Tags

, , , , ,

Kesimpulan ini saya ambil berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol dengan para pejalan asing, baik kawan-kawan couchsurfing (CS) yang mampir di rumah, maupun para pejalan yang saya temui sepanjang perjalanan. Kawan pejalan ini umumnya jenis ‘long term traveler’, jadi mereka yang melakukan perjalanan bukan dalam waktu singkat, seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan, tapi tahunan. Paco dari Prancis misalnya, sudah hampir 20 tahun keliling dunia, sementara Louis yang saya jumpai di Chiang Mai, hampir 9 tahun berpindah dari satu negara ke negara lain.

para penikmat sunrise di pananjakan

para penikmat sunrise di pananjakan

Iseng saya tanya kepada mereka, apa mereka pernah mengunjungi Indonesia? Jika mereka menjawab iya, tempat apa yang paling menarik perhatian mereka? Apa rekomendasi mereka bagi pejalan lain jika mengunjungi Indonesia, dan sebagainya. Tentu saja kuis berisi pertanyaan iseng ini saya lakukan dalam waktu bulanan, saya lontarkan kepada mereka yang saya temui. Kesimpulan ‘kuis berhadiah’ ini, mungkin berguna bagi Anda, para pejalan, dan mungkin dapat menjadi bahan renungan atau pembelajaran buat pelaku pariwisata. Buat yang nekad menuju tempat-tempat yang dihindari pejalan asing tersebut, Anda membutuhkan tip tertentu.

Hal pertama yang saya amati, para pejalan kenalan saya ini mulai membuang buku panduan wisata ‘lomely planet’. Andai mereka memegang lonely planet, yang mereka gunakan adalah peta tempat. Mereka lebih memilih rekomendasi dari sesama pejalan, atau orang lokal, tentang tempat-tempat yang harus dan jangan dikunjungi. “Terlalu banyak orang berpegang pada lonely planet,” kata Paco, sehingga tempat apa pun yang direkomndasikan oleh lonely planet, sudah mirip kiblat turistik.

Tentang tempat di Indonesia yang harus dihindari, berikut yang biasa mereka utarakan:

1.Jakarta yang tidak ramah

Ibukota RI ini dianggap terlalu ramai, padat, dan macet jalan-jalan umumnya, sehingga tak nyaman untuk dikunjungi, apalagi ditinggali walau hanya dalam waktu singkat. Para pejalan lama ini hanya benar-benar mampir di Jakarta jika punya keperluan khusus, misalnya mengurus perpanjangan visa, mengunjungi kawan, atau dalam persiapan menuju lokasi negara berikutnya.

Ketimbang singgah dan tidur di Jakarta, mereka memilih Bogor sebagai tempat bermalam selama beberapa hari. “Di Bogor kami bisa berjalan kaki ke mana-mana,” kata Jure, pejalan asal Bangkok yang kini menetap di Kathmandu. Apalagi di Bogor ada kawasan hijau kebun raya yang enak dibuat meditasi dan bersunyi diri.

Bagi saya sendiri, Jakarta mirip kota neraka. Saya tak betah tinggal, apalagi bekerja di Jakarta. Rasanya mirip menyia-nyiakan waktu, menjadi tua di jalan. Untuk menempuh sebuah tempat dari tempat lain, kerap dibutuhkan waktu berjam-jam. Jakarta juga momok buat saya, karena banyak mengukir pengalaman tidak menyenangkan. Hah! Tapi itu hanya pengalaman pribadi saya yang kurang dapat beradaptasi.

jogjakarta ah!

jogjakarta ah!

2.Jogjakarta tak lagi menarik

Dulu, kerap orang bilang ‘belum kenal Jawa kalau belum menyentuh Jogjakarta’, mungkin karena Jogja kerap dianggap pusat tradisi Jawa, kota budaya. Di sini ada keraton Jogjakarta –meski di Solo ada keraton Pakualaman, atau di Banten ada keraton Banten- dan satu-satunya propinsi yang dikepalai Sultan. Belum lagi pesona kaki lima Malioboro, atau banyaknya pencinta sepeda ontel yang ngepit ke mana pun mereka pergi.

Tapi itu Jogja dulu, 20-30 tahu lalu. Jogja sekarang mirip kota kecil yang nyaris meledak. Di mana-mana isinya kendaraan bermotor, baik mobil maupun motor yang umumnya berplat nomor luar kota. Makanan di Jogja pun meroket harganya, demikian pula harga penginapan. Nuansa ‘Jogja’ perlahan memudar, kecuali di tempat tertentu. Tak heran jika para pejalan asing merasa Jogja tak lagi nyaman atau menarik.

Laszlo, seorang pejalan asal Hongaria yang memulai perjalanan ke Indonesia tahun 1996, dan setiap tahun menghabiskan beberapa bulan menjelajah timur Indonesia, selalu menyarankan sesama pejalan asing untuk menghindari Jogja. “Daripada mengunjungi Jogja, mending kamu tinggal di Solo dan menjelajah sekitarnya,” rekomendasi Laszlo. Maka, Paco pun memilih menghabiskan waktu menjelajah Desa Selo, Gunung Merbabu, dan melewatkan Candi Borobudur ketika Waisak. Demikian pula yang dilakukan Astrid.

