Tags

,

Mereka mengirimiku buku. Judulnya ‘kolkata’. Isinya foto-foto tentang kehidupan di  Calcutta, India, beserta sedikit esai, kadang mirip puisi, dalam tiga bahasa: Prancis, Thai, dan Inggris. Kecuali huruf cacing ala Thai, aku mampu menyimak keterangan buku sederhana ini.

Paco memang berasal dari Prancis, tepatnya dari kota Digne, Alpes Cote D’azur. Entah sejak kapan mengembara, tapi pada tahun 1994 dia sempat mengunjungi Borneo, beberapa tahun kemudian ke Sumatra. Sedang pasangannya, Juree, orang Bangkok. Mereka bertemu semasa menjadi relawan program kemanusiaan yang dipimpin Dalai Lama di Tibet. Terakhir mereka menetap selama 1,5 tahun di Bangkok sebelum kembali ke Indonesia.

Mereka memintaku menjadi ‘host’ lewat couchsurfing. Aku ragu. Aku belum pernah menjamu pejalan secara resmi, paling hanya kawan-kawan pendaki gunung atau pencinta alam. Jadi kucoba ulur waktu. Namun Paco berkeras ingin bersua denganku. Bahkan, dia rela memperpanjang liburannya di Solo dan sekitarnya –termasuk mendaki Gunung Merbabu- agar tepat di Surabaya saat aku di rumah.

pac1

paco dan juree di antara ban-ban raksasa bekas tambang

Aku segan karena rumah ibuku sangat ‘kuno’. Ubinnya berwarna semen yang berlubang dan mengelupas di sana-sini. Kamar tidur di rumah hanya ada dua: satu yang kutempati sebagai kamar tidur plus kerja, satunya lagi menjadi semacam gudang alat-alat penyewaan kemping. Ibuku sendiri biasa tidur di depan teve yang kepanjangan ruang tamu. Jadi mau kutempatkan di mana mereka jika menginap di rumah? Belum lagi dapur rumahku yang kusam, amburadul, dan jauh dari kesan bersih. Sungguh aku minder.

Tapi, begitu melihat Paco dan Juree keluar dari stasiun kereta api Gubeng siang itu, hatiku langsung luluh. Kulihat ketulusan dan kesederhanaan dalam wajah mereka. Jadi segera saja kubilang, ‘Tidurlah di rumahku barang dua tiga hari. Kau boleh menempati kamarku, aku jarang tidur kalau malam. Bekerja, menulis.”

Tentu saja aku tak sedang berbohong. Ada naskah buku yang harus kugarap segera. Dan duduk manis di kasur depan teve bukanlah hal susah. Siang itu aku mengajak keduanya berjalan cukup jauh sebelum menyetop angkot menuju rumahku. Keduanya pasangan yang suka kesenyapan dan kesederhanaan. Paco itu antropolog, dia juga pernah belajar ekonomi. Sedang Juree seorang artis, pelukis. Usai dua bulan mengunjungi Indonesia, mereka langsung menuju Nepal dan berdiam di sana selama setahun. Juree hendak memulai kursus melukis di sebuah vihara di Nepal. Sedang Paco yang terbiasa bekerja dengan proyek sosial buddha, akan menjadi relawan di panti jompo di sana.

Hari itu mereka senyap di rumahku, menikmati makan siang masakan ibuku. Baru kutahu kalau keduanya vegetarian. Malamnya, kuajak mereka menikmati kemeriahan pasar malam di lapangan Kodam, 500 m dari rumahku. Juree suka dengan corak pasar malam, Paco kebingungan dikelilingi suara mendengung para pengunjung. Akhirnya kami menyepi duduk di pojokan dan berbincang santai, mirip kawan lama. Kata Paco, “Aku merasa harus menemuimu, entah kenapa.” Hidupnya lebih banyak dituntun intuisi, mirip mereka yang memilih jalan sunyi. Lalu kuceritakan tentang Indonesia secara umum, tentang tempat-tempat yang kukunjungi. Mulai Sumatra, Borneo, Sulawesi, Bali, Lombok, Flores, Sumbawa, hingga Timor dan Maluku.

