Tags

,

Minggu lalu, tanggal 9-10 Juni 2013, saya mengikuti acara labuhan di Gunung Merapi, Jogjakarta. Ini labuhan ketiga yang digelar paska meletusnya Gunung Merapi. Jika sebelum Merapi meletus, labuhan selalu digelar di pos pendakian Rudal (pos dua), usai bencana labuhan digelar di pos 1, Petit Opak. Namun kali ini, karena membaiknya kondisi Gunung Merapi, labuhan diadakan di Sri Manganti, beberapa ratus meter dari Petit Opak. Sri Manganti sendiri bermakna pintu menuju Keraton Merapi.

berebut gunungan

berebut gunungan

Pikuk Labuhan Merapi dimulai sejak Minggu sore. Dibuka dengan arak-arakan –yang sayangnya sedikit pesertanya- dari Balai Desa Umbulharjo, menuju hunian tetap Karang Kendal. Acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tari, dan perebutan gunungan yang berisi ubo rampe –hasil bumi seperti sayuran, buah- hasil kebun penduduk sekitar Merapi. Malamnya, baru diadakan tanggapan wayang kulit semalam suntuk.

mbunteli nasi berkah, siap-siap cari kembang kantil

mbunteli nasi berkah, siap-siap mencari kembang kantil

Keesokan harinya, sejak pukul 06.00 hingga 08.00 berbondong-bondong orang berjalan kaki menuju gapura Sri Manganti. Sebagian peserta labuhan berpakaian adat Jawa dan bertelanjang kaki, sebagian berpakaian ala saya, celana panjang, membopong ransel atau air minum. Sepanjang perjalanan banyak saya temui para relawan, yang berjaga di pos-pos tertentu. Kesannya jadi seraaaam dan muraaam, seolah-olah Merapi siap meletus kapan saja, hehehe.. Untungnya tak ada peserta labuhan yang mengenakan helm atau jaket penyelamat.

seksinya lelaki jawa

seksinya lelaki jawa

Apa makna Labuhan Merapi, dan bagaimana urutan labuhan, pernah saya tuliskan secara lengkap di : Gunung(1) : Labuhan Merapi.

Intinya :

Labuhan Merapi tak sekedar memohon restu arwah leluhur, penguasa Gunung Merapi, agar melindungi dan memberi keselamatan kepada Kraton Yogyakarta. Labuhan  juga menjadi bukti kuatnya ikatan antara masyarakat lereng Merapi dengan alam tempatnya hidup. Ikatan yang dibalut tradisi sejak berabad lalu, yang tak lekang oleh majunya peradaban.

Sedang, kenangan Kinahrejo paska erupsi saya tuliskan di: In memoriam Kinahrejo

Niat saya mengikuti labuhan ini, sekedar mengobati kangen kepada Gunung Merapi. Dulu, sewaktu masih kuliah di Jogjakarta minimal sekali sebulan saya naik Merapi. Labuhan terakhir yang saya ikuti 12 tahun silam, tahun 2002. Jadi sudah lama sekali. Ternyata pada labuhan kali ini saya bertemu banyak sobat lama jaman pendakian dan thethek di Kinahrejo dulu. Tak salah kalau ada ungkapan, ‘kawan yang ditemui di gunung akan bertahan selamanya’.

Rahayu.. Rahayu

Advertisements