Tags


Megu-san bercerita ketikan menginap di Japanese House, Sanur, dia melihat kawannya mencuci menggunakan buah lerak. “Dia hanya memasukkan sebutir lerak untuh ke dalam ember berisi air, lalu merendam lerak itu bersama pakaian kotor. Beberapa waktu kemudian dia mencuci dan membilas pakaiannya.”

lerak atau klerek si pengikat kotoran

lerak atau klerek si pengikat kotoran

Megu tentu saja kagum. Menurutnya hal seperti ini tak pernah dijumpainya di kampungnya, Kyoto, sana. Tapi hal ini mirip dialaminya ketika singgah di India dan Nepal sepuluh tahun lalu.

Megu yang mau ‘meguru’ apa saja ini lalu kuajak membuat sabun berbahan dasar buah lerak atau klerek (bahasa Jawa). Kebetulan masa memindahkan bibit ke calon kebun sayur kami hampir tuntas. Mulanya, kuajak dia ke toko untuk membeli buah lerak. Ternyata lerak di toko dijual super mahal, Rp.15.000 untuk 10 butir. Sudah mirip suvenir rupanya lerak di Munduk ini. Tak berputus asa, kami pun menuju pasar. Kami membeli lerak-lerak yang dijual Made Sani. Harganya seperlima belas kali harga turis, Rp.1000 per 10 butir. (Kelak kutahu harga  lerak di kota besar mirip Surabaya pun meroket, sebutir Rp.1000. Wow!)

Aku belum yakin bagaimana membuat sabun lerak dengan tepat. Dulu, nenek dan ibuku biasa merendam buah lerak begitu saja dengan kain batik semalaman. Apa juga sabun lerak cukup digunakan mentahan begitu, merendam buahnya langsung dengan pakaian? Kucoba browsing mencari cara yang paling masuk akal. Kutemukan satu, lewat merebus air campur buah lerak dan membiarkannya mendidih dalam api kecil selama beberapa menit.

sabun lerak saya

sabun lerak saya

Sesuai petunjuk, kami pisahkan buah dengan bijinya dan mengirisnya sekecil mungkin. Lalu merebus 20 butir lerak ke dalam 2 liter air, dan mendidihkannya di dalam api kecil selama 20 menit. Tentu saja aku tak menyaringnya setelah itu, hanya membuang ampas dari air lerak. Aku juga tak membubuhinya dengan pengharum mirip minyak esensial. Katanya, sabun cair lerak sebanyak lebih 1,5 liter itu akan tahan selama seminggu. Terlalu banyak? Tidak juga.

Sabun lerak ini kemudian digunakan Megu untuk mencuci pakaiannya, sebagian lagi digunakan karyawan restoran kawanku buat mencuci piring. Yah, tak sampai seminggu sabun pun habis.

“Sabunnya kok tidak berbusa ya?” tanya salah satu karyawan.

Memang sabun lerak Sapindus rarak De Candole alias S. mukorossi ini tak mengandung banyak busa. Jadi pemakainya pun kerap bertanya-tanya apakah sabun ini benar efektif menyingkirkan berbagai kotoran.

 “Kalau mau berbusa tambah saja soda koustik,” kata kawan yang terbiasa membuat sabun sirih dan sabun bulus.

Selama ini kuat tertanam anggapan bahwa sabun yang baik itu banyak busanya. Padahal banyak sedikitnya busa bergantung pada permainan zat kimia. Sabun yang baik yang tidak membuat kulit alergi, mampu mengikat kotoran dengan cepat, dan tidak mencemari lingkungan. Ketiga faktor ini dimiliki oleh klerak.

Ketika pulang ke basecamp di Surabaya, kuulangi membuat sabun lerak untuk kupakai sendiri. Mencuci baju, perangkat makan, dan mengepel lantai. Tak hanya pakaian batik yang kucuci dengan lerak, baju warna putih juga. Bahkan gombal, lap-lap yang bau amis, termasuk popok bayi yang baunya entahlah. Oke, oye, ojeb ternyata hasilnya. Pakaianku tidak berbau, kotorannya tanggal semua. Jadilah aku pemakai setia si lerak. Bahkan mulai menerima orderan membuat sabun lerak di apotek milik kawan. Hanya, lerak ternyata susah ditemukan di pasar kecil. Harganya pun meroket menjadi Rp.1000 sebutir. Alamak!