Tags

,


“Jadi ibu di sini waktu kekerasan itu terjadi?” tanyaku takjub. Aku duduk di kedai makan tepi jalan, tepat di depan rumah sederhana. Menunggu nasi kuning campur dan kopi. Perempuan tua itu melayaniku, menggantikan menantunya yang masuk ke dalam rumah, mengurus anaknya yang rewel.

Baru semalam aku benar-benar merasakan Tobelo. Usai perjalananku sambang Morotai dan Galela. Sebelumnya aku hanya numpang lewat, mirip buang kentut. Kedai makan tempatku sarapan ini hanya berupa sebuah gerobak, bangku dan meja panjang yang melekat ke dinding toko di sebelahnya. Di depan kami membentang jalan raya. Masih sepi. Hari belum menunjukkan pukul enam. Dan aku sudah berkeliaran di tengah kota gara-gara kelaparan. Ada juga satu dua orang berjalan menuju pasar. Lalu satu dua bentor lewat mencari penumpang.

pelabuhan tobelo di siang terik

pelabuhan tobelo di siang terik

Hebat juga kota ini. Walau matahari baru terbit, kulihat beberapa kedai dan toko kelontong sudah membuka diri. Pemiliknya sibuk berbenah, menyapu emperan toko, membuka pintu dan jendela, siap berjualan. Jadi tak hanya kedai makan pinggir jalan saja yang buka.

Ibu itu mengangsurkan piring dan segelas kecil kopi ke arahku. Juga gelas kosong dan askan berisi air putih.

“Saya dan keluarga coba bertahan, tapi susah. Di mana-mana api. Orang ribut. Bangunan hancur. Akhirnya kami mengungsi.”

“Kau muslim?” tanyanya, kusambut dengan anggukan. “Saya juga,” imbuhnya.

Jadi muslim saat kerusuhan itu tentulah susah, pikirku. Kota ini dipenuhi warga kristiani, yang sedang berperang dengan warga muslim yang tinggal di sekitarnya. Mereka sedang kalap, saling menyerang, membunuh, melukai, menghancurkan. Tak peduli sebelumnya mereka sepasang sahabat, atau bahkan masih kerabat. Semua terjadi konon karena hasutan.

“Setiap hari saya dengar teriakan, tembakan. Mengerikan.”

Tapi sekarang kota ini semarak. Tak terlihat sisa-sisa kerusuhan lebih sepuluh tahun itu. Nyaman pula. Di mana-mana kulihat pertokoan, hotel, penginapan, dan aneka usaha rumahan. Perniagaan berkembang pesat. Beda dengan Galela yang baru kutinggalkan. Di sana masih kutemukan pemandangan bekas masjid dan gereja yang telah dirusak, juga puing-puing tonggak rumah penduduk, bukti kerusuhan di masa lalu. Kukemukakan pendapatku kepada ibu tadi.

“Iya, sekarang Tobelo lebih maju dari dulu. Banyak orang Tidore dan Halmahera datang ke kota ini untuk berbelanja. Katanya harga barang-barang di sini lebih murah ketimbang di Ternate.” Suaranya datar saja, perlahan. Tak terbit bangga atau sukacita. Sehebat apapun kota ini, pikirku, dia tetaplah penjual nasi kuning di tepi jalan.

Ingin kutanyakan apakah ada keluarganya yang menjadi korban kerusuhan, namun lidahku keluh. Memandang roman mukanya yang berubah sayu saat bercakap tadi, kurasa dia menyimpan kenangan menyakitkan itu dalam ingatannya.

“Berapa?” tanyaku, begitu piringku kosong. Dia menyebutkan suatu angka yang sangat murah menurut ukuran makanan di kota kepulauan ini. Lima ribu rupiah. Sudah termasuk kopi. Kuangsurkan uang. Setelah menanyakan arah pasar, aku segera berlalu.

Sejak pertama menginjakkan kaki di kota ini, aku sudah suka. Ramai, meriah, semarak, penuh geliat kehidupan. Begitu mungkin kehidupan pesisir di masa lalu. Pesisir tanah jaoh, sebelum menjadi kosmopolitan menjulang mirip Surabaya atau Semarang.