3.Jangan datang ke Bromo saat liburan

Saya yakin, setiap pejalan asing yang pertama kali mengunjungi Jawa pasti tak ingin melewatkan waktu datang ke Bromo. Keindahan Kawah Bromo sudah begitu mendunia, mirip kisah Kawah Ijen. Bedanya, kalau Bromo sudah begitu komersil, maka Ijen hanya ramai di akhir pekan.

Beberapa kawan pejalan menunda menikmati Bromo, dan lebih memilih ke Kawah Ijen. Mengapa? “Too commercial,” alasan Steve, kawan asal England. Baru saja colt tiba di tempat tujuan, para pemilik jeep sudah menyodori mereka untuk pergi ke Pananjakan keesokan harinya. Setengah sodoran diajukan dengan nada memaksa, dan mengatakan bahwa Pananjakan itu bagian Bromo. Sungguh penuh kebohongan! Padahal, banyak di antara pejalan benar-benar  ingin menikmati Bromo di pagi buta. Sebagian lain ingin menuju Pananjakan dengan berjalan kaki. Dan, mereka enggan melihat matahari terbit di Pananjakan lewat pantat-pantat dan selangkangan yang bertebaran karena penuhnya turis di tempat tersebut.

Andai benar-benar ingin ke Bromo, mereka lebih suka melakukannya di waktu sepi. Mungkin saya harus merekomendasikan mereka untuk naik Gunung Semeru dulu, lalu turun dari Semeru melakukan ‘traverse’, berbelok ke kanan di pertigaan setelah Ranu Pane untuk trekking ke Bromo. Jalur ini saya yakin lebih menantang dan menarik ketimbang menikmati Bromo lewat jalur turis. Itu kalau Anda punya cukup waktu.

4.Bali terlalu turistik

Bali mungkin masih menjadi tempat favorit para turis asal Australia, namun pulau ini sudah mulai ditinggalkan dan dihindari pejalan dunia. “Terlalu banyak turis di Bali, saya tak ingin ke sana,” kata Astrid. Bahkan di masa lalu, duo bersaudara Blair si penulis ‘Ring of Fire’ sudah tak tertarik mengunjungi Bali. Alasannya seperti tadi, terlalu turistik. Untungnya Blair bersaudara mengubah pandangannya, bahkan merasa perlu berumah di Ubud setelah menyerap ‘aura’ Bali.

Mati-matian saya perlu meyakinkan Paco agar mau menginjakkan kaki di Bali. “Setidaknya kunjungilah Munduk di pegunungan utara Bali jika ingin menyelami roh pulau dewata itu,” usul saya. Saya hanya ingin Paco tahu dan merasakan alasan mengapa banyak orang jatuh cinta pada Bali. Akhirnya dia menuju Bali selama empat malam, sebelum ke Lombok. Dia pun menunda rencananya mengunjungi Pulau Komodo menjadi 2-3 tahun mendatang.

5.Hostel itu mahal

Sebagai pejalan lama, mereka harus hemat dan teliti membelanjakan uang mereka. Jadi wajar jika harus memangkas bea perjalanan. Misalnya dengan memilih makanan murah seperti menghindari membeli makan berlauk daging dan ikan, atau menjadi vegetarian sementara. Bisa juga dengan melakukan hitchhacking, mencari tumpangan pada kendaraan yang lewat. Atau memanfaatkan jasa couchsurfing dengan tinggal di rumah penduduk (yang menjadi anggota CS juga tentunya), atau tinggal di penginapan super murah semacam dormitory.

Sayangnya, penginapan meriah ala dormitory di Indonesia tidak umum. Konon ‘haram’ menyediakan sebuah ruangan untuk tidur bareng-bareng, terlebih jika bercampur jenis kelamin. Padahal penginapan murah sekelas hostel atau guest house biasanya Rp100.000 ke atas. Ada juga yang lebih murah tarifnya, tapi jarang. Andai ada, pemilik penginapan mendadak menaikkan tarif begitu tahu yang bakal menginap pejalan asing. Hal ini kerap terjadi. Itu sebabnya sebagian pejalan  ini memilih kantor polisi sebagai tempat beristirahat yang nyaman.

“Di kantor polisi ada teve, free wifi, dan kita kadang mendapat teh, serta diajak bermain biliar,” kata Astrid, pesepeda asal Jerman, mengisahkan pengalamannya bermalam di kantor polisi kota Probolinggo. Bisa dipastikan, kantor polisi menjadi tempat paling aman, sekaligus nyaman, bagi pejalan asing ini.

Di masa lalu, saya pun gemar ngepos di kantor polisi jika kemalaman naik atau turun gunung. Bahkan usai menumpang truk jalur Flores-Lombok, kemalaman di jalan, kantor polisi selalu jadi pos yang aman. Tidak percaya? Coba saja!

Advertisements