Tags

, ,


Tatkala masih duduk di bangku sekolah menengah, saya membaca satu cerpen Darwis Khudori. Judulnya ‘Gadis dalam Lukisan’., berkisah tentang seorang remaja yang naksir teman sekolahnya, gadis cantik. Suatu hari dia melihat lukisan gadis pujaannya di tangan sahabat tuanya, seorang pelukis. Maka tahulah dia bahwa si gadis adalah ‘pacar’ si pelukis sahabatnya. Rumit? Tidak! Menarik? Pasti!

orang2 kotagede_1_1_1

Ketika buku ‘Orang-orang Kotagede’ diluncurkan, dan Darwis membacakan cerpen-cerpannya ini selama dua hari di Lembaga Indonesia Prancis, Jogjakarta, Agustus 2010, saya sempatkan nyanggong. Saya ingin tahu lelaki macam apa Darwis itu, yang bukunya berkisah kental tentang kejelataan orang-orang yang hidup di kampungnya, Kotagede. Bukunya, mirip sebuah memoar, berkisah tentang pengalaman masa kecilnya, sekaligus orang-orang di sekitarnya, yang tinggal di Kotagede. Saya terpesona dengan isi bukunya, sampai membuat dua versi resensinya dan dimuat di media lokal. Mungkinkah saya terpesona dengan orangnya?

Ya, Darwis memang memesona saat itu. Dalam imaji saya, doktor lulusan Universitas Sorbonne Prancis ini, akan tampil necis. Ndilalah yang hadir malam itu lelaki yang tak lebih necis ketimbang perajin perak Kotagede. Menghina? Bukan! Darwis adalah bukunya saat itu. Kepekaannya terhadap orang-orang kalah di kotanya, mengakar dalam selubung jiwa dan rupanya.

Usai membacakan cerpennya, dia berkata, ”Sudah banyak  buku yang membahas Kotagede. Itu sebabnya saya ingin menghadirkannya dalam bentuk fiksi, kisah tentang orang-orang kecil di sekitar saya dulu.

Ke-21 cerpen yang terhimpun dalam buku ini memang banyak menuliskan kisah orang kalah. Ada kisah si buruh Atun yang bercita-cita tinggi, Lik Karyo yang apes berhubungan dengan perempuan, atau si gila Monil dan Kino.

Secara umum, kisah-kisah dalam bukunya dapat dibagi menjadi dua, kisah sebelum tahun 1980 yang lebih berupa otobiografi penulisnya, Darwis, dan kisah sesudahnya yang berhubungan dengan orang-orang kecil di sekitarnya.

Membaca bagian pertama kisah ini, saya jadi teringat novel-novel awal NH Dini seperti Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, yang mirip otobiografi. Biasanya, karya awal seorang penulis memang bersumber dari kisah hidupnya. Unsur ‘aku’, ‘kisahku’, atau ‘apa yang kualami’ begitu kental terasa. Usai era ‘aku’ berlalu, penulis mulai merambah orang-orang di sekitarnya. Kepekaan sosialnya pun diasah. Era inilah yang mewarnai bagian kedua kisah-kisah Darwis. Kisah yang kental dengan nilai kemanusiaan.

Kalau Anda pernah membaca absurditas-nya Albert Camus dalam ‘Mite Sisifus’, maka saya pikir Darwis pun dilanda kegalauan yang sama tatkala mengisahkan jelata malang yang banyak terserak di Kotagede. Ketika orang kalah terus-terusan kalah, ketika jelata remuk digilas kemalangan, akankah hidup layak dijalani?

Hidup memang absurd, tak jelas ia berpihak pada siapa. Namun Darwis yang dilingkupi para jelata kalah, terbukti mampu memutus rantai absurditas ini. Dia yang dibesarkan dalam lingkungan ‘kurang beruntung’, tak hanya berhasil lulus dari teknik arsitektur UGM, bahkan menyelesaikan gelar master dan doktornya di Prancis. Jadi, kalau Camus memandang dunia dengan mata pesimisnya, Darwis justru memihak kaum kalah dengan menceritakannya sekaligus membuka mata pembacanya. Seolah dia berkata sambil mnantang, ‘Kalau kita, yang merasa manusia ini tidak peduli pada yang kalah, maka siapa lagi yang bakal peduli? Atau buat apa lagi hidup harus dilanjutkan?’

Darwis Kini

Ndilalah, beberapa hari lalu, malam jelang Labuhan Merapi, saya jumpa Darwis di rumah kawan, Ouda Teda. Darwis memang masih pamannya. Sosok Darwis tentu tak seperti belasan tahun lalu. Lebih talkative, banyak bertanya dan bercerita, sebagaimana kalangan intelektual lainnya. Sudah belasan tahun Darwis mengajar di sebuah universitas di Prancis, dia juga mengajar di universitas di Afrika, jadi pemahamannya tentang keberagaman agama sudah meluas seiring pengalamannya.

Ada hal menarik yang dikemukakannya tentang hal-hal yang mengancam keberagaman di Indonesia, juga dunia. Di antaranya dominasi ‘agama monotheis’ yang berasal dari timur tengah terhadap agama lokal; kedua dominasi mayoritas terhadap minoritas; ketiga dominasi komunitas terhadap individu, dan terakhir dominasi lelaki terhadap perempuan. Dan keempat unsur ini dimiliki oleh Islam. Detil penjelasannya tunggu saja dalam buku baru yang bakal diterbitkannya -dan sayangnya diluncurkan di Filipina- dalam waktu dekat.

Saya tak bakal berpanjang lebar membahas pemikiran baru Darwis. Hanya mengingatkan, bahwa Darwis yang ‘muhammadiyah’ begitu terbuka menerima dan menganalisa pengaruh dan pemikiran dari luar. Keterbukaan pemikiran ini tak semua orang punya, terlebih di masyarakat majemuk yang pemarah dan gampang dibakar sara. Padahal, kedamaian, keselarasan, hanya dapat diciptakan lewat ketulusan dan keterbukaan pemikiran.

Salam,