Dermaga di kota ini lumayan besar, dan selalu ramai orang lalu-lalang. Kuli-kuli angkut, calon penumpang, baik yang hendak ke pulau kecil mirip Morotai atau ke luar seperti Manado. Di sekitar pelabuhan berderet penginapan murah ala kadarnya yang dipenuhi perempuan bergincu tebal kala senja tiba. Bukan penduduk asli sini, katanya. Bisa saja mereka dari pulau-pulau besar seperti Jawa atau Sulawesi.

Aku suka pasarnya. Kehidupan tergambar nyata di sana sejak Subuh tiba. Pedagang tumpah ruah memenuhi loji di dalam pasar hingga meluber ke tepi jalan, di depan dan gang belakang pasar. Sebagian penjual adalah penduduk desa sekitar yang membawa sesayur hijau dan bebuah. Sebagian loji kelontong dan ikan dikelola oleh keturunan Tionghoa dan Minang. Ada juga pedagang asal Bugis dan Buton. Mereka menjajakan barang yang tak biasa. Pisau, parang, pedang, dan aneka perkakas.

Ini mirip kota suarga, pikirku. Penduduknya ramah. Dimana-mana menabur senyum. Kuingat hotel tempatku menginap semalam. Juliana namanya. Amat bersih, nyaman, dengan pelayan yang sangat ramah dan profesional. Harganya ternyata paling murah di seluruh Maluku Utara kepulauan untuk hotel sebagus itu. Tujuh puluh ribu rupiah. Bahkan losmen murah yang sekadarnya di kepulauan ini bisa seratus ribu rupiah lebih.

Sesekali kupandang bentor, atau ojek yang lalu lalang. Di kota ini sungguh luar biasa jika berkaitan dengan transportasi. Mereka mudah didapatkan, dan tak suka menikung harga. Meski engkau pendatang atau turis, harga yang mereka berikan tetaplah sama. Tak suka melebihkan. Jadi aku tak takut ditipu berkeliaran di tanah ini.

Kalau Ternate mirip pulau yang sibuk, padat, dan mirip kelebihan beban karena banyaknya penghuni, Tobelo justru sebaliknya. Di sini semua orang sibuk bekerja, mencari uang dan membangun peradaban. Sejak matahari terbit hingga jauh malam, kota ini nyaris tak pernah mati. Selalu ada kegiatan di pojok-pojok tertentu. Selalu ada orang di sudut yang lain.

Kota ini penuh pendatang. Mirip Ternate. Mereka menggeliat, mengisi kekosongan, memenuhi kehidupan, seolah ada yang dikejar. Dulu ini kota kecamatan, kini menjelma menjadi kota kabupaten.Kehidupan yang sempat dimatikan paksa paska kerusuhan, kini dihidupkan lagi dengan kecepatan berlipat. Mengejar waktu-waktu yang hilang karena kebekuan masa lalu.

Kuingat percakapan yang kubuat dengan ibu penjual es kelapa sore kemarin. “Saya ini orang Jawa, tapi sudah puluhan tahun di sini.”

“Wah, berarti saat kerusuhan ibu juga di sini, dong,” kataku memancing percakapan.

“Sempat ngungsi sebentar, tapi balik lagi. Bagaimanapun juga rejeki saya di sini. Setelah kerusuhan saya sempat jualan baju ke desa-desa karena penduduk pulau takut ke kota. Mereka bergantung kepada penjual macam saya untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

Pasca kerusuhan Desember 1999 hingga 2001 itu, Tobelo sempat menjadi kota mati karena ditinggal penghuninya. Banyak warga muslim yang tak kembali dan memilih tinggal di pulau lain. Begitu rekonsiliasi dan perdamaian diserukan, kota ini dibanjiri pendatang. Mereka menghidupkan kembali perekonomian kota, bahkan membuatnya lebih maju dari sebelumnya. Dulu ibukota kecamatan ini diramalkan bakal menjadi pintu masuk Pasifik. Ramalan ini nampaknya tak salah. Paska pemekaran, Tobelo adalah ibukota Kabupaten Halmahera Utara yang laju menata diri.

