Tags

Ya, namanya Abbon (sebetulnya ditulis Abon, tapi biar keren mirip Mitch Albon, kutulis saja Abbon). Nama yang dicuil bukan karena dia suka membuat penganan mirip daging (boleh sapi, ayam, ikan, bahkan babi dan gajah) yang disuwir-suwir halus lalu digoreng kering dan dibumbu rempah. Bukan. Abbon yang ini berkaitan dengan tanah dan tanaman. Karena itulah pekerjaannya, mengurus kebun pamannya, baik kebun sayur, cengkeh, coklat, maupun kebun di sekitar hotel dan restoran. Baginya, berkebun, bertani, mirip helaan nafas. Tak mungkin dipisahkan dari jiwanya, hidupnya, maupun tujuannya.

nao dan pema di kebun

nao dan pema di kebun

Baru saja aku mengenalnya, benar-benar berbicara dengan dan kepadanya. Aku lebih dulu tahu gubuknya yang di bawah hotel itu, bersalaman dengan beberapa jenis bebungaan yang berhasil ditumbuhkannya di sekeliling gubuknya. Bahkan aku menjadikan tiga jajaran gubuk itu latar dalam cerpen fantasiku ‘Hantu Kopi’. Gubuknya memang tersembunyi di balik gerumbulan tanaman kopi, coklat, cengkeh, dan sesayur.

Abbon memelihara tiga ekor kucing, beberapa ekor ayam dan burung dalam sangkar, serta seekor iguana. Hanya satu yang tak dimilikinya, istri. Tanah boleh pinjam, istri mesti dicari. Lelaki berumur 30-an bertubuh pendek tegap itu kukira benar-benar pencinta alam. Orang yang menjiwai alam dengan seluruh hatinya. Bukannya pemuda-pemudi pemondong ransel dan selalu menyebut diri mereka mapala civitas akademika anu inu panu.

Satu hal yang membuatku terpaksa berurusan dengannya. Kali ini bukan karena hantu kopi, gudang kopi, atau gubuknya yang kutaksir tinggal. Tapi soal benih dan pembibitan. Aku punya angan-angan hendak menggarap kebun sayur. Kebetulan aku memiliki beberapa bibit yang kubawa dari Tjatutjak Thailand. Sebagian pemberian kawanku Berm, si pekebun stroberi hidroponik, sebagian kubeli sendiri. Aku butuh orang yang mau menyemai bibit ini. Jadi kutuju pondok Mang Abbon, dan dia rupanya ada di sana.

Sedikit basa-basi kukatakan maksudku. “Mang, aku bawa bibit buat kebun paman di bawah restoran.”

“Bibit sayur? Mana?” tanyanya girang sambil bergegas mebawakanku segelas kopi. Kelak kutahu sudah menjadi kebiasaannya menjamu siapa saja yang datang ke gubuknya, entah kawan, entah pemetik cengkeh tak dikenal yang menitipkan tasnya, dengan segelas kecil kopi panas. Anehnya, walau gubuknya dikelilingi tanaman kopi, namun kopi yang disuguhkannya dibelinya dari warung si Eka.

Kukeluarkan berbagai bungkusan plastik dari tas kameraku. Ada bibit cammomile, basilica, morning glory, dan lainnya. “Ini Mang, semua jenis sayur dan bisa dimasak atau dibuat teh,” kataku sambil mengeluarkan ke semua bibit.

“Nanti sore saja saya semai, ya. Sekarang saya masih membersihkan rumput di bawah,” katanya ramah.

Sore itu kembali aku ke gubuknya. Dia benar-benar menyemai bibit-bibitku ke dalam sekam yang dicampur rabuk, lalu menutupinya dengan dedaunan. “Semoga lima hari lagi tumbuh,” harapnya.

