Tags

,

Kawan saya memesan mesin kopi  untuk restorannya. Mesin yang dapat menghasilkan kopi espresso, a latte, dan cappuccino. Mesin yang murah dengan kualitas produk tak kalah dengan ‘s*******’. Bukan puluhan atau ratusan juta rupiah harganya, tapi tak sampai 5 juta. Kebetulan, si Rai Bangsawan yang menjadi distributornya di Bali. Dan dia sempatkan datang di Don Biyu, Munduk, memberikan training gratis kepada pegawai resto-nya.

ini sih kopi munduk, bali, lengkap dengan bunga dan buah cengkeh

ini sih kopi munduk, bali, lengkap dengan bunga dan buah cengkeh

Nama Rai Bangsawan sendiri mulai dikenal 15 tahun lalu sebagai pelaku dan penggagas pertanian organik di Bali. Dia melepas pekerjaannya sebagai konsultan di perusahaan asing dengan gaji puluhan juta rupiah, menekuni  bertanam kangkung secara organik. Kisahnya pernah dituliskan di http://www.jpnn.com/read/2010/08/31/71396/index.php?mib=berita.detail&id=94150

Ketika bersua, timbul pertanyaan di otak saya, ‘Kenapa Rai menjadi distributor mesin kopi? Apa ada kaitannya dengan usaha yang dia tekuni saat ini?’ Rai memang sedang membina beberapa petani kopi di beberapa wilayah di Bali. Kopi mentah para petani kemudian dibelinya, diolahnya menjadi kopi jadi berkualitas tinggi, dan menjualnya sebagai Bali Exotic Beans.

Belum sempat pertanyaan saya tuangkan, Rai sudah berkisah panjang lebar. “Saya ingin coffee shop tumbuh semakin banyak di Indonesia.” Menurutnya, selama ini ada anggapan bahwa hanya orang kaya saja yang dapat membuat coffee shop, karena harga mesin pembuat kopi yang mahal. “Padahal ada juga mesin kopi murah. Asal tahu trik dan tips  mesin ini, serta mau menggunakan kopi berkualitas tinggi, maka hasil kopinya tak kalah dengan coffee shop terkenal,” jelasnya.

Bagaimana kopi berkualitas tinggi itu? Apa saja ciri-cirinya? Apa harus dari jenis tertentu, memiliki rasa, warna, dan bentuk biji tertentu? Apa Bali punya kopi seperti itu? Berbagai pertanyaan bermunculan dalam pikiran saya. Nah, kebetulan Rai membawa kopi produksinya sebagai bahan penguji mesin yang dipasarkannya. Kopi ini sudah diakui kualitasnya di Eropa sana. Itu sebabnya kata Rai dia berani memasarkan produk kopinya.

kopi produksi rai

kopi produksi rai

Kualitas kopi ternyata sudah ditentukan sejak masa penanaman. Kualitas juga dipengaruhi oleh perlakuan ketika memanen maupun pascapanen. Mulai dari saat memetik kopi, menjemurnya hingga kering benar, menyortir biji kopi, proses menggoreng atau biasa disebut roasting, hingga menyeduhnya menjadi secangkir kopi siap sruput.

Dalam memanen kopi misalnya, sebaiknya dilakukan petik pilih. Pilih biji kopi yang berwarna merah atau sudah tua. Lalu segera jemur hingga kering dan kupas kulitnya. Menjemur hingga kering betul akan mencegah kutu muncul saat disimpan. Penyimpanan pun harus menganut aturan tertentu. Misalnya jika disimpan di dalam karung, lapisi dulu dengan dedaunan tertentu, lalu taruh kopi, lapisi lagi dengan dedaunan, lalu taruh kopi, dan terakhir lapisi dengan dedaunan lagi, baru ikat karung.

Begitu kering, jangan langsung digoreng, tapi sortir kopi menurut besar kecilnya. Kopi yang memiliki besaran sama, boleh digoreng bersamaan. Dengan begitu tingkat kematangan setiap biji kopi akan sama. Kopi yang terlalu matang atau hangus, akan bersifat karsinogen dan membahayakan tubuh. “Selama ini, umumnya masyarakat malas menyortir biji kopi. Mereka mencampur saja biji kopi yang besar dengan yang kecil, yang hijau atau muda dengan yang merah atau tua. Aneka jenis biji kopi ini digoreng bersamaan, lalu dicampur dengan berbagai jenis bijian. Akibatnya ada kopi yang lebih dulu masak ada yang belum. Ketika ditumbuk, rasa dan aromanya pun tak sama.”

Soal roasting atau menggoreng, Rai buka-bukaan rahasia. Menurutnya ada 8 jenis roasting, sehingga kopi menguarkan aroma tertentu. Ada yang wangi, fruity, dan sebagainya. Sepengalaman saya, banyak produsen kopi menyimpan erat rahasia roasting-nya, karena ini kunci keberhasilan pemasaran produk mereka. Banyak roaster yang menerima gaji sangat tinggi, mirip dengan pencicip wine. Tapi Rai malah membuka rahasia. Hal Ini mengagetkan sekaligus membuat saya kagum.

Bagaimana ciri kopi yang bermutu tinggi? Ada dua jenis kopi, arabika dan robusta. Kopi arabika memiliki rasa tertentu, juga robusta, maupun campuran keduanya. Robusta misalnya, agak masam. Kopi yang enak selain harum aromanya setelah  digoreng, juga tidak pahit ketika diminum. Ada rasa coklat, legit, dan aromanya menetap lebih lama di mulut walau kopinya sudah ditelan. Warna kopi yang diseduh pun tak hitam pekat, namun kecoklatan. Itu sebabnya kopi  enak sayang jika diminum campur gula. Kopi ini juga tak membuat nyeri lambung, tak membuat orang mengalami gangguan tidur atau moodnya naik turun. Sama sekali tidak. Justru kopi membuat orang bersemangat, merangsang aliran darah ke otak dan menyetabilkan mood. Makanya, perempuan yang sedang menstruasi dianjurkan minum kopi.

Menyeduh kopi pun harus memenuhi suhu tertentu. Bukan dengan air yang tepat mendidih, tapi pada suhu 98 derajad. Yaitu, saat gelembung kecil-kecil mulai bermunculan. Warna kopi hasil gorengan bukan hitam, tapi kecoklatan. Serbuknya pun tak halus, tapi agak kasar.

Bagaimana dengan kopi pabrikan? Saya kebetulan kerap minum kopi instan. Tak jarang usai minum, perut justru melilit atau kembung. Bahkan pernah pula diare. Penjelasan versi Rai nih, kopi pabrikan begitu usai digoreng akan disemprot dengan parfum kopi dan pengawet untuk mendapatkan aroma yang diinginkan tentunya. Dan bahan-bahan tersebut jelas bahan kimia. Itu sebabnya kopi pabrikan berbahaya buat tubuh, apalagi jika diakumulasi dalam jangka lama. Hanya, kopi pabrikan lebih murah. Dicampur dengan air dingin pun oke. Praktis.

Kini terserah Anda, mau pilih kopi bermutu tinggi atau pabrikan? Kalau saya, tetap pilih kopi rakyat yang diolah dengan benar. Sesekali kalau terpaksa, boleh juga menyantap kopi pabrikan. Sesuai isi kantong, dan juga kondisi di lapangan. Yang penting, saya tetap cinta kopi Indonesia (dan bukan partai politik atau penguasa tamak Indonesia). Aha!

Advertisements