Kadang dalam pikirku muncul tanda tanya. Apa benar kerusuhan masa lalu itu murni karena agama. Dalam perjalanan ke Morotai, Galela, atau sepanjang Jailolo, kerap kutemui puing-puing bangunan rumah penduduk maupun rumah ibadah. Terbiar begitu saja, seolah sengaja menumbu yang melihatnya. Tak ada yang hendak menatanya kembali. Namun di Tobelo, susah kujumpai onggokan itu. Bersih. Tandas. Seolah peristiwa masa lalu itu tak pernah ada, kecuali di hati dan ingatan orang-orang yang menyaksikannya.

“Sejak dulu kami hidup rukun antar agama. Bahkan saudara kami ada yang muslim ada yang kristian. Itu pasti ulah orang luar yang membuat provokasi sehingga terjadi perang antar agama,” tegas kawanku di Galela. Pandangannya diperkuat oleh kawan-kawan lain di Morotai, Jailolo maupun Tobelo. Apa benar ulah orang luar?

Pendapat pun simpang siur. Ada yang bilang ini berhubungan dengan peristiwa perebutan tambang emas di Kao-Malifut, ada yang ngomong karena masalah suku, ada lagi yang urun rembug berkaitan dengan masalah ekonomi.

Aku tak hendak menghakimi. Menjelajah jalan kota yang lebar dan tenang pagi ini, membuatku jatuh merenung. Apa benar ini pernah menjadi kota neraka itu?

Untuk penuhi ingin tahuku, kulahap semua buku yang membahas kerusuhan Maluku. Dari Damai Yang Terkoyak hingga analisa si Gerry Van Klinken. Menarik mengulang pemikiran si Van Klinken. Apa yang terjadi di Maluku Utara, menurutnya sebuah bentuk polarisasi akibat runtuhnya kekuatan Suharto. Partai yang biasa berkuasa di daerah lalu mencoba tak jatuh pamor, merebut kembali pesonanya lewat cara-cara tak wajar.

Maka dari sekedar persaingan politik dihembuskah isu persaingan etnis, hingga melebar ke isu agama. Mengapa? Agar gaungnya lebih luas, perhatian dan simpati publik lebih melebar, hingga yang akhirnya konflik pun meluas dan nampak rancu.

Aku geleng-gelengkan kepala. Kenapa bangsaku, orang-orang ini, begitu mudah diadu domba? Apakah akar konflik memang sudah tertanam sejak jaman persaingan Ternate-Tidore dulu? Sejak Spanyol lalu Portugis mengompori kedua kerajaan demi merebut monopoli rempah-rempah? Entahlah.

Sungguh menarik apa yang ditulis oleh Rivai Umar dalam ‘Damai yang Terkoyak’. Bahwa kesenjangan ekonomi bisa membuat orang rasis, bahwa kecenburuan sosial membuat manusia gelap mata. Maka diciptakanlah identitas baru: kesukuan, agama, lalu berperanglah di antara mereka. Ketika yang merasa ‘tertindas’, kalah, tak menemukan cara untuk mendapatkan keadilan, maka rusuhlah dia, membuat keributan, onar.

Di negeriku ini, jurang antara miskin dan kaya semakin melebar. Jurang kemajuan pembangunan antara pusat dan daerah begitu menganga. Maka semakin banyak masalah sosial yang terjadi. Kekerdilan pikir dan jiwa pemimpin kami, kepongahan dan serakah kejar kemakmuran pribadi, membuat mereka kalap. Juga kalap rakyat. Sedikit kipas-kipas tentang ras, etnis, agama, bisa membakar amarah dan kebencian. Amuk massa setiap saat bisa meletup. Di mana saja. Kapan saja. Kearifan semakin menipis. Kehancuran di hadapan mata.

Ketika kutinggalkan Tobelo sore itu, saat oto yang kutumpangi bergerak menuju Jailolo, kuharap penduduk kota ini sudah belajar sesuatu. Betapa pahitnya amuk atas beda agama di masa lalu. Semoga mereka dapat menghidupkan Tobelo baru yang lebih manusiawi, agar tak tersia ribuan jiwa yang dulu mati.

Tobelo, Juni 2010