Saya ingat benar Minggu 8 September. Terbangun pukul 3 pagi dan menyadari laptop saya ngadat, windows-nya tak dapat dibuka. Ada banyak data saya di sana, data 5 tahun terakhir malah. Mulai kumpulan foto keliling Indonesia dan Asean, lalu naskah, calon naskah, dan banyak lagi. Panik? Sedikit. Tapi herannya saya merasa lega, tak perlu onlen beberapa hari, dapat istirahat dari komputer, dan menghabiskan waktu dengan membaca buku. Lalu saya hubungi penerbit yang beberapa hari lalu menanyakan kemajuan naskah terbaru. Siapa tahu dapat solusi. Dipinjami duit misalnya, buat membeli laptop baru. Kan bulan Oktober royalti saya sudah keluar. Jawabnya ‘saya juga nggak ada duit’, lalu menyarankan saya membeli laptop merk Asus yang konon super bandel. Dia juga menawarkan IT-nya untuk menyelamatkan data saya. Lha, kalau IT penyelamat data, gampang saja saya kontak teman-teman dekat. Saya butuh laptop baru, karena yanglama sudah berumur 6 tahun dan memang sedang sekarat.

satu dari sedikit foto yang saya ambil

satu dari sedikit foto yang saya ambil

Lalu saya hubungi Kath, si pemilik c2o. Dia menyuruh saya membawa laptop ke perpustakaannya sore itu. Malam itu, saat berkutat dengan macbook lama Kath, iseng saya buka fesbuk. Ada pesan terkirim dari seorang gadis yang tak saya kenal. Dia mengaku dari Kick Andy dan meminta saya mengiriminya sms. Saya tertawa, anggap  sebagai gurauan kecil. Saya tak berminat menjadi bahan publikasi. Hidup saya sudah sangat tenang. Lalu saya hubungi dua kawan dekat, Ninok dan Kaweng, serta penerbit. Semua mendorong menjawab. Tapi kawan dari Bali (Kaweng) yang membuat saya tergerak menjawab. Katanya, itu ajang berbagi pengalaman, bukan untuk membanggakan diri. Satu jam kemudian, pukul 21.30 baru saya sms si peninggal pesan. Lalu berturut-turut beberapa telepon masuk. Dari produser acara dan sebagainya. Intinya, mereka sedang mengangkat topik ‘para pejalan yang melakukan perjalanan keliling Indonesia sambil berbuat sesuatu.’ Mereka menyoroti perjalanan saya keliling Sumatra beberapa bulan setelah operasi kanker terakhir.

Saya merasa tidak tepat menjadi nara sumber. Banyak pejalan hebat di nusantara. Jadi dengan halus saya tolak. Apalagi waktu tapping di Jakarta bertepatan dengan sebuah acara di Surabaya. Si produser membujuk. Lalu saya mengontak teman untuk  menunda janji sehari kemudian. Dua hari berikutnya saya disibukkan dengan wawancara ini itu, pemberitahuan kode booking pesawat dan hotel. Sementara itu laptop saya tetap rusak, dan saya berusaha menyelamatkan data tersisa. Laptop akhirnya dapat dioperasikan, namun sebagian besar fungsinya hilang. Program-program penting pun tak lagi jalan. Ya sudah.

Saya tak suka mem-Batavia. Ada banyak pengalaman buruk di sana. Tapi saya juga punya banyak kawan baik yang ingin saya temui. Di antaranya rekan-rekan baltyra. Jadi saya hubungi JC si lurah baltyra. Dia menawarkan diri menjemput saya Rabu, 11 September, tengah hari. Kami –saya, JC, Pak Han- lalu menghabiskan waktu di sebuah mall di senayan. Ngobrol ngalor-ngidul yang ringan tapi bergizi. Setidaknya Pak Han dan lembaganya menawarkan kursus pertanian organik gratis selama beberapa bulan di Cipanas buat anak muda di Munduk, Bali, desa tempat saya bermukim.

