Tags

, , ,


Ketika masih di Surabaya, beberapa kali saya menjamu teman Couchsurfing (CS) manca. Walau tak tergabung dalam grup CS Surabaya, ada saja teman CS yang meminta saya menjamu mereka. Ibu kerap memasakkan mereka dengan menu rumahan. Dan mereka suka. Saya sendiri tak mampu harus memasak sekaligus mengantar jalan-jalan.

pac1

Paco dan Jure, kawan CS (Prancis-Bangkok) saat singgah di Surabaya

Kabar kemurahan hati ini menyebar lewat  mulut-ke mulut sehingga semakin banyak saya menerima permintaan menjamu kawan CS. Masalahnya, sejak Juli saya tinggal di rumah kawan di Munduk, desa pelosok di pegunungan Bali Utara. Di sini pagi dan sore -masing-masing satu jam- saya habiskan di kebun (serius, berkebun itu melelahkan!). Sisanya kadang menulis (review, naskah pesanan), membaca, mengerjakan hal remeh-temeh seperti membuat sabun lerak, meracik bir, atau bertamu ke rumah penduduk. Saya memang berencana menuangkan Munduk ke dalam sebuah buku saku.

Secara umum, saya tidak menolak rekan couchsurfing yang hendak ke Munduk. Kawan saya memberi ijin satu kamar di rumahnya untuk menginap para CS atau pejalan, dengan syarat mereka mau melakukan kegiatan volunteering di Munduk. Bentuknya beragam, mulai membantu di kebun sayur yang baru dikembangkan, mempersiapkan perpustakaan desa, atau melakukan pengembangan komunitas di desa. Bagi para volunteer ini disediakan dapur untuk memasak sendiri makanannya. Bahan seperti sayuran dapat diambil di kebun, bahan lain dapat dibeli di pasar tradisional yang berjarak 500 meter dari rumah. Untuk minum tersedia gratis secara ‘self service’. Namun jika memesan makanan di restoran, ya mereka harus membayar. Mereka juga boleh memesan makanan di warung makan seputar desa.

nao sedang volunteering di munduk, bali utara

nao sedang volunteering di munduk, bali utara

Para volunteer ini tak harus bekerja seharian. Paling 3-4 jam, pagi sekali atau petang untuk berkebun dan tengah hari untuk memasak makanan sendiri. Di luar itu mereka bebas berjalan-jalan di obyek wisata seputar Munduk. Ada 4-7 air terjun di Munduk, 3 danau sedikit di luar Munduk, juga kebun kopi, kebun cengkeh, pemandian air panas. Bonus yang lain, di samping rumah kawan tersedia gamelan kebyar. Mereka yang tertarik bermain gamelan, boleh minta ajar orang-orang setempat. Bahkan tak jarang I Made Terip -pakar gamelan kebyar Buleleng yang mendunia- kerap mampir, ngopi, dan makan di rumah kawan. Volunteer dapat berdiskusi dengan dia kalau mau.

Saya jadi ingat postingan kawan pejalan di blognya (http://efenerr.com/2013/09/24/syukuran-rumah-baru-giveaway/).  Dia mempertanyakan kontribusi langsung seorang pejalan bagi masyarakat lokal. Semoga volunteering menjadi salah satu jawabannya.

Oya, saya masih sering mendapat permintaan dari para teman pejalan ‘yang merasa’ dapat menulis untuk memberi akomodasi gratis agar dia bisa menulis Munduk dengan bebas. Dengan berat hati saya bilang, ‘saya aja numpang kawan, gimana mau nggratisi orang. Mending dia minta kepada media tempatnya menulis untuk membiayai perjalanannya, atau mengajukan proposal resmi kepada kepala desa setempat agar mendapat fasilitas.’. Ada juga teman CS manca yang mau tinggal di Munduk, lalu meminta saya mengantarnya keliling Bali. Saya jawab, ‘sebaiknya sewa guide saja’. Sudah bukan masanya pejalan minta gratisan dan membebani orang lokal. Justru seharusnya mereka berkontribusi terhadap orang lokal.

Salam Meta,