Tags

,


Bravo buat Ayos yang sudah menyelesaikan obsesinya, berjalan kaki dari Terminal Arjosari ke Terminal Bungurasih Surabaya!

Rabu malam, saat nongkrong di c2o, saya tak mengira bakal akan mengikuti acara berjalan kaki mendadak. Di sana sudah duduk manis Ayos, Tinta, Kath, Mbak Yuli, Isbat dan kawan-kawan lain. Tiba-tiba Ayos menghentikan pembicaraan. “Wis, tak tinggal dulu ya Mbak. Aku masih mau nulis, soalnya setelah ini mau ke Malang.”

berjalan dini hari

berjalan dini hari

Ada acara apa? Pikir saya. Tinta segera menjawab, “Ayos mau menunaikan nazar, jalan kaki dari Malang ke Surabaya.” Ooo, hanya itu yang tercetus dari mulut saya. Tak ada niat ikut.

Entah angin apa yang bertiup malam itu, seiring dengan malam melarut, saya iseng bertanya. “Mau jalan dengan siapa Yos?”

“Dewe, Mbak. Kenapa?”

“Kupikir ada barengannya. Ikut boleh?”

“Tenane..”

Bahkan, satu jam kemudian, saat saya tiba di rumah setelah diantar Isbat, saya masih bertanya-tanya, “Bener nih, mau jalan kaki dari Malang ke Surabaya sama Ayos? Kurang kerjaan banget.”

Tapi saya tak ingin berpikir apapun. Saya segera meraup bekal, kaos ganti dan celana pendek, alat mandi, serta kamera bermodal lensa 50mm. Ogah bawa beban berat. Saya hanya berbekal air putih satu botol, dan sandal jepit, berjaga-jaga jika sepatu ket tua milik saya ‘ada apa-apa’. Uang di kantong hanya Rp40.000. “Ah, nanti kan nemu ATM di jalan,” pikir saya.

berjalan mirip meditasi

berjalan mirip meditasi

Pukul 21.15 Ayos datang menjemput. Kami bermotor menuju terminal Bungurasih. Setelah menitipkan motor, kami pun naik satu-satunya bus yang tersedia, patas AC Restu tujuan Malang dengan tarif Rp.25.000 per orang.

Belum tengah malam kami sudah sampai di terminal Arjosari. Kami putuskan tidur di bangku panjang terminal. Ayos dengan jaket dan celana panjangnya terlihat sudah pulas, mungkin juga mendengkur. Saya masih sibuk menyibak nyenyamuk yang menggigiti kaki. Setelah mengeluarkan kain pantai butut, saya segera bermimpi. Tentang Munduk, tamu-tamunya yang meluber, para pegawai baru restoran, dan kebun sayur saya yang menjadi 5 tingkat plus ulat-ulat. Tampaknya saya dipanggil ke Munduk lagi nih.

Pukul 4.00 saya terbangun, tak kuat bau asap bus yang diparkir di depan saya. Setelah mencuci muka, kami pun mulai berjalan. Saya lirik arloji, pukul 04.45 am.

Ayos yang sudah mengganti penampilan dengan celana pendek dan kaos panjang warna hitam mirip kesurupan. Jalannya cepat. Kami hanya berhenti sejenak di patung Ken Dedes, mejeng, foto-foto. Lalu terus berjalan hingga memasuki kawasan Singosari. Kami ambil kanan jalan, menghindari sinar matahari. Ketika melihat gang ke arah kompleks candi, terpikir untuk mampir. Tapi tidak jadi. “Kapan-kapan saja kalau bawa motor, Mbak,” kata Ayos. “Mending mampir di kompleks wisata tekstil La Gross.”

yang dilihat: rm ular

yang dilihat: rm ular

Satu jam berjalan, saya mulai kelelahan. Butuh penguat. Kopi. Tapi hanya dapat roti goreng enak, yang Rp5.000 dapat 10 biji. Restoran Cobra Agung yang menyajikan aneka makanan ular pun tutup. Andai buka pun, saya ogah mampir. Tak berapa lama muncul tanda ‘La Gross’ di kiri jalan. Kami menyebrang, berjalan sekitar 500 m menuju kompleks La Gross. Sialan, tutup! Kami lupa Kamis 29 Agustus 2013 adalah hari pencoblosan Gubernur Jatim. Dasar anak nakal, bukannya nyoblos malah jalan-jalan. Jadi kami menuju alternatif kedua, Agro Tawon. Tujuan saya bukan mau melihat lebah, tapi mencari beeswax alias lilin yang terbuat dari sarang lebah. Siapa tahu ada dan saya boleh membelinya untuk percobaan lotion alami. Ternyata memang ada, dan saya diberi beeswax gratis. Alhamdulillah!

