Tulisan ini sebelumnya saya posting di baltyra, http://baltyra.com/2013/06/17/ketololan-yang-dipelihara/ dan saya muat kembali di sini sebagai ingatan.

Pagi itu, Jumat 14 Juni sekilas saya lirik koran Jawa Pos yang nyaris tak pernah saya baca. Paling banter hanya menyusuri judulnya. Hanya, kali ini berbeda. Isinya bikin penasaran.

TES KEHAMILAN

Gresik. Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Gresik membuat program baru untuk menyasar kalangan pelajar. Tidak hanya antisipasi seputar bahaya narkoba, lembaga itu juga memantau potensi perilaku seks bebas di kalangan siswa. Kemarin (13/6) BNK mengadakan kegiatan di SMA Hidayatussalam, Kecamatan Dukun.

Dalam program tersebut, petugas BNK melakukan tes kehamilan terhadap para siswi di sekolah itu. Petugas juga mendeteksi kemungkinan adanya siswi yang berpotensi hamil di luar nikah. “Program ini terbilang baru. Kami ingin mengetahui perilaku para remaja, terutama terkait dengan masalah seks,” kata Amin Iskandar, penyuluh BNK Gresik.’

Baru dua alinea membaca, saya sudah terkekeh. Hah! Kok absurd banget. Logika saya agak mutar, membuat pertanyaan berloncatan keluar dari kult kepala.

Kenapa BNK melakukan tes kehamilan? Apa perlunya BNK meneliti kehidupan seks bebas anak SMA? Kenapa pula yang disasar siswi, bukan siswa? Apa memang siswi lebih besar kemungkinannya melakukan seks bebas ketimbang siswa? Bagaimana BNK mengukur potensi perilaku seks bebas di kalangan siswi? Dengan mengetahui apakah mereka hamil atau tidak? Jangan-jangan malah BNK perlu melakukan tes keperawanan, sehingga tahu bahwa siswi yang tidak perawan berarti telah melakukan seks bebas. Amboi..! Ketololan macam begini kok dipelihara oleh yang mengaku ‘pelayan negara’?

Saya lanjutkan membaca lagi.

Program tersebut tidak terlepas dari kekhawatiran akan perilaku seks bebas di kalangan remaja. Indikasinya, selama setahun terakhir, banyak kasus remaja hamil di luar nikah, aborsi, hingga pembuangan bayi. “Tidak sedikit yang terjadi pada para pelajar. Yang cukup mngejutkan lagi, kasus ini juga ditemukan di luar  perkotaan,” ujarnya.

Ooo.. ternyata BNK khawatir dengan perilaku seks bebas. Bukannya BNK itu mengurusi narkoba? Kok bisa begitu perhatian dengan masalah seks bebas, hamil di luar nikah, hingga pembuangan bayi? Apa karena terpengaruh ditangkapnya mucikari yang masih SMP di Surabaya baru-baru ini? Atau ikut-ikutan ulah SMA Batu yang mewajibkan calon siswa baru melakukan tes narkoba dan tes kehamilan? Ah, mirip para pemuka agama saja mereka, pikir saya. Jangan-jangan malah anggota BNK Gresik itu memang para pemuka agama?Gresik kan dikenal sebagai kota para sunan, penyebar agama Islam? Kali ini ganti saya merasa tolol.

Daripada terus menerus tolol, saya lanjutkan lagi membaca alinea terakhir.

Kasek SMA Hidayatusalam Misbahul Abidin juga sempat dibuat kaget dengan tes dadakan tersebut. “Namun, saya sepakat dengan adanya tes itu. Sebab, jika tidak diawasi mulai sekarang, kami khawatir perilaku remaja di Gresik makin sulit terkendali,” harapnya.

Saya tidak tahu apakah kepala sekolah ini merasa takut, tertekan, atau mengakui bahwa perilaku remaka di Gresik memang sudah tak terkendali. Untungnya hasil semua tes negatif. Jadi muka kepala sekolah boleh tegak, sisiwinya tidak tercela, dan mungkin membuat BNK kecewa karena usahanya sia-sia.

Sebagai perbandingan, Sabtu 15 Juni, BNK Surabaya melakukan penyuluhan di sebuah SMA, lalu melakukan tes urine untuk mendeteksi adanya penyalahgunaan narkoba di kalangan siswa dan siswi. Bahkan, petugas BNK mengajari siswa bagaimana mengetes urine sendiri. Nah, BNK yang ini masuk akal tindakannya. Melakukan tes urine untuk mengetahui ada tidaknya konsumsi narkoba, bukannya mengetes kehamilan siswi.

Sebetulnya, masih banyak pertanyaan di otak saya terkait seberapa wewenang BNK atau apa yang bakal dilakukan BNK maupun pihak sekolah andai menemukan ada siswinya yang hamil? Dikeluarkan dengan tidak hormat karena dianggap menodai nama baik sekolah? Atau…

Tapi kapan-kapan saja saya bahas. Kalau tidak, daftar ketololan itu akan sepanjang rel kereta api.

Salam,