Tags

, ,

“Seharusnya di depan ICU itu ada taman yang enak dipandang sehingga menyegarkan badan dan pikiran para penunggu pasien. Tapi di sini tak ada apa-apa, kecuali wajah kucel orang-orang,” keluh kawan saya, Setiawan Aji, yang sedang menunggu ayahnya yang terinfeksi tetanus di sebuah rumah sakit di Jogjakarta.

rumah sakit kanker mt miriam di penang, lokasinya terpencil untuk menghindari kebisingan

rumah sakit kanker mt miriam di penang, lokasinya terpencil untuk menghindari kebisingan

Jadi, apakah green hospital harus menyediakan taman hijau? Pikir saya. Bisa jadi itu adalah salah satu di atara berbagai syarat yang harus dipenuhi rumah sakit berwawasan lingkungan. Idealnya green hospital dibangun dengan memenuhi berbagai syarat. Misalnya bahan bangunannya ramah lingkungan, memiliki pengelolaan energi, air, dan limbah yang berazas pada ekologi, serta beragam syarat lainnya.

Kenyataannya, teramat banyak rumah sakit di Indonesia yang sudah dibangun tidak berazas syarat-syarat green hospital tadi. Misalnya, bahan bangunan yang digunaka mirip dengan membangun kompleks real estate biasa. Lalu penggunaan energi masih bergantung pada listrik yang bersumber pada PLN dan bahan bakar fosil. Belum lagi tidak tersedianya pengolahan limbah yang memadai, atau penggunaan sumber air tanah yang berlebihan.

Karena pesatnya perkembangan, bangunan rumah sakit pun ikut berkembang. Tak hanya makin meninggi untuk memperbanyak kamar dan fasilitas pelayanan, tapi juga melebar. Hal ini berakibat terpangkasnya halaman rumah sakit yang semula dijadikan taman hijau. Jadi, apa mungkin menciptakan green hospital di tengah maraknya rumah sakit yang sudah ada tanpa perlu membangun rumah sakit baru? .

Kenapa tidak? Pikir saya. Sembari melakukan perubahan pengelolaan energi, air, dan limbah yang lebih efisien, kita juga dapat menggunakan area terbuka yang ada, menerapkan prinsip  ekolanskap untuk mengoptimalkan penyelenggaraan green hospital.

Ekolanskap adalah pengaturan tata letak berbagai jenis tumbuhan di sebidang tanah. Pengaturan ini bukan hanya berdasarkan pada keindahan, tapi juga memperhatikan aspek ekonomi, fungsi, dan nilai lingkungannya.

tanaman hijau penyerap polusi, penyerap radiasi, dan penghilang bau

tanaman hijau penyerap polusi, penyerap radiasi, dan penghilang bau

Sebagai misal, taman di rumah sakit kerap dijadikan para penunggu pasien untuk menghela nafas dan beristirahat. Pada taman ini dapat di tanam pohon dadap merah. Selain rindang, pohon ini menghasilkan buah yang disukai para burung. Kicau burung tentu menyegarkan pikiran para penunggu. Bukan rahasia lagi kalau rumah sakit tak hanya tempat orang sakit, tapi juga tempat orang sehat yang terpaksa sakit karena berbagai keadaan. Misalnya keluarga pasien yang harus menunggu lama, terforsir fisik dan pikirannya memikirkan bea perawatan.

Contoh lain, pada rumah sakit yang berada di tepi jalan besar, polusi seperti kebisingan dan asap kendaraan menjadi masalah utama. Tak mungkin memasang peredam suara di semua ruangan. Untuk ini pihak rumah sakit dapat memanfaatkan tanaman seperti pohon kelengkeng yang mampu meredam suara, termasuk terpaan angin akibat dering klakson atau derum mesin di jalanan.

Sedang untuk menyerap polutan seperti timbal, dapat ditanam sebatang pohon bungur atau mahoni. Namun jangan sekali-kali menanam pohon akasia karena dapat menjadi pencetus asma bagi yang berbakat asma.

Pada taman-taman kecil di dalam rumah sakit, atau pada teras di luar kamar pasien, bisa diletakkan pot-pot bunga warna-warni untuk menjernihkan pikiran dan mempercepat kesembuhan pasien. Tanaman warna-warni begini mampu melawan polusi jiwa. Dapat juga diletakkan pot berisi tanaman sirih belanda yang mampu menyerap formaldehida dan benzena. Sirih belanda akan membuat pasien dan keluarganya bernafas lebih segar dan lega.

Pengaturan tanaman juga harus memperhatikan fungsi ruangan. Misalnya di halaman depan ruang radiologi atau ruang perawatan kanker dengan radiasi, jangan ditanam kembang sepatu. Memang kembang sepatu mampu menyerap nitrogen dan melegakan oaru-paru, tapi juga berfungsi meneruskan radiasi. Lebih baik ditanam sanseveira atau kaktus yang dapat menyerap radiasi nuklir.

Sansivera atau lidah mertua juga dapat menyerap bau tak sedap. Misalnya menyerap asap rokok, bau mengganggu karena sampah yang membusuk, atau toilet yang mengganggu. Ketimbang menggunakan karbol dan pengharum ruangan berlebihan, kenapa tak menempatkan sansivera di dalam ruangan. Yang perlu diingat, keluarkan pot tanaman ini di waktu malam agar tak bersaing dengan pasien untuk memperebutkan oksigen.

Sementara itu pada bagian luar ruang mencuci pakaian atau perabot makan dapat ditempatkan tanaman seperti ficus karet atau palem kuning. Tanaman ini mampu menyerap polutan formaldehida yang dikeluarjan oleh pewangi, cairan pelembut pakaian, pencuci piring, atau pembersih karpet.

Hal-hal di atas adalah sedikit contoh bagaimana memaksimalkan lingkungan yang ada, khususnya tanaman, dalam mendukung terciptanya green hospital. Penggunaan tanaman sesuai fungsi tentu akan mengurangi penggunaan bahan kimia seperti pengharum ruangan, obat nyamuk, pembersih lantai, sehingga makin mendukung kesehatan alami para pasien, penunggu pasien, dan pekerja di rumah sakit.

Advertisements