Tags

,


Bagi saya, paling mumet kalau harus merevisi novel berseri. Ujung-ujungnya pasti tergelincir pada pengulangan sinopsis seperti yang sudah termuat di sampul buku. Demikian pula saat membaca novel Sabda Palon 3: Keruntuhan Majapahit. Daripada pusing, saya ulang saja sinopsisnya di sini:

sp3Jati diri Sabda Palon dan Naya Genggong terkuak perlahan-lahan di hadapan Bhre Kêrtabumi. Meskipun demikian, dua sosok misterius itu masih diselimuti kabut tebal, samar dan tersembunyi. Itu terjadi setelah Bhre Kêrtabhumi mendatangi beberapa petilasan suci: Gunung Kawi, Dharmma Badhyut, Gunung Pawitra, dan Gunung Lawu. Di tempat-tempat itu dia menggelar tapa brata sesuai perintah sosok niskala yang dipercayainya sebagai Resi Agastya, pamomong Nusantara.

Sementara itu, perkembangan Majapahit semakin tidak menentu setelah Raden Kêrtawijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit menggantikan Rani Suhita yang telah mangkat. Takhta Tumapêl yang semula dia duduki dilimpahkan kepada adiknya, Raden Kêrtarajasa. Perseteruan diam-diam terjadi antara kakak-beradik itu. Kekacauan pun sengaja disebar di mana-mana.

Pada saat yang sama, Haji Gan Eng Cu dan Adipati Tuban Arya Adikara wafat hampir bersamaan. Tetapi kematian dua tokoh penting tersebut segera mendapat pengganti, seolah sudah ada yang mengatur. Sayyid Ali Rahmad dan Sayyid Ali Murtadlo sama-sama mendapatkan putra yang kelak akan menjadi ulama kenamaan. Sementara Tumenggung Wilwatikta mempunyai putra yang kelak bakal menentukan wajah Islam di Nusantara.

Kisah diakhiri dengan kembalinya Bhre Kertabumi dari pertapaan  panjang, serta latar cikal-bakal Ngampeldento.

Untuk memaknai novel sejarah tanah Jawa ini saya merasa perlu bertanya langsung kepada editornya, Shalahuddin GZ, dan penulisnya, Dhamar, beberapa waktu lampau. Saya ingin mendapat gambaran selengkap mungkin mengapa Dhamar ingin menjadikan kisah ini menjadi novel. Apa memang layak karena ada unsur pembelajaran, mengingatkan kepada generasi yang ada sekarang akan ‘sumpah’ Sabda Palon, ataukah ini berkaitan dengan krisis identitas, ancaman perpecahan di bumi nusantara saat ini?

Saya pernah meresensi jilid 1 dan 2 novel ini di sini: ‘buku dan kebangkitan nusantara’

Sekarang saya ingin membedah novel ini dari sudut yang berbeda, yaitu bagaimana agama-agama impor (khususnya Hndu, Buddha, dan Islam) menyebar di nusantara.

Kebudayaan Hindu dan Buddha menyebar ke nusantara karena ditularkan oleh pedagang dari India dan Cina sejak awal masehi. Ketika itu perdagangan menggunakan jalur laut, dan bandar di selat Melaka menjadi pasar yang ramai. Kemudian datanglah misi penyiar agama secara resmi karena undangan para raja yang memerintah nusantara. Setelah itu baru dikirim utusan dari kerajaan-kerajaan di nusantara untuk memperdalam hindu dan buddha di India.

