Tags

, , , ,

Tulisan ini saya buat jelang pelatihan etnografi yang diselenggarakan di perpustakaan c2o, Jalan Dr Cipto 20 Surabaya, pada Jumat 8 November 2013, pukul 15.00-17.00.

Menyebut etnografi umumnya pikiran awam akan menuju kehidupan suku terasing mirip Mentawai, Kubu, Dani dan sebagainya -meski kehidupan mereka kini tak lagi terkucil dan terbelakang- di pelosok. Etnografi klasik memang ditujukan buat meneliti kehidupan suku-suku terasing, atau kebudayaan masyarakat tertentu. Namun, ilmu yang menjadi bagian antropologi ini kini berkembang luas, menembus sekat-sekat bidang ilmu yang lain semisal sosial, ekonomi, perbankan, periklanan, pertanian, bahkan juga perang.

doktor snouck hurgronje yang mematikan

doktor snouck hurgronje yang mematikan

Menengok ke belakang, siapa yang tak kenal Doktor Snouck Hurgronje, tokoh penting di belakang kemenangan Belanda dalam Perang Aceh (1873-1903)? Snouck belajar teologi semasa muda. Ketertarikannya kepada Islam menuntunnya tinggal di Mekah dengan nama samaran Abdul Gaffar untuk belajar seluk-beluk Islam. Kelak, pengetahuannya tentang Islam dan kedekatannya dengan jemaah haji asal Aceh di Mekah ini dimanfaatkan pemerintah Belanda untuk membungkam perjuangan rakyat Aceh.

Snouck lalu dipanggil untuk menjadi ahli siasat Gubernur Militer Aceh Van Hetusz. Dia mempelajari seluk beluk Tanah Gayo, mulai adat-istiadat dan perilaku penduduknya, bahasa, dan keterikatan mereka dengan Islam. Dari pengetahuannya ini dia mencari celah, sisi lemah pejuang Aceh di Gayo sebelum pasukan Belanda menyerbu dan menguasai Aceh. Lewat etnografi, kebiasaan lawan dipelajari, kelemahan lawan dimanfaatkan untuk memenangkan pertempuran. Itu pelajaran dari Snouck Hurgronje.

david thompsonSnouck hanya contoh kecil etnografer yang berhasil. Ada lagi pendulunya, David Thompson (1770-1857). Lelaki berdarah Inggris-Kanada ini dikenal sebagai penjual bulu binatang yang berhasil. Dia mendistribusikan bulu-bulu binatang yang dibelinya dari suku-suku Indian sepanjang pedalaman Amerika Utara hingga menyusuri Kanada. Tak hanya itu, dia juga melakukan survei bagi perusahaanya sambil memetakan Amerika utara seluas lebih 3,9 km per segi memanjang hingga masuk ke Kanada. Layak kalau dia digelari sebagai bapak pemetaan terbesar sepanjang sejarah.

Kegemarannya memetakan dengan alat sederhana dan kepiawaiannya membaca arah bintang, membuat orang-orang Indian menjulukinya sebagai Koo Koo Sint atau si pemandang bintang. Kemampuan Thompson menjalin persahabatan dengan suku-suku Indian di wilayah yang dilaluinya, termasuk menguasai bahasa dan ketrampilan mereka inilah, yang membuatnya mampu bertahan dalam badai es utara, musim dingin berkepanjangan, bahkan menyelamatkan nyawanya. Itu pula yang membuatnya berhasil sebagai pedagang bulu binatang maupun pekerjaannya sebagai tukang survei. Walau orang lebih mengenalnya sebagai tukang peta, sesungguhnya dia juga etnografer, karena menerapkan metode dan ilmu ini secara ‘tidak sadar’ dalam pekerjaannya.

Beberapa kawan berkisah bagaimana pengusaha nasional Tommy Winata mampu mengibarkan sayapnya di wilayah properti dengan gemilang. “Anak buahnya melakukan pendekatan yang manis sekali dengan penduduk yang tanahnya hendak dibeli,” kata seorang kawan. Kawan lain bertutur, “Begitu usai membidik sasaran, dia akan mengerahkan anak buahnya untuk mengetahui perilaku masyarakat yang tanahnya hendak dia beli.” Dengan si bos Artha Graha ini, akan memperkecil konflik yang muncul, membuat obyek sasarannya menyerahkan tanah mereka dengan sukarela. Secara tidak langsung, dia atau anak buahnya juga seorang etnografer.

Apa yang dilakukan TW dan anak buahnya mirip yang dilakukan si kuisioner ini. Suatu hari adik saya yang maniak pemakai HP merk ‘SamS**ng’ ini diminta menjadi responden sebuah lembaga survei. Si penyurvei merasa perlu mengikuti polah adik saya selama sehari penuh. Semua diamatinya, mulai adik saya mulai menekan tuts-tuts HP untuk menelepon atau mengirim SMS, fitur apa yang paling sering digunakannya, bagaimana dia memperlakukan HP-nya, dan sebagainya.

Selidik penuh penasaran, ternyata lembaga survei tempatnya bekerja sedang  disewa oleh pemilik merk HP S untuk mengetahui pola dan kecenderungan pelanggannya, karena mereka hendak meluncurkan HP model terbaru. Kelak HP model terbaru ini segera meledak di pasaran. Lagi-lagi metode etnografi -walau hanya mikro- diterapkan di sini, untuk mengetahui keinginan konsumen dan menjual produk baru.  .

Terakhir, bukan bermaksud promo, saya ingat buku pertama saya, ‘TKI di Malaysia, Orang Indonesia yang Bukan Indonesia’ saya tulis menggunakan sedikit metode etnografi. Saya wawancarai para TKI ilegal secara tidak langsung, hidup dengan mereka selama beberapa bulan, untuk memahami pola pikir mereka, apa yang mereka mau, apa yang mendorong mereka menjadi TKI, sehingga memiliki budaya ‘khas’ di negeri jiran. Tujuan saya menulis, andai ada yang peduli dengan nasib mereka, memecah satu demi satu rantai permasalahan mereka, maka tak lagi banyak TKI ilegal menyerbu Malaysia.

Kisah-kisah di atas adalah beberapa penerapan metode etnografi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika Anda tertarik belajar etnografi, baik tentang metode maupun penulisannya, sila datang ke C2O, Jumat 8 November. Anda akan dibimbing langsung oleh pakar etnografi, Bapak Dr Bambang Rudito, yang juga penulit buku Etnografi Orang Mentawai. Percayalah, etnografi bukan semata milik orang antropologi, tapi semua orang dapat mempelajari dan menerapkannya.

Salam,

Advertisements