Tags

,

Di sebuah pasar tradisional di Munduk, saya bertemu seorang ibu yang memisahkan batang cengkeh dengan bunga dan daunnya. Waktu itu saya dan Nao hendak mencari  klerak untuk dijadikan sabun. Klerak memang banyak dijual di toko suvenir, tapi harganya mahal. Sepuluh butir klerak dihargai Rp.15.000. Biasa, harga turis. Kami pun memilih ke  pasar. Sayang, si penjual sedang tidak di tempat. Sambil menunggu, saya sempatkan ngobrol dengan ibu pemisah bunga cengkeh tadi.

memanen cengkeh menggunakan 'ondo lanang'

memanen cengkeh menggunakan ‘ondo lanang’

“Ibu asli Munduk?” tanya saya. Setahu saya, pekerja yang memanen cengkeh di Munduk, entah itu pemetik di pohon maupun pemisah batang cengkeh, bukan orang asli Desa Munduk.

“Bukan, saya orang Seririt. Tapi sudah lama tinggal di Munduk. Suami saya orang Munduk, tapi sudah meninggal,” jawabnya. Tak ada wajah duka, hanya keramahan dan ketegaran hati. Dia satu-satunya penjual yang menyapa saya di pasar, dan mencoba mencari tahu kemana perginya si penjual klerak.

“Berapa ibu diupah untuk memisahkan batang dan bunga cengkeh?” tanya saya iseng. Saya tahu upah pemetik di pohon sekitar Rp.80.000 sehari.

“Seribu rupiah satu kilo. Biasanya saya mampu mengerjakan 25 kilo setengah hari, sambil menjaga lapak buah-buahan,” katanya menunjuk lapak di depannya. Ibu tadi hanya duduk di bangku kecil di lantai pasar, dengan ribuan bunga dan batang cengkeh memburai di depannya berkarpet goni.

Menurutnya, dari upah tambahan memisahkan bunga cengkeh ini, dia mampu memberi uang saku buat ketiga anaknya yang bersekolah di SD dan SMP. “Upah saya habis hanya buat anak-anak jajan di sekolah,” tawanya. Tak ada penyesalan, mirip kelegaan.

Bertahun lalu saya jumpai juga ibu-ibu pemisah bunga cengkeh ketika mengelilingi Ternate. Namun mereka memilah cengkeh miliknya, bukan buruh. Hal ini nyaris mustahil ditemukan di Munduk. Kini, hampir semua pemetik dan pemilah cengkeh adalah pekerja dari luar desa.

Munduk merupakan salah satu desa penghasil cengkeh di Bali Utara. Menurut Putu Ardana, kepala desa adat Munduk, dari lebih 400 ha lahan yang ditanami cengkeh, setiap ha menghasilkan lebih 500 kg cengkeh kering . Itu artinya setiap kali panen cengkeh yang berlangsung selama bulan Juni sampai Oktober, Munduk akan menghasilkan lebih 200 ton cengkeh. Jika setiap kg cengkeh laku dijual Rp.130.000 (bahkan kini harganya bisa mencapai Rp.150.000), maka pendapatan Munduk mencapai Rp.26 M setahun dari bunga cengkeh kering saja. Itu belum termasuk batangnya, atau buah lain seperti coklat, kopi, dan lainnya.

Ketika musim panen cengkeh, 7000 jiwa warga Munduk tak sanggup menangani panen sendirian. Umumnya pemilik pohon cengkeh menjual cengkehnya berdasarkan harga petik pohon. Artinya pembeli yang akan memanen cengkeh sendiri, sekaligus membayar buruh pemetik dan pemisah cengkeh. Sedang pemilik pohon hanya menerima uang berdasar taksiran banyaknya cengkeh yang dihasilkan pohonnya. Umumnya upah pemetik cengkeh Rp.80.000 sehari, bekerja sejak pukul 07.00-16.00. Di waktu istirahat, mereka memakan  bekal yang mereka bawa dari rumah.

memilah cengkeh sebelum dijemur

memilah cengkeh sebelum dijemur

Begitu banyaknya buruh pendatang di saat panen, membuat Munduk yang kaya kunjungan turis Eropa juga dipadati buruh lokal. Banyak di antara buruh ini tinggal di rumah majikan pembeli cengkeh. Tak jarang mereka memboyong istrinya sekalian. Pagi hingga petang, si suami memetik cengkeh, malamnya si istri memilah gagang dan bunga cengkeh.

