Tags

, ,


Dulu, ketika tinggal di Surabaya, saya tak begitu rewel terhadap kawan-kawan couchsurfing (CS) yang menginap. Saya tinggal di rumah ibu yang rajin memasak. Setiap hari dengan senang hati ibu akan menyediakan makanan buat kawan CS, entah nasi goreng, atau sayur berlauk tahu tempe. Istilah mereka makanan rumahan. Entah karena referensi dari kawan-kawan CS ini, atau karena saya kini tinggal di Bali, nyaris setiap hari saya mendapat email berisi permohonan kawan-kawan CS untuk menginap.

Kiara di kebun sayur

Kiara di kebun sayur

Isi email ini bermacam-macam, mulai permohonan menginap gratis selama beberapa hari sambil merasakan makanan rumahan, hingga permintaan diantar keliling Bali. Hahaha.. jadi saya mirip pemandu wisata, tukang ojek, rumah tumpangan, dan apalah namanya. Hanya serba gratis. Saya tak keberatan jika tinggal di rumah sendiri, memiliki mobil-motor lengkap, sekaligus sedang liburan saat diminta mengantar jalan-jalan. Masalahnya saya tinggal di rumah kawan, sedang menyusun buku sambil berkebun, dan tak ada ibu yang dengan senang hati memasakkan makanan.

Profil CS pun saya ubah, dengan menyebut hanya menerima anggota CS yang bersedia menjadi voluntir, bekerja di kebun 3 jam sehari atau membantu pekerjaan lainnya. Untuk itu saya sediakan kamar, dapur yang dapat mereka gunakan memasak, membuat jus, serta bebas membuat minuman ringan seperti kopi, teh. Tentu saja ini semua setelah saya meminta ijin kepada kawan si empunya rumah.

Beberapa minggu lalu saya menerima 2 perempuan anggota couchsurfing (CS) dari Italia. Mereka bilang berminat untuk membantu membereskan kebun, membuat sabun lerak, dan lainnya di tempat tinggal saya sekarang, Desa Munduk. Mereka menyetujui syarat yang saya berikan, tiga jam bekerja di kebun setiap hari. Pelaksanaannya tergantung kepada mereka, boleh pagi atau petang hari.

Ioli dan Kiara berumur 24-an tahun. Muda, garang, prototipe aktivis lingkungan dan kaum feminis. Baru pertama kali ini mereka menginjak Asia, terbang ke Indonesia lewat Singapura, Batam, dan selama lebih 2 minggu mereka menjelajah Jawa Timur (Surabaya, Malang, Bromo, Ijen, Sukamade). Sebelum bertemu saya, mereka sempat tandang ke Pulau Menjangan dan Pemuteran.

“Di Pulau Menjangan, kami menginap di sebuah resort. Fasilitas dan harganya serupa hotel bintang empat. Tapi kami mendapat diskon separo harga, karena kawan couchsurfing kami bekerja di sana,” kata Ioli. Diskon separo harga itu senilai Rp750.000 semalam. Sangat berkesan.

Mungkin karena baru menginjak Asia Tenggara, maka kerangka berpikir mereka pun ke-Eropa-eropaan. Misalnya mereka menganggap Eropa dihuni negara-negara yang sangat maju dan kaya, sedang Indonesia begitu miskin. Anggapan miskin ini yang membuat mereka selalu mencari harga murah meriah ke mana pun berada dan protes jika diminta membayar lebih.

Apalagi sebelumnya sudah saya wanti-wanti mereka, juga kawan-kawan orang asing yang hendak datang ke Bali, bahwa di pulau dewata ini lekat berlaku harga lokal dan harga turis (bule). Entah saat naik transportasi umum, membeli makan di warung, atau berbelanja ke pasar. Harga turis umumnya 2-3 kali lipat harga lokal. Beberapa kawan asing menanggapinya dengan penuh pengertian. Sejauh harga turis masih masuk akal, mereka tak terlalu memikirkannya. Beberapa menyiasatinya dengan menawar atau berbelanja di tempat-tempat yang pasti harganya, misalnya supermarket.

Dua kawan Italia ini lebih suka ‘ngeyel’, memaksakan kehendak mereka untuk mendapatkan harga lokal. Dari Pemuteran menuju Seririt, Ioli dan Kiara hanya mau membayar bemo Rp10.000 per orang, yang berarti dua kali harga lokal. Dari Seririt menuju Munduk, mereka naik ojek dengan ongkos Rp25.000 per orang. Mereka mendapat harga lokal. Di Munduk, ketika saya antar berbelanja sayur dan buah ke pasar, mereka juga mendapat harga lokal. Namun ketika saya tinggalkan -karena mereka berbelanja terlalu lama dan berbelit-belit- mereka kena tarif turis.

