Tags

,


Minggu pagi saya sudah siap dengan setumpuk buku. Ada puluhan buku beragam bentuk. Diktat kuliah jaman dulu, buku referensi, fotokopian, bahkan beberapa skripsi entah siapa yang punya tapi menumpuk di almari. Saya sedang melakukan pembersihan besar-besaran. Buku yang patut disumbang telah saya sumbangkan, buku yang tak dibutuhkan sebaiknya diloakkan. Buku yang laku dijual akan saya jual sebagai buku bekas. Saya lebih suka membaca, bukan menyimpan buku. Andai harus menyimpan buku, saya pilih yang bakal saya buka lagi, baca lagi, berulang kali kemudian, sebagai bahan referensi tulisan. Toh di kota saya banyak sekali perpustakaan, baik umum maupun privat. Saya tak bakal kehilangan tabungan ilmu.

kalau ini tukang loak di siem reap, kamboja

kalau ini tukang loak di siem reap, kamboja

Belakangan ini kota saya kerap diguyur hujan. Tidak deras. Tapi nyaris tanpa jeda. Saya berharap hari itu para tukang rombeng atau loakan akan lewat. Kemarin ibu saya telah merombengkan seng-seng yang keropos dimakan umur, perkakas elektronik rusak, kertas koran, botol-botol plastik, kardus. Kini giliran saya merombengkan buku dan bekas fotokopian. Berdasarkan pengalaman saudara saya, buku berbahan kertas putih mesti dipisahkan dengan buku berkertas kuning atau buram. “Yang kertas putih mahal harganya, bisa Rp1500-Rp2000 per kilonya.” Kalau saya punya 10 kilo, berarti akan dapat Rp20.000. Sedang buku dari bahan kertas buram mungkin dihargai antara Rp300-Rp500 per kilo.

Tak berapa lama tukang loak lewat. “Mbeeeng.. rombeng,” begitu teriaknya. Umumnya yang jadi tukang rombeng di kota saya adalah keturunan Madura. Entah mengapa bidang pekerjaan ini jarang dijarah oleh suku-suku lain. Mungkin juga karena banyak para urban berasal dari pulau garam. Hanya butuh 20 menit untuk menyebrang ke Madura via feri.

“Mbeng,” saya panggil dia. Lelaki muda memakai kopiah turun dari sepeda pancalnya. Salah satu kakinya pengkor terkena polio. Saya bilang hendak merombengkan kertas. Dia hendak melihat. Lalu saya tunjuk timbunan dua karung buku yang sudah dipisahkan berdasarkan jenisnya.

“Ini ada sekitar 20 kilo, saya pisahkan yang putih dengan yang buram. Kamu mau bayar berapa?”

Lelaki muda itu mengikuti saya duduk di beranda. Walau jelas orang Madura, dia berbicara Jawa halus, kromo inggil. Dia minta saya memberi harga dulu. Saya tak mau. Sebetulnya saya ingin memberikan buku-buku itu begitu saja. Tapi takut dianggap meremehkan dirinya. Para tukang loak di kota saya bukanlah orang miskin. Penghasilannya dapat mencapai ratusan ribu sehari. Lagi pula, dalam hubungan dengan tukang loak, sudah biasa ada tawar-menawar. Akhirnya dia memberikan sebuah harga, saya minta dinaikkan sedikit. Dia naikkan. Saya sepakat.

Dia lalu mengeluarkan dompetnya. Ada lima lembar uang senilai seratus ribu. Benar kan, dia bukan orang miskin? Dengan modal Rp500.000, uang yang dihasilkannya bisa berlipat dua atau lebih. Apalagi jika dia mendapat rongsokan besi atau barang elektronik.

“Kalau ada barang elektronik rusak, besi tua, tolong kumpulkan buat saya, ya. Kan lumayan, Anda dapat uang, saya juga dapat,” katanya lembut.

Saya iyakan. Memang benar. Jika harus memperlakukan barang-barang rongsokan itu sebagai sampah, tukang sampah yang lewat dua hari sekali akan meminta saya uang lebih diluar iuran bulanan. Bisa Rp20.000 atau lebih, tergantung banyaknya sampah. Namun dengan memanggil tukang loak, saya malah mendapatkan uang.

Ada kawan berkesah, kenapa kertas-kertas bekas, plastik bekas, itu tak disumbangkan saja di beberapa yayasan sosial atau didaur ulang sendiri lalu hasilnya disumbangkan. Permasalahannya, menurut saya, yayasan sosial itu letaknya jauh dari rumah. Kalau mesti menyumbang, saya mesti bawa mobil atau sewa taksi. Tak efektif juga. Kecuali mereka mau menjemput barang ke rumah. Mendaur ulang sendiri? Saya tak punya waktu. Lagian, hidup adalah saling mencukupi, memberi dan menerima. Memberikan barang bekas, rongsokan, kepada tukang loak, juga akan menghidupi mereka. jadi kenapa mesti pusing-pusing dan repot-repot mencari pernyelesaian lain? Hidup sudah rumit, tak perlulah diperumit lagi.