Awal 2012 seorang karib menghubungi saya, meminta bantuan untuk memperhalus sebuah desertasi S-3 agar dapat dibukukan. Judul thesis itu kalau tidak salah ‘Bebetei Uma, sebagai Pranata Sosial yang Menyeluruh pada Orang Mentawai’. Penulis thesis itu Bapak Bambang Rudito, belum pernah saya jumpai. Namun isi thesisnya sungguh menarik -walau gaya penulisannya amat akademis dan memusingkan kepala- dan menurut saya amat perlu disebarkan ke awam.

lelaki mentawai -foto: bambang rudito

lelaki mentawai -foto: bambang rudito

Ada sebuah keinginan, mirip obsesi, untuk menyebarkan hasil penelitian berbau akademis seperti skripsi, thesis, ke dalam bahasa yang membumi, sehingga dapat disimak oleh semua orang. Apalagi jika topik penelitian itu berkaitan dengan kehidupan masyarakat luas. Ini yang mendasari saya menyunting ulang thesis tentang etnografi tentang Orang Mentawai ini.

Mendengar kata Mentawai, awam mungkin mengasosiasikan dengan nama pulau di ujung entah Sumatra, atau bencana tsunami dan gempa bumi yang bertahun lalu terjadi. Tak banyak yang tahu bahwa Mentawai adalah nama kepulauan di sebelah barat Kota Padang. Untuk menuju ke sana, orang harus naik kapal dari Pelabuhan Teluk Bayur.

Mentawai juga dikenal oleh para turis asing sebagai tempat yang eksotik, khususnya bagi penggemar olahraga surfing. Bagi para seniman, artis, seni tato mentawai tak asing di telinga.

Keberadaan suku bangsa Mentawai memang tak banyak dibahas, khususnya oleh peneliti Indonesia. Bahkan pernah disebut bahwa Mentawai adalah suku terasing. Benarkah demikian? Buku ini, ‘Bebetei Uma, Kebangkitan Orang Mentawai: Sebuah Etnografi’, merupakan laporan etnografi yang membahas secara luas dan mendalam tentang masyarakat Mentawai. Buku ini lebih menyerupai etnografi klasik. Bahkan ada yang mengatakan nuansa ‘romantisme’-nya begitu kental, seolah peristiwa yang dituliskan berlangsung pada masa lalu, bukan Mentawai sekarang.

buku 'Bebetei Uma, Kebangkitan Orang Mentawai', karya Bambang Rudito, diterbitkan Gading.

buku ‘Bebetei Uma, Kebangkitan Orang Mentawai’, karya Bambang Rudito, diterbitkan Gading.

Bambang Rudito mulai melakukan perjalanan ke Mentawai, khususnya Siberut sejak 1985. Dia kemudian memusatkan penelitiannya di Dusun Muntei, Kecamatan Siberut Selatan hingga 2004. Dia mengamati seluruh aspek kehidupan Orang Mentawai, sejak kelahiran, perkawinan, hingga kematian. Juga hubungan sosial di antara Orang-orang Mentawai yang tinggal di Siberut, cara mereka menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan, dan sebagainya.

Siberut adalah satu dari empat pulau berpenghuni dari 40 pulau di Kepulauan Mentawai. Pulau lainnya adalah Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Sipora. Dari keempat pulau, hanya di Siberut Orang Mentawai masih menjalankan tradisi mereka. Sementera di ketiga pulau berpenghuni lainnya, karena lebih terbuka dan berbaur dengan pendatang, maka tradisi nenek moyang pun mulai ditinggalkan.

Di masa lalu masyarakat Mentawai pernah dianggap sebagai suku terasing sehingga perlu diberi program pemukiman kembali oleh departemen sosial. Bahkan pada waktu itu, kepercayaan asli Mentawai seperti Arat Sabulungan dilarang, juga kebiasaan menato tubuh alias titi ikut-ikutan dilarang. Orang Mentawai kemudian ‘dijinakkan’ lewat kewajiban memeluk satu dari lima agama yang diakui negara (Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha). Pada saat itulah berdatangan kaum misionaris untuk meng-kristen-kan Orang Mentawai.

