Tags

,


“Saya sudah menjadi petani sejak umur 18 tahun, dan kini umur saya 48. Berarti sudah 30 tahun menjadi petani. Saya belajar bertani dari keluarga saya, dari mendengarkan acara-acara, yang digelar komunitas desa, dan dari pengalaman. Pertanian tradisional diwariskan dari generasi ke generasi. Jadi saya pikir.. menjadi petani berarti meneruskan karir orang tua. Orangtua saya adalah petani, maka saya pun menjadi petani,” katanya sambil tertawa.

It's a Living, diterbitkan oleh NUS

It’s a Living, diterbitkan oleh NUS

“Pekerjaan sehari-hari sebagai petani sangatlah berat. Dimulai pukul 6 pagi. Tidak seperti buruh pabrik, petani tak punya waktu kerja tetap. Pekerjaan ini sangat tidak konsisten. Misalnya di saat panen, saya harus bekerja sejak pukul 6 sampai 12 siang, lalu istirahat untuk makan siang dengan cepat, kemudian kembali bekerja hingga pukul 7-8 malam. Namun jika bukan musim panen, saya sangat santai. Kami tidak harus pergi ke sawah, dan pekerjaan di rumah tidaklah berat. Bertani bergantung pada musim dalam setahun.

Petani harus tahu bagaimana mengombinasikan berbagai macam pekerjaan yang berbeda. Hanya ada 2 musim menanam padi selama setahun. Di antara musim tanam ini petani harus menanam sayur dan bebungaan. Misalnya saat kemarau, petani harus menanam kacang air. Lalu mereka memetik sayur dan menjualnya. Pada musim antara yang lain, petani menanam kol atau kubis. Jika sayur tumbuh baik, maka pendapatan akan berlipat dua atau tiga. Semua petani melakukannya, harus, atau mereka akan mati karena kelaparan.” Lagi-lagi dia mengatakannya sambil tertawa.

“Jika saya tidak ke sawah, saya bekerja membeli dan menjual bahan-bahan daur ulang. Semua pekerjaan ini membuat saya harus bekerja setiap hari selama sebulan. Tak ada hari libur. Ada dua musim panen, dan di antara dua musim tanam padi, kita masih menanam beragam sayuran. Pada malam hari, saya bekerja sampai pukul 8, lalu makan malam dan tidur. Tak ada hal lain yang saya lakukan. Apa maksud kalian dengan hiburan? Hanya ada satu teve dan saya tak punya banyak waktu.

Ada beberapa kemajuan di bidang pertanian. Sebagai contoh di masa lalu membajak sawah dilakukan dengan bantuan kerbau, namun kini dilakukan dengan bantuan mesin. Di masa depan sawah akan semakin berkurang karena industrialisasi dan jumlah pertanian akan menyusut. Akan tiba saatnya kita tak lagi punya lahan pertanian.

Pada tahun 1981, ketika lulus dari sekolah menengah, saya bergabung dengan koperasi. Mulanya saya menjadi sekretaris cabang persatuan pemuda di tingkat lokal Pada musim panen ada serangga berbahaya seperti ‘bo ray’. Kami menangkapnya menggunakan lampion yang diletakkan dalam ember besar dan membawanya ke sawah. Setiap rumah harus membeli 4-5 lampion, ada banyak kupu-kupu ‘gatal’ di sore hari dan ketika melihat cahaya mereka terbang ke arahnya, lalu jatuh ke dalam ember. Maka kami menangkapnya dan membawanya ke koperasi. Sungguh menyenangkan ketika itu, apalagi para pemuda yang memimpin. Suami, istri, dan anak-anaknya di setiap rumah akan keluar dan menangkap kupu-kupu. Sungguh menyenangkan saat itu, sangat menyenangkan.

Dengan 200 atau mungkin sekitar 20 jenis serangga penyengat, saya mendapat sekilo beras. Pada saat itu, nilai tukar diasosiasikan dengan beras, dan pada akhir tahun dihitung seberapa banyak beras yang didapat sebuah keluarga dan koperasi memberi mereka uang. Ketika saya menukar serangga ke koperasi, itulah pertama kalinya saya mendapakant 50.000 dong untuk membeli sepeda. Sepeda saya sendiri! Saya membawa uang itu dan menyerahkannya kepada ibu saya. “Bu, aku baru menerima uang dari hasil mengumpulkan serangga dan ini, kuserahkan kepadamu.” Tapi ibu saya bilang, “Kau boleh mengambilnya untuk beli sepeda.” Maka saya membeli sepeda pertama saya. Saya tak pernah menghasilkan uang sebelumnya, orangtua saya juga tidak menghasilkan uang. Maka saya harus mendapatkan uang sendiri.

