikut bus terakhir.

“Oh.. nggak apa-apa, Mbak.”

 “Kebun teh di sini luas ya, Pak. Produknya pasti banyak dan terkenal.” Saya mencari sela.

“Benar, Mbak. Hasil teh di sini dibawa ke banyak tempat. Ada yang ke pabrik pengolahan di  Gunung Subur, Njaten. Ada yang ke Pekalongan. Bahkan teh jenis peko sudah diekspor ke Afghanistan.” Dari nada suaranya, jelas sekali kalau dia bangga bekerja di sini.

“Wah, pasti gaji buruhnya besar.” Aku mulai memancing.

“Nah, itu masalahnya Mbak. Pabrik pakai buruh harian. Upahnya ya tergantung ada pekerjaan atau tidak,” katanya pelan. Mirip ulat hijau yang menciutkan perutnya. Gepeng.

Saya tinggalkan satpam itu dalam diam. Masih terngiang keterangan tukang bakso dan orang-orang yang saya temui di jalan tadi. Upah buruh penyemprot antihama sekitar Rp15.000 untuk sehari, bekerja dari jam 6.00 hingga 13.00. Sedang upah buruh pemetik pucuk daun teh dengan jam kerja yang sama lebih rendah lagi, Rp13.000 sehari. Artinya setiap jamnya mereka menerima kurang Rp2.000. Jika ada pemilik kebun teh rakyat menyerahkan teh hasil petikannya, mereka menghargai satu kg teh basah Rp300. Wah, mau tak mau, saya jadi membandingkan sebuah gandul teh celup yang dihargai Rp 1000 untuk membuat satu gelas teh panas. Dunia memang ueeedyaaan!

Note: Tulisan yang berhubungan:

Menoreh (1) Dalam Kenangan

Mnoreh (2): Abon Kera dan Kemiskinan

http://baltyra.com/2013/06/11/birunya-teh-lawu/