Pada saat yang sama, Kepulauan Mentawai yang masuk Kabupaten Mentawai dan Propinsi Sumatra Barat didominasi oleh kebudayaan Minangkabau. Kebudayaan Orang Mentawai mirip mengalami represi, termarjinalisasi, dan tak boleh terang-terangan mewujud. Baru setelah berlakunya otonomi daerah, Orang Mentawai bebas mengekspresikan kebudayaannya, termasuk dalam pengaturan wilayahnya. Pada saat inilah menurut Bambang Rudito, Bebetei Uma, dapat menjadi pranata sosial yang menyeluruh, sebuah hukum tertinggi yang dapat mengatur kehidupan Orang Mentawai dalam hubungannya dengan masyarakat, pemerintah, maupun negara.

Apakah Bebetei Uma itu? Sebuah nama upacara yang mulanya digelar oleh komunitas Mentawai, dan kemudian juga dilakukan oleh orang di luar Mentawai, untuk melancarkan segala keinginan dan aktivitas. Bebetei uma dapat berupa kegiatan pembersihan rumah komunal dari pengaruh roh jahat, dapat juga upacara peringatan ulang tahun rumah komunal, atau upacara mendirikan dan mengisi rumah komunal baru.

sumber: foto buklet 'Mentawai Tattoo Revival'

sumber: foto buklet ‘Mentawai Tattoo Revival’

Tak jarang bebetei uma digelar pada akhir rangkaian upacara seperti membuat sampan, mengangkat saudara, menyelesaikan perselisihan, atau perdamaian.

Pada saat bebetei uma digelar, berkumpullah keluarga luas. Ada yang tinggal di dalam desa yang sama, ada yang di luar desa tapi masih dalam satu pulau, bahkan ada yang di luar pulau. Ada keluarga yang sudah sukses, ada yang belum. Upacara kemudian menjadi ajang merekatkan kembali hubungan sosial antara anggota keluarga luas. Di sini dibahas permasalahan sosial yang muncul dan cara mengatasinya. Upacara juga dapat menjadi sarana memperbaiki rusaknya hubungan antara roh nenek moyang dengan keturunannya yang masih hidup, menciptakan hubungan yang harmonis antara dunia nyata dan spiritual. Belakangan, upacara dikembangkan untuk mempererat persahabatan antara Orang Mentawai dengan orang luar.

Jadi bebetei uma tak hanya mengukuhkan identitas diri Orang Mentawai, tapi juga ajang menangkal pengaruh luar yang merugikan kebudayaan Mentawai. Tak salah jika dikatakan bahwa Bebetei Uma merupakan bentuk kebangkitan Orang Mentawai.

Nilai Tradisional Orang Mentawai

Sebelum sampai ke kesimpulan di atas, buku ini banyak membahas nilai-nilai tradisional Orang Mentawai yang (mungkin) masih ada di Pulau Siberut. Ada tiga hal yang ingin saya angkat, yaitu tato atau titi, pengaruh dukun atau sikerey dalam kehidupan, serta makanan pokok orang Mentawai, khususnya nasi yang menggusur makanan tradisional seperti sagu, pisang, dan keladi.

1.Tato
Tato, rajah, atau titi awalnya digunakan oleh Orang Mentawai untuk membedakan kelompok pulagajat satu dengan lainnya. Pulagajat adalah sebuah area yang dihuni oleh orang-orang dari rumah komunal (uma) yang berbeda. Antara satu pulagajat dengan yang lain biasanya dibatasi beberapa hal, semisal hutan tempat berburu, area pekuburan yang sama, dan lainnya.

Ada empat jenis titi, yaitu Simatalu, Silaoinan, Sirereiket, dan Taileleo, yang dibagi berdasar pada motif gambar dan wilayah. Fungsi titi mirip kartu tanda penduduk bagi Orang Mentawai. Mereka yang memiliki titi tertentu, berhak untuk berburu di wilayah pulagajat tertentu. Jika seorang bertiti beda berburu di wilayah hutan yang bukan milik pulagajatnya maka dia akan dikenai denda.

Kini titi tak banyak lagi dilakukan. Paling hanya sikerey atau dukun yang merasa perlu menato tubuhnya. Hal ini berkaitan dengan larangan melakukan tato pada tahun 1950-an. Saat itu agama samawi mulai masuk untuk ‘menjinakkan’ Orang Mentawai yang dianggap ‘terasing’ dan ‘tak berbudaya’.