Apakah bertani mempengaruhi saya? Tentu saja. Ada pepatah lama mengenai orang-orang seperti saya, “Petani harus menjual wajah mereka ke bumi dan punggung mereka ke langit.” Dan bekerja seharian di bawah terik mentari, dalam balutan sinar ultra violet, tentu saja mempengaruhi hidup saya. Namun saya tak pernah terluka karena bertani. Saya hanya merasa lelah. Dan untungnya saya tak punya masalah kesehatan. Bertani, secara umum adalah pekerjaan yang menghasilkan sedikit uang. Namun kita para petani harus mencintai pekerjaan kita. Apalagi yang bisa kita lakukan?”

Wawancara dengan petani beras dari Gia Lam menjadi pembuka 67 kisah dalam buku: It’s Living, Work and Life in Vietnam Today, yang dieditori Gerard Sages. Sages yang menjadi direktur lokal program UC selama 10 tahun di Vietnam, mengerahkan mahasiswanya untuk mewawancari bermacam orang dari beragam latar pekerjaan. Dalam kurun waktu 2 tahun, mereka berhasil mewawancarai 150 orang -walau yang dimasukkan ke dalam buku hanya 67- dari berbagai latar profesi ini. Selain dari buku yang diterbitkan oleh National University of Singapore ini, Anda dapat juga membacanya di blog projectkieman.wordpress.com

Ada hal menarik yang dikatakan Sages tentang proyeknya ini. Tak peduli bagaimana dunia luar dibentuk, setiap pekerjaan bersama-sama memberikan dasar yang penting dalam membentuk kehidupan. Itu sebabnya mengapa yang diwawancarai tak hanya direktur, manajer pabrik, atau para pengambil keputusan, tapi juga pemulung, pemungut sampah, petani, bahkan pencari uban, penjual obat, hingga pekerja seks. Dengan demikian akan tercipta pemahaman yang lebih baik tentang dunia kerja di Vietnam pada saat ini, bahkan pada masa-masa transisi sebelumnya, di saat Vietnam mengalami perubahan ekonomi, sosial, dan budaya. Profesi yang dipilih adalah yang unik, kurang mendapat publisitas, dimana pekerjanya jarang mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat.

Buku ini menjadi menarik karena mengambil sudut pandang orang pertama dalam setiap penuturan tokohnya. Para pekerja mengemukakan perasaannya tentang pekerjaan yang digelutinya, apakah itu pekerjaan warisan orangtua, atau pekerjaan baru, pengalamannya menggeluti pekerjaan tersebut, suka duka yang dialaminya, juga sejarah yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilakoninya itu. Dari penuturan setiap pekerja ini, kita dapat menarik garis merah bagaimana Vietnam dibentuk pada masa lalu, bagaimana Vietnam hiduo di masa kini, dan hendak menuju ke mana Vietnam nanti.

Tentu saja, kisah para pekerja dalam buku ini sudah mengalami penyuntingan, dan dibentuk berdasarkan beberapa pertanyaan mendasar yang diarahkan oleh penanya. Namun tetap saja, kisah pekerja ini memberi kesan mendalam bagi yang membacanya. Mungkin karena melibatkan emosi pekerjanya, juga penyajian hasil wawancara yang jernih dan jujur, tanpa ditambah kurangi.

Saya mencoba menerjemahkan bagian pertama buku ini, tentang petani bera -dengan keterbatasan ketrampilan penerjemahan yang saya miliki- dengan alasan bahwa kehidupan petani di Asia Tenggara memiliki banyak kemiripan. Petani masih dianggap profesi yang tak banyak menghasilkan uang. Para petani banyak yang terancam kehilangan tanah, pewaris masa depan, seiring dengan kemajuan jaman dan industrialisasi. Ada beberapa bagian dari wawancara dengan petani dari Gia Lam yang saya anggap menarik, layak menjadi bahan perenungan, sehingga saya cetak miring. Apapun itu, buku terbitan National Univessity Singapore ini mampu memberi warna dengan menghidupkan kisah pekerja jelata di Vietnam, yang mungkin juga mirip nasibnya dengan pekerja di negara berkembang lainnya. Nilai-nilai universal tampak kental dalam buku setebal hampir 300 halaman ini.

Selamat Membaca,