Tags

,

Ini lanjutan hasil pelatihan menulis perjalanan berabad lalu. Bagian pertama ada pada Tips Pejalan: Mendekati Orang Lokal

Salah satu tema yang dibahas adalah bagaimana memperkaya laporan atau tulisan perjalanan, sehingga tulisan menjadi kaya akan informasi dan tidak kering, menyajikan hal baru, dan sukur-sukur tidak membosankan. Salah satu cara membuat tulisan perjalanan yang tidak ‘itu lagi itu lagi’ isinya, dengan melakukan pendalaman materi atau biasa disebut in depth reporting.

Pendalaman materi dapat dilakukan sebelum melakukan perjalanan, sedang dalam perjalanan, dan sepulang dari perjalanan. Caranya dengan:

kalau ini sih panduan wisata lonely planet

kalau ini sih panduan wisata lonely planet

Sebelum melakukan perjalanan

1.Kumpulkan informasi tentang tempat yang akan dikunjungi, baik dari sumber seperti panduan wisata, buku sejarah, atau bertanya kepada orang yang pernah melakukan perjalanan ke tempat tersebut. Saya kerap mendapat kenalan atau contact person yang dapat membantu di tempat tujuan ketika bertanya pada mereka yang pernah mengunjungi tempat yang hendak saya tuju. Ini saya anggap  bonus.

2.Dalam perjalanan panjang yang menggunakan noda transportasi seperti kereta api atau  kapal laut, jangan pernah mengabaikan siapa pun yang Anda temui. Pasang telinga lebar-lebar, beramah tamah dan saling menyapa. Tak jarang, informasi menarik dan penting justru Anda dapatkan dari kawan-kawan baru selama perjalanan. Misalnya saya mendapat informasi tentang Pongki dari Pak Once, yang saya tulis dalam buku Negeri Pala.

Selama perjalanan

1.Bukalah percakapan dengan warga sekitar, termasuk pemuka desa dan pemuka adat kalau mungkin, untuk mengumpulkan informasi

2.Jangan terfokus pada satu hal saja dalam membuat laporan perjalanan. Misalnya Anda ingin menulis tentang nyale dan pasola, maka jangan membatasi pembicaraan dengan orang-orang di sekitar hanya pada dua hal itu. Bersikaplah terbuka menampung dan mendengarkan pembicaraan dari sekitar, dan anggap semua keterangan sebagai data penting. Kelak, Anda akan menyadari bahwa data yang Anda kumpulkan ternyata amat bernilai. Mirip sebutir berlian yang belum digosok. Saya mengalaminya ketika mengunjungi klenteng tua di Banda, dan ternyata klenteng itu berhubungan dengan sejarah pendekar Win Chun (lagi-lagi ada dalam buku Negeri Pala).

Ada beberapa kebiasaan yang saya kembangkan agar tidak mengganggu dan menyolok pandangan mata saat mengumpulkan data, di antaranya:

1.Saya melakukan wawancara mirip ngobrol, tak memegang pensil atau alat tulis. Kelak, data baru saya tulis ketika sedang santai atau malam menjelang tidur. Saya menghindari perekam. Jadi saya memang mengandalkan ingatan.

2.Untuk hal-hal penting seperti nama tempat, nama orang, jalan, atau peristiwa, akan saya catat dalam SMS. Jadi sesekali saya mengeluarkan HP dan mencatat keterangan, mirip hendak mengirimkan pesan kepada teman.

3.Ada beberapa data yang saya kumpulkan lewat cara memotret. Nama jalan misalnya, keterangan sejarah bangunan, data-data di museum, bahkan juga buku penting dan langka. Maklumlah, saya pemalas, malas mencatat di antaranya.

4.Biasanya saya berjalan sejak pagi benar sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam untuk mengumpulkan data. Dalam sehari saya mampu berjalan antara 15-25 km. Saya dapat bertemu orang dari beragam golongan, memotret yang saya butuhkan, tak jarang malah tertidur saat menemukan pohon rindang. Malamnya, kalau tak ada acara adat dan ngobrol dengan penduduk, saya tidur dengan cepat.

5.Walau tak selalu, informasi dapat dikumpulkan dari mulut orang gila. Ketika melakukan perjalanan ke Ternate dan Halmahera, kerap saya temui orang gila yang ‘tidak berbahaya’. Mereka ngoceh apa saja, dan ketika saya dengarkan tahulah saya kalau mereka itu korban kerusuhan agama yang meletus tahun 1999-2001. Kadang saya tanggapi perkataan mereka, sekedar ingin tahu apa yang mereka alami. Dari situ saya tahu seberapa buruk konflik yang meletus. Saya lalu tinggal konformasi dengan pihak yang berwenang.

6.Jangan batasi diri Ada untuk ngobrol dengan siapa saja. Anak-anak misalnya, selalu tahu tempat-tempat menarik yang tak diketahui orang dewasa. Para ibu dan umak tahu rahasia dapur dan ramuan tradisional yang berabad-abad umurnya. Nenek dan aki-aki selalu menjadi sumber sejarah dan mitos setempat.

Pulang dari perjalanan

1.Sepulang dari perjalanan biasanya Anda baru menyadari telah melewatkan data penting. Untuk itu Anda perlu ke perpustakaan atau membuka buku referensi untuk mendapatkan data tambahan.

2.Jika Anda menemukan suatu kasus menarik selama perjalanan, kini saatnya Anda menghubungi orang atau lembaga terkait yang mungkin dapat menyelesaikan kasus tersebut. Bisa saja itu LSM, lembaga pemerintah, atau pakar tertentu.

3.Saran saya jangan memutuskan hubungan dengan masyarakat sebuah tempat yang baru Anda kunjungi. Menjalin silaturrahmi itu penting walau tak selalu bisa berjumpa kembali. Suatu ketika mungkin Anda membutuhkan informasi penduduk yang pernah Anda kunjungi, atau mereka membutuhkan bantuan Anda. Jadi jangan pernah putus hubungan.

Note: setidaknya cara di atas yang saya lakukan sehingga menghasilkan buku semacam ’30 Hari Keliling Sumatra’ atau ‘Negeri Pala’. Kerap dalam penyusunan buku perjalanan, studi literatur yang saya lakukan sepulang dari sebuah perjalanan membutuhkan waktu lebih lama ketimbang ketika melakukan perjalanan itu sendiri.

Advertisements