Biasanya pada sebatang pohon cengkeh, bekerja 2 buruh pemetik. Mereka butuh waktu 2 hari untuk memanen sebuah pohon. Jadi bayangkan jika dalam satu ha ada 100 pohon -yang biasanya lebih- dan membutuhkan 2 orang untuk memanen sebuah pohon, maka dibutuhkan 200 hari untuk memanen satu ha, dan Rp.80.000/hari X 2 orang x 200 untuk membayar upah pemetik cengkeh. Itu belum termasuk upah pemilah bunga cengkeh.

Cengkeh dipanen dengan cara sederhana. Pemetik cengkeh membawa peralatan sederhana, sebuah tangga panjang yang terbuat dari bambu dan disebut bangul (Orang Jawa menyebutnya tangga lanang)  dan tali plastik sebagai pengaman. Dalam sehari setidaknya terkumpul dua karung goni cengkeh. Usai dipilah pada malamnya, cengkeh-cengkeh ini dijemur, dipisahkan antara bunga dan batang. Setelah itu cengkeh dijual ke distributor, dan dikirimkan ke pabrik-pabrik rokok di Jawa.

“Dulu, di awal masa tanaman cengkeh di Munduk, orang memperlakukan pohon cengkeh mirip barang keramat. Mereka menyiram bibit cengkeh sampai perlu bermalam di kebun. Lalu saat panen menggunakan tangga khusus agar tak menempel di pohon cengkeh. Perlakuan ini berubah saat harga cengkeh jatuh akibat ulah BPPC tahun 1990-an. Penduduk tak lagi memperlakukan cengkeh mirip pohon keramat,” kata Pak Jero.

Mulanya, orang Munduk dikenal sebagai petani kopi. Kini, cengkeh yang menjadi primadona. Selain perawatannya mudah, umur produksinya pun panjang. Pohon cengkeh sudah mulai berbunga sejak umur 3 tahun hingga lebih 50 tahun.

Besarnya penghasilan dari tanaman cengkeh membuat petani menjadi terlena dan malas. Ketika menerima uang hasil panen jutaan rupiah, mereka cenderung membelanjakannya secara konsumtif. Tak jarang mereka lupa menabung. Mereka lupa hasil panen itu untuk hidup setahun. Jika kemudian hari mengalami masalah keuangan, mereka menggadaikan hasil panen cengkehnya selama beberapa tahun, bahkan ada yang menjual tanahnya. Maka muncullah petani penggarap di Munduk, yaitu mereka yang tak punya tanah dan hidupnya bergantung pada mengerjakan tanah orang lain.

Kini, dengan pesatnya pengembangan wisata di Bali, Munduk terkena imbasnya. Banyak petani di Munduk yang tergiur menjual tanahnya. Tanah dihargai sangat tinggi, 1 are atau 100 meter persegi harganya bisa mencapai Rp.150 juta. Untuk mengatasi hal ini, petani dilibatkan dalam pengembangan wisata khas Munduk yang menitikberatkan wisata alam dan petualangan. Apalagi komoditas pertanian Munduk seperti cengkeh, coklat, dan kopi laku di pasaran. Jangan sampai demi pembangunan hotel, lahan pertanian menipis, petani menghilang, dan tak lagi tersedia lapangan kerja bagi banyak orang seperti para pemetik, pengupas cengkeh.

Advertisements