Pukul setengah lima sore saya sudah memasuki gedung metro teve dengan canggung. Saya berpakaian seperti saat berada di lapangan, karena semua pakaian sudah dikirim ke Munduk. Bahkan sepatu pun ‘nyikat’ dari timbunan barang bekas. Ketika naik ke lantai dua dan bertemu kru KA, baru saya merasa lega. Mereka anak-anak muda yang ramah, enerjik, dan mau belajar sesuatu dari orang-orang baru yang mereka temui. Saya juga sempat bertemu dengan dua rekan kompasiana –pak Dian dan Anaz- sayang kemudian saya disibukkan acara ini itu.

Ketika Andi F Noya menemui kami –Hendra, Why, dan saya- di sebuah ruangan untuk memberikan sedikit pengarahan, suasana begitu cair. Mungkin dia sadar, kami ini pejalan yang menghabiskan sebagian besar waktu di jalan, bergaul dengan beragam orang, mulai kelas teri hingga terkenal, jadi takkan mengalami banyak hambatan di atas panggung. Buat saya pribadi, ikut KA bukan sebuah kebanggaan yang perlu digembar-gemborkan. Biasa sajalah. Satu peristiwa dari sejuta kejadian hidup yang harus dinikmati. Sebuah meditasi dalam bentuk lain. Lalu bertiga kami memasuki studio.

Saya ingin berkisah tentang dua rekan lain, Hendra Jaya dan Wahyudi Panggabean. Hendra sudah 7 tahun keliling Indonesia dengan vespa bututnya. Di setiap propinsi yang disinggahinya –ada 33 propinsi- Hendra mencoba melakukan sesuatu, baik donor darah maupun menanam pohon. Kisah Hendra bisa dibaca di http://gamalamaartscooter.blogspot.com/2008/07/hendra-jaya-keliling-indonesia.html

Hendra menjadi narsum pertama. Perawakannya subur, dibungkus seragam doreng, dengan gaya bertutur yang lugu dan kocak. Dia memang anak kolong, bapaknya polisi militer. Sepintas mungkin orang akan meremehkannya. Namun Hendra sangat polos dan jujur. Mendengarkannya berkisah mirip mendengar celoteh bocah yang dengan gamblang menceritakan apa yang dilihatnya, dialaminya, tanpa merasa perlu melewatkan salah satunya. Kecintaannya pada negara kesatuan RI patut diacungi jempol. Dia begitu patriotik. Langka menemukan orang seperti Hendra di jaman sekarang. Mungkin sikapnyalah yang menyelamatkan dan memeliharanya sepanjang jalan.

Lalu tentang Why -panggilan Wahyudi-, yang tak pernah melewatkan untuk mengumpulkan alat musik tradisional di setiap tempat yang disinggahinya. Why yang pencinta musik, pemain musik, sungguh merasakan kekayaan budaya Indonesia. Dia juga kerap melakukan aktivitas sosial dalam perjalanan lewat klub Balibackpackers. Why datang dengan kelompok musiknya, memainkan 2 lagu di akhir acara. Saya sempatkan ngobrol dengan teman-temannya. Mereka anak muda yang penuh semangat, ingin belajar sekaligus berbagi. Semangat, optimisme, dan keinginan membuat sekelilingnya menjadi lebih baik inilah yang saya rasakan selama tapping KA ini. Mungkin itu yang membuat saya bertahan, melek 22 jam (sejak pukul 02.00 saat di rumah hingga jelang tengah malam di hotel). Semangat dan energi positif itu menular, menghidupi dan menghidupkan sekelilingnya. Itu yang saya rasakan.

Di akhir acara, sekitar pukul 22.00, mereka membagi-bagikan buku Sumatra kepada penonton. Semoga buku yang saya tulis tersebut bermanfaat. Alangkah menyenangkannya kalau bisa menuliskan sesuatu yang berguna buat sesama. Soal popularitas atau keuntungan finansial, itu hanya akibat. Bukan tujuan saya menulis. (Oya, acara KA ini akan ditampilkan di bulan Oktober, entah minggu pertama atau kedua, belum tahu pasti.)

Salam,