Tapi dari 5 hari hingga dua minggu bibit-bibit itu tak tumbuh. Bahkan menjelang kepulanganku pun tak satu bibit berkecambah. Dia tampak kecewa, aku sih biasa-biasa saja. “Apa yang salah dengan cara saya menyemai?” Berkali-kali kata-kata itu diulangnya. Bahkan dia mengonsultasikan masalahnya dengan Jenny, tukang kebun hotel yang biasa menyemai tanaman sumber sayuran di bagian dapur. Terpaksa, aku mencari bahan pembicaraan lain jika bertemu dengannya.

 “Mang Abbon punya tanah?” Aku tahu ini pertanyaan tolol. Tapi lebih baik daripada mendengar ulangan permintaan maaf kegagalan.

Dia menggeleng. Sedih sekaligus penuh kemarahan suaranya. “Kalau punya tanah, saya tak akan hidup menumpang-numpang begini. Pasti saya sudah kaya karena dapat menjual hasil kebun saya sendiri.”

“Kenapa tidak punya tanah? Dijual?” tanyaku semakin berani. Di desa yang kudiami, tanah pertanian masih begitu luas. Andai ada orang asli desa ini yang tak bertanah, biasanya karena dijual.

Lagi-lagi dia menggeleng. “Sejak lahir saya memang tak punya tanah.”

“Tapi Mang Abbon kan petani. Tak punya tanah pun dapat mengerjakan tanah milik orang lain,”hiburku. Tak tega juga aku melihat kilatan duka di sepasang matanya.

“Benar juga. Tapi saya tetap miskin. Orang kaya sesungguhnya itu orang yang punya tanah,”tambahnya.

“Banyak orang di sini yang jadi petani ya, Mang?” aku mengalihkan perbincangan.

 “Nggak juga. Kebanyakan petani KTP. Kalau yang benar-benar bertani, pagi-pagi sudah pergi ke kebun sih hanya beberapa orang saja.” Dia lalu menyeruput kopi pahitnya. Aku mengambil tempat gula dan menyendok gula dua kali.

Petani KTP. Aku tertawa. Semakin banyak orang yang punya tanah di sini tapi tak punya waktu mengurusnya. Mungkin mereka sibuk berbisnis, mengurus hotel, guest house, atau restoran, sehingga pergi ke kebun hanya sempat seminggu sekali, bahkan sebulan sekali. Tapi itu justru menciptakan keseimbangan, memberi kesempatan buat mereka yang tak memiliki tanah untuk bertani di tanah milik pengusaha lokal ini. Semacam simbiosis mutualisme. Dengan begitu tak ada orang yang menganggur. Kalau sampai ada pengangguran, pasti itu orang ‘lengit’, pemalas, tak mau bekerja.

Ah, aku tak hendak berpanjang kata mengisahkan kegagalan Abbon dengan bibit-bibitku. Tak juga terobsesi dengan kepedihannya karena tak memiliki tanah. Tapi aku hendak mengenang kebaikan hatinya kepada gadis cilik bernama Pema. Pema, anak Nao, masih 7 tahun umurnya. Rambutnya panjang, dan amat suka binatang. Kuundang Nao dan Pema ke tempatku berdiam. Mereka hendak menghabiskan beberapa hari liburan dengan berkebun. Jadi kuajak saja mereka menemui Abbon. Bocah cantik itu langsung terjerat pesona kucing peliharaan Abbon. Kucing itu digendongnya, tak hendak dilepas. Setiap hari usai berkebun, Pema merengek diajak ke pondok Abbon, sekedar melihat kucing, bercanda dengan burung-burung, dan belakangan ingin mengelus iguana.

Pema hanya punya Nao. Itu membuat Abbon iba. “Kasihan anak itu, mesti ikut ibunya ke mana-mana. Pasti capek sekali,” kata Abbon suatu hari. Seolah menghabiskan liburan sekolah Pema dengan bepergian ke penjuru dunia itu menyengsarakan hidupnya. Kurasa itu bukan tujuan utama Nao, si petualang di masa mudanya. Namun mirip mengajarkan anaknya akan keanekaragaman tempat dan makhluk di penjuru dunia. Sejak Pema lahir, hidup Nao hanya terpusat pada anaknya. Dan dia kembali berkelana tahun lalu, itu pun di saat Pema liburan.