Dari Agro Tawon kami terus berjalan, hingga berhenti di Stasiun lama Lawang. Di sini kami ngopi. Ayos mulai merasa perlu menyelonjorkan kaki. Saya merasa badan dan kaki mulai lentur. Selalu, 3 jam pertama jalan kaki menjadi bentuk penyesuaian. Mirip naik gunung saja. Bedanya, saat naik gunung, penyesuaian nafas dan langkah kaki terjadi pada satu jam pertama.

Pukul sembilan lebih kami tinggalkan stasiun, berjalan melewati pasar Lawang –saya mampir beli seaweed, pakan burung yang dapat dijadikan ragi bir- dan terus berjalan. Rasanya menyiksa panasnya. Ayos tak henti minum. Ketika air putihnya habis, dia pun bertanya kepada seorang polisi yang menyirami halaman posnya di Purwodadi.

masjid cheng ho pasuruan

masjid cheng ho pasuruan

“Pak, punya air putih dingin nggak, buat minum?” tanyanya.

Pak Polisi yang baik itu menggiringnya ke belakang pos, dan menyodori sekarton air mineral dalam gelas. Ketika Ayos mengambil 2-3 gelas, Pak Polisi terus menambah sampai sekitar 8 gelas. Kami lalu duduk di pos polisi itu, beristirahat. Kemudian kami berjalan dengan tujuan Kebun Raya Purwodadi sebagai tempat istirahat dan makan siang berikutnya. Menurut perkiraan saya, pastilah kebun raya dekat. Apalagi saat bertanya kepada seorang tukang rumput, dijawabnya ‘setengah kilo saja’. Anehnya, setengah kilo kok butuh waktu sejaman buat berjalan kaki. Sudah sejak di Singosari kaki saya kesakitan akibat memakai sepatu tanpa kaos kaki. Mau ganti sandal jepit, malas belangnya di kaki yang bisa bertahan bulanan. Aha!

Begitu melewati kebun raya, lega rasanya. Kami langsung berhenti di warung baso pertama, menyantap baso dan es nutrisari. (kali ini batal puasa vegetarian). Saya langsung selonjor di lantai, enggan duduk di bangku kayu. Sepatu saya copot, benar jemari kaki saya melepuh dan berair. Buruk bentuknya. Saya lihat arloji, pukul 11 lebih. Ayos mulai ketiduran akibat kelelahan dan kekenyangan. Hampir sejam di warung baso, kami menuju masjid terdekat –sekitar satu km dari warung- dan beristirahat di sana hingga pukul 3 petang, menunggu ashar.

Istirahat terlalu lama tidak menyenangkan. Tapi berjalan di terik matahari lebih menyiksa. Saat kembali ke jalan, baru saya sadari sol sepatu sebelah kanan terlepas, disusul yang sebelah kiri. Akhirnya saya buang sepatu tersebut, berganti sandal jepit. Anak singkong memang tak bisa bergaya ala anak keju.

sepatu yang jebol

sepatu yang jebol

Kami terus berjalan dengan orientasi terminal Pandaan. Namun ketika hari menggelap, Ayos tak sabar. “Cari makan, Mbak!” Akhirnya kami menuju warung rawon, satu-satunya warung yang layak tampak di dekat situ.

Selalu, setiap orang yang kami jumpai –penjual kopi di stasiun, pemilik warung rawon, penjual kopi di Pandaan- bertanya, “Dari mana?” atau “Mau ke mana”, lalu kami jawab dengan “Dari Malang dengan berjalan kaki, mau ke Surabaya” pasti bengong. Heran, takjub, semacam itu. Di jaman pesawat angkasa sekarang ini, kok ada yang mau berjalan kaki dari kota ke kota, begitu mungkin pikir mereka. Apalagi kereta api Malang-Surabaya hanya Rp.4.000. Jadi kenapa mesti susah-susah berjalan kaki? Mirip kurang kerjaan.

Buat Ayos, kawan saya yang seumuran keponakan ini, berjalan kaki dari kota ke kota mirip obsesi. “Bapakku sering sekali bercerita kalau harus berjalan kaki dari Jogja ke Klaten ketika tidak punya uang, Mbak,” tuturnya. Bapaknya waktu itu kuliah di UGM, jurusan pertanian. Sang bapak memilih berjalan kaki malam-malam, menembus bahaya melewati hutan singup yang banyak menghiasi Klaten-Jogja.