Paco terobsesi komodo. Dia ingin naik kapal laut keesokan harinya menuju komodo. Namun dia juga terpesona dengan kisahku tentang Munduk, orang-orang di Pegunungan Ijen. Paco bimbang, namun memilih tinggal lebih lama di Surabaya. Keesokan harinya kuajak mereka ke Pulau ‘garam’ Madura naik feri. Paco girang. Laut membuatnya bahagia, mirip mengingatkannya akan Marseilles. Apalagi para pedagang asongan di feri tak henti menggodanya, bertanya ini itu. (Sebetulnya kehadirannya juga menarik perhatian anak-anak di gang rumahku. Setiap kali dia berjalan, anak-anak akan berseru, “Hai mister.. hai mister’. Seolah, gang-gang dan kampung-kampung Surabaya memang langka dengan para ‘mister’.)

buku kiriman paco n juree

buku kiriman paco n juree

Ketika berjalan di sela tumpukan ban-ban bekas raksasa –yang kutahu kemudian dikapalkan dari Papua, tepatnya dari tambang Freeport- Paco yang satu telinganya tuli mulai mengeluh. Kehilangan keseimbangan badan, lemas, sakit perut. Kurasa tubuhnya tak tahan dengan masakan pedas ala Surabaya. Menunggunya berbaring di sebuah warung, kulihat perempuan tua berkebaya dan jarit datang memesan makanan. Rupanya dia orang Jawa. Katanya, “Saya lapar. Badan saya lemas setelah dipijat.”

Kata-kata ‘pijat’ menarik ingatanku ke masa lalu, saat mengalami pijat madura di Kalianget. Luar biasa enaknya (baca juga: pijat-madura-rasanya-wow). Jadi iseng kutawarkan kepada Paco, “Kau mau merasakan pijat Madura? Luaarrr biasa rasanya.” Paco tampak tertarik, aku tak tahu kalau dia keranjingan pijat. Dia sudah merasakan aneka pijat di aneka belahan bumi. Sedang Juree mengangkat alis, mirip tak setuju. Belakangan kutahu kalau ibu Juree ternyata pakar ‘Thai Massage’. Ibunya mengajari banyak orang bagaimana memijat Thai yang benar. Salah satu cirinya –kata Juree- tidak sakit, tidak menimbulkan lebam-lebam atau warna kebiruan, njarem, serta yang dipijat tidak boleh ketiduran saat dipijat.

“Berapa?” tanya Paco.
“Tiga puluh ribu,” jawabku. Jauh lebih murah ketimbang ‘Thai massaga’ yang mencapai 300 bath sejam, itu pun hanya bagian tubuh tertentu, tidak seluruh tubuh.

Tiga puluh menit kemudian Paco sudah tengkurap di atas selembar tikar, hanya mengenakan sarung. Ibu si pemijat sibuk membelah tubuh lelaki berkulit mulus itu dengan tangannya. Aku tak berani memandang pintu terbuka itu. Lebih ngeri melihat orang dipijat ketimbang merasakan langsung pijatannya. Si ibu mulanya emoh memijat. Namun begitu tahu kalau tamunya bule, masakan di dapur segera ditinggalkannya. Demi ‘mister londo’. Apalagi si ibu teringat anaknya yang bekerja di kapal pesiar dan sedang berada di Amerika. Ikatan aneh yang tak berhubungan tapi dihubung-hubungkan.

Sementara Paco dipijat, aku dan Juree lebih tertarik memandang ayam-ayam kate di halaman rumah bergaya spanyolan ala kampung itu. Lebih satu jam Paco dipijat. Begitu selesai, wajahnya tak lagi pucat. Dia minta difoto bersama dengan si ibu pemijat, lalu mengangsurkan selembar kertas biru bergambar Sudirman.

Dalam perjalanan menuju Pasar Baru Bangkalan itulah Paco bersuara. “Terimakasih Ary sudah memperkenalkanku dengan pijat luar biasa begini. Baru kali ini kurasakan pijat sehebat ini. Efeknya mirip melakukan meditasi selama sehari semalam, padahal pijatannya hanya satu jam. Tapi rasanya begitu dalam,” katanya di dalam colt.

Menurutnya, ada dua kali rasa sakit luar biasa yang dirasakannya saat dipijat. Pertama saat si ibu memijat kepala. Kedua ketika memijat sebuah titik di area dekat selangkangan. Di titik itu ada benjolan sebesar kelereng. “Sakitnya… sungguh tak tertahankan. Tapi aku tak berani protes. Si ibu tampak begitu percaya diri.”

Aku tertawa, menahan gelak yang mengaduk-aduk perut. Kurasa pijatan si ibu belum ada apa-apanya dibanding tukang pijat di Kalianget dulu. Namun begitulah pijat Madura, efeknya tak kalah hot dengan ramuan Madura.

Oya, Paco dan Juree masih menginap di rumahku keesokan malamnya, setelah menuntaskan bertemu dan mengamati komodo di kebun binatang. Ketika hendak berpisah, dia meninggalkan sebagian kecil barang-barangnya. Ada kaos, parfum, kopi, dan masih banyak lagi.

“Kau tahu Ary, ketika bepergian ada saja orang yang memberi kami sesuatu. Maka akan ada yang kami tinggalkan buat mereka. Dengan begitu bawaan kami akan tetap, sama.” Kutatap ransel menjulang yang dibawanya. Hanya itu dan sebuah ransel kecil. Bekal hidup setahun di Nepal. Luar biasa!

Advertisements