Sebelum masuknya Hindu dan Buddha, masyarakat nusantara menganut animisme dan dinamisme. Kedatangan kedua ajaran di atas tidak sontak diterima, namun berjalan lambat melalui proses akulturasi yang panjang pada kedua budaya (Hindu-nusantara atau Buddha-nusantara). Contoh akulturasi ini misalnya pada penggunaan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa (yang menjadi cikal bakal huruf Kawi, Bali, dan Bugis).:

Hindu dan Buddha juga mengalami sinkretisme dengan kepercayaan lokal (animisme-dinamisme), sehingga akhirnya diterima masyarakat di nusantara saat itu. Contoh sinkretisme ini misalnya upacara Nyepi yang diperingati umat hindu Bali ternyata tak terdapat di negara asal hindu, India. Contoh yang lain adalah fungsi candi. Candi di Indonesia memiliki bentuk dasar punden berundak, sebagai peninggalan kebudayaan Megalithikum. Fungsi candi hindu di Indonesia lebih sebagai pemujaan terhadap roh nenek moyang atau untuk mengenang raja yang sudah meninggal. Sementara candi di India mirip kuil, sebagai tempat pemujaan para dewa, misalnya Syiwa.

Sementara dalam sosial kemasyarakatan, fungsi kasta di nusantara lebih berlaku pada saat upacara keagamaan, sementara di India, kasta diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Di Indonesia siapapun dapat menjadi dokter, politisi, pejabat, tak peduli kastanya.

Novel Sabda Palon menitikberatkan saat-saat menjelang kejatuhan Majapahit, lewat tokoh Bhre Kertabumi dan kedua abdinya, Sabda Palon dan Naya Genggong. Pada masa itu agama negara adalah Syiwa-Buddha, yang merupakan sinkretisme dari Hindu dan Buddha. Pada saat yang sama Islam baru mulai disebarkan oleh tokoh dari Arab maupun Cina.

Yang menarik, tak ada antipati masyarakat lokal terhadap penyebaran agama baru. Sebagai misal, jika di negara asal, India, pemeluk Hindu dan Buddha sering bentrok, di nusantara justru sebaliknya. Bahkan terjadi sinkretisme menjadi Syiwa-Buddha. Demikian pula saat awal Islam disebarkan. Si penyebar tak hendak memaksakan kehendak. Dia menyebarkan Islam dengan memberi contoh perilaku, bukan perang. Dan lebih dahsyatnya, Islam masuk lewat budaya, sehingga terjadi akulturasi budaya Islam dan budaya lokal. Sebagai gambaran, bagaimana sunan kali jaga menyebarkan ajaran Islam lewat wayang beber dan kisah lainnya. Lokalisasi ajaran inilah yang membuat agama-agama impor mudah diterima masyarakat lokal, dan tidak tampak asing. Jadi memang berbeda dengan agama yang diturunkan di tanah aslinya. Islam di nusantara lebih mengarah pada budaya. (Hal ini juga pernah saya bahas di link ini : ‘budaya islam di jawa’

Kondisi di atas digambarkan dengan jelas pada tiga serial awal novel Sabda Palon. Perang yang terjadi di kerajaan nusantara (Majapahit dan lainnya) justru dipicu oleh keserakahan, persaingan kekuasaa, dan iri dengki. Jadi sifat-sifat buruk yang menjadi watak dasar manusialah yang menghancurkan manusia, bukan ajaran agama.

Adalah penting untuk mengingat kembali ucapan Sabda Palon ketika tahu bahwa Bhre Kertabumi memeluk Islam.

“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”

(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)

Tentang hal ini, kawan saya, Mastok, mengulasnya dengan baik di link ini : http://baltyra.com/2013/08/21/menelisik-misteri-sabda-palon/

Inti dari penjabaran di atas adalah, pada mulanya agama-agama impor disebarkan dan diterima dengan damai oleh masyarakat nusantara. Namun kemudian terjadi ontran-ontran, pemaksaan demi kemurnian pelaksanaan agama yang bersangkutan (ala ortodoks) dan ini marak terjadi saat ini. Maka, orang-orang pun mulai mempertanyakan lagi hal agama ini, apakah baik buat mereka, apakah tidak sebaiknya kembali kepada agama budhi (lebih berlandaskan perilaku, bukan aturan-aturan agama impor) yang menjadi jatidiri bangsa. Begitu saya memaknai novel Sanda Palon beserta ramalannya. Tentu ada yang tak sehati dengan saya, tapi setiap orang bebas menerjemahkan ramalan ini dan memaknai novel Sabda Palon ini.

Selamat membaca dan salam meta,