“Kenapa anak itu tak punya bapak? Kan kasihan hanya diasuh ibunya,” ujar Abbon suatu ketika. Ada nada prihatin di sana.

“Pema tinggal dengan kakek-neneknya, kurasa dia tak pernah kesepian,” tukasku tak setuju dengan pernyataannya. Menurutku kebahagiaan seorang anak tak sepenuhnya bergantung pada kelengkapan orang tua, tapi lebih pada kualitas kasih sayang yang diberikan kepadanya.

Ingin aku menimpali, dengan iseng tentunya. ‘Mang Abbon mau melamar jadi bapak Pema?’ Namun kata-kata itu segera kutelan bulat-bulat, takut menyinggung perasaannya. Apalagi Abbon luar biasa sayang kepada Pema. Pagi itu dia memasukkan kucingnya ke dalam karung, dan mengendongnya di satu tangan. Sementara tangan lain memegang sangkar burung. Semua demi Pema, agar anak itu tak merajuk ketika ibunya bekerja di kebun. Sayang si kucing kemudian menghilang, karena takut segerombolan anjing di rumah yang kudiami. Si burung pun mulai diacuhkan, tatkala Pema mulai akrab dengan Kin, teman barunya, dan ikan-ikan di kolam.

Pema masih mencari-cari si kucing yang bersembunyi di tumpukan kayu untuk bangunan berhari-hari kemudian. Dia selalu memanggil-manggil, “Nako..nako..” Panggilan kucing dalam bahasa Jepang. Sementara itu aku dan ibunya sibuk menabur rabuk di jajaran tanah yang telah dipaculi Abbon. Kami kemudian menyirami tanah itu,sebelum memindahkan satu per satu benih sayur di petak-petak berjarak 10 senti. Ada brokoli, terung, cabai keriting, selada, hingga kangkung dan kacang buncis, kami tanam selama 10 hari. Sepanjang pagi 2 jam, dan sore dua jam. Sementara kami menanam, Pema terlena dibuai keakraban Kin, anak kawanku, dengan aneka permainan. Dua anak berbeda bangsa dan bahasa itu tampak akrab, tertawa-tawa, bahkan mandi bersama di sore hari. Ketika kutanyakan kepada Kin apa yang mereka percakapkan, Kin hanya mengangkat bahu dan menggeleng.

Berhari kemudian Pema tak lagi mencari Nako. Kurasa, kucing itu akhirnya kembali ke gubuk Abbon. Burung itu pun mulai kehilangan kicauannya karena terpisah dengan teman-temannya. Kami bertemu dengan Nako kembali di malam Pema dan Nao hendak meninggalkan tempatku berdiam. Mereka sengaja hendak berpamitan. Abbon tak hanya menjamu kami dengan segelas pendek kopi, tapi juga membuatkan mie rebus plus telur goreng.

“Suruh mereka makan banyak-banyak agar tak kelaparan besok pagi,” seru Abbon. Dia tahu Pema sangat menyukai mie. Tiada hari tanpa menyantap mie. Entah itu mie ayam, mie bakso,mie instan atau mie goreng ala restoran. Rupanya sore itu Abbon sengaja berbelanja beberapa bungkus mie instan dan telur buat Pema dan Nao. Dia mempersiapkan jamuan sederhana sebagai tanda selamat jalan.

Ketika Pema dan Nao meninggalkan tempatku di suatu pagi, Abbon pun membopong sangkar burung pada sorenya ketika meninggalkan kebun sayur. “Kasihan burung ini, sendirian di sini.” Kurasa, kata-kata itu lebih ditujukan buat dirinya sendiri. Entah disadarinya atau tidak, kehadiran Pema membuatnya penuh walau sejenak. Dan kini, dia kembali sunyi

Advertisements