Titi atau tato merupakan salah satu seni peninggalan Orang Mentawai yang berharga. Tak sekedar hiasan, titi juga lambang status. Bahkan untuk menato tubuh diperlukan upacara tertentu agar tato yang dibuat memiliki makna. Dalam buku ini diuraikan secara lengkap alat dan bahan membuat tato tradisional Mentawai, masa pembuatan, jenis tato, upacara yang harus dilakukan, dan tatacara menato. Banyak seniman tato dunia merasa perlu belajar pada Orang Mentawai di Siberut ini untuk memperdalam ilmunya, jadi kenapa harus malu dengan seni tato asal Mentawai.

2.Sikerey
Sikerey atau dukun adalah penghubung antara alam nyata dan supranatural. Dia akan menyampaikan keinginan mereka yang hidup (dalam upacara) kepada penghuni supranatural atau sebaliknya. Karena itu sikerey harus memiliki kekuatan medis dan bersifat suci. Sikerey umumnya lelaki. Dia dapat melihat dunia roh, bercakap-cakap dan menguasai para roh, melindungi manusia dari gangguan roh jahat, serta dapat menyembuhkan orang sakit. Itu sebabnya dia dianggap berasal dari alam supranatural.

Dalam buku ini, Bambang Rudito memaparkan ihwal sikerey secara lengkap. Dari mitos munculnya sikerey, tugas seorang sikerey di masa lalu, bagaimana proses menjadi sikerey, hingga perannya di masa depan.

Sejak tato dilarang, hanya sikerey yang merasa perlu menato diri sebagai bukti identitas diri. Masuknya tenaga kesehatan modern seperti dokter dan bidan, maka wewenang dan tugas sikerey mungkin berkurang. Dia tak lagi mengobati orang sakit kecuali yang diperkirakan sakit akibat gangguan roh jahat, namun dia tetap berwenang memimpin upacara, termasuk upacara perkawinan, kelahiran, kematian, bahkan juga bebetei uma. Bebetei uma hanya dapat berlangsung jika dipimpin oleh satu atau beberapa sikerey. Bagi saya pribadi, sikerey itu profesi budaya yang seksi dan patut dipertahankan keberadaannya dalam tradisi.

3.Makanan pokok
Orang Mentawai yang tinggal di Dusun Muntei umumnya memakan sagu, keladi, dan pisang. Sebagian sagu dibuat sendiri, sebagian buatan pabrik yang dibeli di toko dan warung. Dalam upacara, sagu kerap disajikan bercampur parutan pisang jantan dan kelapa.

Daging hewan besar seperti babi dan ayam kerap disantap dalam upacara. Dalam kehidupan sehari-hari mereka makan ikan, kerang-kerangan dan ulat-ulatan sebagai sumber protein.

Yang menarik adalah penjelasan Bambang terkait politik berasisasi atau nasi. Walau kepulauan terpencil, Mentawai ternyata merasakan efek politik berasisasi juga. Meski, dalam kurun penelitian ini, Bambang menjelaskan pembukaan sawah di sebuah desa di Mentawai gagal. (Saya tidak tahu apakah sekarang sudah banyak sawah di Mentawai, khususnya di Siberut).

Nasi menjadi makanan bergensi di desa-desa yang berada di dekat ibukota kecamatan. Warga pun memakan nasi sekali seminggu. Mereka menganggap nasi membuat orang pintar. Ini yang membuat orang-orang Mentawai termotivasi memakan nasi (halaman 97).

Membaca bagian ini saya jadi teringat percakapan dengan kawan Basuki Rahmat dari Kehati semalam (8 Oktober 2013). Dia mengisahkan tentang sagu yang meraih sertifikasi organik dan laku dijual dalam pameran di Jerman. Nah, jadi mengapa memaksakan makan nasi jika sebelumnya tak ada dalam kultur mereka? Bukankah makanan lokal yang diwariskan nenek moyang secara turun-temurun terbukti membuat mereka mampu bertahan? Daripada makan beras impor, lebih pintar dan bijak makan sagu, keladi, atau pisang.

Oya, saya mesti berterimakasih kepada Pak Bambang Rudito atas buku karyanya ini. Saya pernah mencuplik bagian dalam buku ini, khususnya tentang hubungan antara kepercayaan arat sabulungan dan upaya menjaga kelestarian alam Mentawai, dalam buku ’30 Hari Keliling Sumatra’ di bagian ‘Gempa Mentawai dan Agama Dedaunan’.

Salam,