Tags

,


Saya berjumpa dengannya akhir tahun 2012 di Klaten, saat mengikuti meditasi vipassana di Klaten. Dia orang pertama yang menarik perhatian saya karena bajunya selalu berwarna senada. Blus panjang yogis warna ungu dengan celana panjang ungu misalnya, atau hijau keesokan harinya, lalu putih. Walau saling menyapa di awal perkenalan, saya baru benar-benar mengenalnya di hari ke-12. Maklum, kami harus tapa bisu 10 hari penuh dalam retreat itu.

Valentina Indrajati namanya, berasal dari kota hujan, dan biasa dipanggil Valent. Mbak Valent ini seorang healer, penyembuh. Lebih tepat dipanggil herbalis, karena keahliannya memang meramu obat-obatan dari tanaman herbal. Sebelum terjun di bidang kesehatan alternatif, Valent memiliki pengalaman unik dengan kesehatan tubuhnya. Dia pernah mengalami pengerutan ginjal yang berakibat pada gagal ginjal. “Dokter bahkan meminta saya menjalani transplantasi ginjal. Tapi Allah berkehendak lain,” aku penganut Katolik taat ini.
valentinaValent tak menyerah. Berkat kemauannya yang kuat untuk sembuh, kepasrahannya menjalani kehidupan, termasuk pencarian diri yang panjang lewat meditasi di beberapa negara, akhirnya dia sembuh. Kini meditasi menjadi bagian kehidupan sehari-hari bagi keluarganya, baik suami dan anaknya yang masih belasan tahun.

Penyakit, kata Valent, bukan untuk dimusuhi, tapi dirangkul, diterima dengan pasrah. Valent juga menyarankan untuk bekerjasama dengan kehidupan, bukan berusaha mengendalikan kehidupan. Sebuah makna yang dalam, ketika kita memiliki kesadaran akan kehidupan.

Secara iseng saya bertanya, “Bolehkah andai saya atau kawan saya hendak berobat kepadamu?”

“Silakan,” katanya. “Cukup kirim foto, nama lengkap, dan tanggal lahir lewat email jika kau tinggal jauh dari Bogor,” jawabnya. Alamat emailnya di parametta@gmail.com. Sedang jika rumah Anda dekat Bogor, dapat datang ke tempat prakteknya di Grand Harmony Boulevard 53-55, Nirwana Residence Bogor.

Seorang karib pernah berobat kepada Valent via email. Dia mengaku mendapat kiriman ramuan untuk 2 minggu. Dua kali menerima obat, dia berhenti karena merasa sudah sehat tubuhnya. Namun dia juga mengaku meminum herbal lainnya.

Ada yang ingin saya jelaskan terkait pengobatan alternatif seperti yang dilakukan Valent. Ada pasien yang cocok dengan pengobatan alternatif ala herbal, ada pasien yang tidak, tapi sembuh dengan pengobatan alternatif lainnya. Sebagai manusia yang sakit, kita hanya berusaha mencari kesembuhan.

Valent sendiri kerap menerima pasien yang sudah parah kondisinya, ketika pengobat medis sudah angkat tangan. Ada pasien yang telaten meminum ramuan herbal yang diberikannya dan kondisinya berangsur-angsur membaik. Ada yang baru 2-3 kali minum ramuan sudah angkat tangan. Herbal ramuannya tidak dapat dibilang murah ala jamu di pasar malam, tapi juga tak semahal perawatan di rumah sakit. Sehat memang mahal. Sayangnya, nilai mahalnya baru disadari saat sakit.

*Tulisan ini semula saya publikasikan di fesbuk, namun karena banyak yang meminta alamat pengobatan alternatif dalam postingan https://othervisions.wordpress.com/2011/07/12/nikmatnya-berobat-ke-penang/ maka saya tulis kembali di blog ini.