Ketika hendak menyewa motor, mereka menikmati adu argumentasi dengan si pemilik rental, sehingga mendapatkan harga sewa Rp40.000 sehari. Meski, mereka tidak memiliki SIM. Apa kata mereka ketika saya peringatkan untuk berhati-hati? “Kalau ditangkap polisi, akan kami keluarkan duit dari dompet.” Saya tertawa. Sebegitu buruk imej polisi di mata mereka. Padahal, kantor polisi-lah yang bakal menjadi ampiran pertama mereka kalau tak ada yang mau memberi mereka tumpangan di jalan.

Ada kalanya, saat saya peringatkan agar hati-hati dan menghormati tradisi setempat, mereka bilang, “Kau tahu kenapa si penyewa motor itu menanyaimu SIM saat hendak menyewa tapi tidak kepada kami, para bule? Itu karena mereka takut kau akan membawa kabur motor mereka. Sementara kami, para bule, pasti akan mengembalikan motor mereka.” Itu jawaban mereka. Seolah penduduk lokal semua berbakat jadi maling.

“Apa yang terjadi jika kau, para bule, kena kecelakaan di jalan?” tanya saya. Kebetulan saya baru membaca tentang kecelakaan yang menimpa seorang bule di Klungkung.

“Jangan khawatir, kami punya asuransi kesehatan,” kata Ioli. Sejak saat itu saya tak peduli apakah mereka mau bermotor seharian, tertimpa masalah atau tidak. Saya juga enggan menjelaskan aturan umum Bali. Pernah saya menjelaskan tentang sikap duduk di muka umum, khususnya di depan orang yang dihormati, tapi malah didebat. Rasanya percuma saja bicara dengan mereka, karena mereka selalu merasa lebih tahu dan lebih ahli. Kan mereka dari Italia, negara Eropa yang maju?

Untungnya mereka masih membantu di kebun. Berdua mereka membantu saya di kebun pagi dan sore. Umumnya mulai pukul 06.30 hingga 08.30 pagi, dan pukul 17.00-19.00. Namun di malam ketiga dan keempat mereka hanya berkebun satu jam di pagi hari. Mereka sibuk menjelajah Munduk, Bedugul, ke Seririt dengan motor. Mereka juga sibuk protes ini itu. Mulai mahalnya makanan yang mereka beli di sebuah toko, kebun yang buruk sistem pengairannya, dan bertanya soal fairtrade. Mereka begitu percaya bahwa fair trade amat membantu negara seperti Indonesia. Mereka juga hendak meneliti pekerja anak di Indonesia, dan aneka program lainnya.

Pada saat itulah saya menyela mereka. Saya bilang jika hendak meneliti soal pelaksanaan fairtrade di Indonesia atau masalah pekerja anak, mereka harus dapat berbahasa lokal. Jangan cuma bermodal membaca berita di internet atau menanyakan kepada kawan CS sambil lalu. Itu jelas bukan sikap seorang peneliti sejati, tapi sikap si aktivis sok tahu yang arogan.

Rumah kawan saya memang nyaman. Jauh lebih nyaman ketimbang kediaman ibu di Surabaya. Pemandangan di halaman rumah sangat indah. Kebun cengkeh, pala, aneka sayur dan bebungaan mirip anggrek menghias halaman. Belum lagi hawa sejuk munduk, lalu perangkat seperti free wifi. Tinggal di rumah kawan seolah di hotel bintang 3. Kalau malas memasak, dapat langsung pesan makanan via Donbiyu Restaurant. Hal ini sangat disadari dua kawan CS tadi. Mereka benar-benar memanfaatkan rumah untuk istirahat, mencuci baju, membuat aneka jus, dan onlen berjam-jam.

Empat malam di Munduk, Ioli dan Kiara merasa harus turun ke Lovina untuk melihat lumba-lumba, lalu hendak menyeberang ke Lombok dan Flores. Mereka sibuk menghubungi kawan-kawan CS di tempat yang hendak mereka kunjungi. Ada kesan mereka benar-benar memanfaatkan kawan CS sebagai tempat tumpangan gratis. Saya prihatin.

Ketika dijamu kawan CS di Penang dan Kuala Lumpur pun, saya tak mau semata menerima, tapi juga berbuat sesuatu untuk mereka. Sungguh kontras karakter yang saya saksikan. Mungkin kawan CS Indonesia memang suka memanjakan dan menjamu para bule. Tapi saya bukan salah satunya. Usai melepas kedua CS Italia tadi, segera saya perbaiki profil CS saya. Biar tak kebanjiran permintaan numpang gratisan. Saya tekankan volunteering minimal buat masa seminggu. Biar mereka tahu, saya juga punya harga diri dan otak, sekaligus mampu melemparkan bakiak ke kepala mereka.