“Bapakku selalu membawa bendera merah putih dan disampirkan di tasnya. Bapak takut dikira maling, lalu dikejar dan dipukuli penduduk,” tambahnya. Saya ngakak, membayangkan orang memondong ransel berbalut bendera bukan karena patriotisme, tapi takut dikejar maling. Apapun itu telah membuat si bos hifatlobrain ini bersemangat menyelesaikan etape ‘90km jalan kaki Malang-Surabaya”.

sebuah perbandingan : kekokohan dan niat hati

sebuah perbandingan : kekokohan dan niat hati

Saya sendiri memang butuh berjalan, setelah hampir 2 minggu di rumah, menyelesaikan ujicoba bir dan sabun lerak, juga lotion cocoa butter. Berjalan, menurut saya mirip meditasi. Saya tak perlu memikirkan apapun, melamunkan apapun. Juga tak perlu mengerjakan apapun seperti menulis, atau online. Saya hanya dituntut memperhatikan jalan, orang-orang, dan suasana, sepanjang jalan yang saya lalui. Kalau mau berjalan sungguh-sungguh, kita dapat belajar dari mengamati dan merasakan sekitar. Sesuatu yang biasanya lepas dari pengamatan ketika kita bermobil atau bermotor. Pemulung botol plastik, misalnya, atau warung makan aneh di pojokan pasar

Malam itu saya merasa ringan. Usai mandi di sebuah masjid, lalu rebahan, saya pun tertidur. Ayos sudah mendengkur lebih dulu. Mungkin dia lebih kelelahan. Tubuhnya yang subur akan menjadi beban cukup berat bagi kedua kakinya. Dari tiga masjid tempat kami tetirah, beristirahat, hampir semua penghuninya menyambut ramah. Di masjid pertama di Purwodadi, jemaahnya membiarkan kami tidur siang. Bahkan seorang ibu menunjukkan saya kamar mandi dan menyuruh saya mandi. Mungkin karena wajah saya yang berdebu dan bau tubuh luar biasa.

Masjid kedua hanya buka sampai jam 7 malam. Ayos sempat mandi di sana, saya tidak. Mungkin karena masjidnya menjadi satu dengan sekolah. Seorang perempuan yang sedang hamil menunjukkan letak kamar mandi kepada saya, ketika kami berhenti di masjid ketiga yang belum jadi. Akhirnya kami beristirahat di sana hingga dini hari.

Rencana malam itu, kami akan mulai berjalan pukul 10 malam dengan harapan mencapai Bungurasih pagi. Tapi rasa lelah, kantuk, dan angin malam membuat saya terlelap hingga pukul 1 dini hari. Kami membelah malam pukul 01.30. Saya melaju ringan, Ayos bermasalah dengan angkel kakinya, gara-gara sepatunya kekecilan. Untung sudah saya buang sepatu saya.

Saya lebih sering berjalan mendulu. Menikmati truk-truk besar yang diparkir sepanjang jalan, pengemudinya yang menangkup kopi dan bis di warung-warung kecil. Bahkan saya sempat melihat sebuah warung yang menyajikan karaoke berupa teve besar dengan seorang lelaki melotot di depannya. Ah, semoga dia tidak mabuk. Ayos sendiri mengaku dua kali ditawari tumpangan gratis oleh sebuah mobil. Mungkin pengemudinya kasihan melihat jalannya yang tertatih-tatih.

Sekali kami mampir ke warung kopi. Lagi-lagi penjualnya, seorang ibu, tampak ndlongop begitu tahu kami berjalan kaki dari Malang. Murah juga di warung itu. Sepiring mi goreng dan dua cangkir kopi hanya Rp.7.000. Pantas warungnya meriah. “Saya hanya buka dari malam sampai pagi karena banyak yang iri,” aku si ibu penjual. Yah begitulah  dunia, iri-mengiri dalam segala bidang kehidupan mirip penyakit yang lebih mematikan ketimbang kanker.

Kami terus berjalan dan baru beristirahat di depan Masjid Cheng Ho Pasuruan. Menikmati subuh yang benar-benar ‘subuh’. Itu terakhir kali saya bersama Ayos. Sesudahnya saya berjalan di depan, merasa ngeri dengan kendaraan yang lalu lalang di jalan lebar nan ramai. Tepat pukul 6.00 saya hadang elp, menuju Surabaya. Bukan karena tidak kuat, tapi lebih teringat keponakan dan bosan. Apalagi matahari mulai menantang. Ini proyek Ayos. Saya yakin dia pasti sampai Surabaya malam ini, paling buruk esok dini hari.

Ah, saya jadi ingat percakapan sebelumnya. “Yos, ada pengaruhnya nggak kalau saya ikut jalan menemani kamu?” tanya saya sekedar iseng.

“Jelas ada dong Mbak. Jalan sendiri pasti berat, bisa down saya di awal-awal.”

Sekarang saya yakin dia tidak bakalan berhenti walau kakinya sakit. Seorang pejuang adalah mereka yang mampu menghadapi keterbatasan diri sendiri tanpa pernah mengalah pada keadaan atau dunia. Tak percaya? Cobalah berjalan kaki jarak jauh!