Tags

, ,

Ada dua penyakit yang rajin mengunjungi saya, melebihi batuk, pilek, atau diare. Dialah kanker dan sakit gigi. Setelah serangan kanker mereda, ganti gigi yang menjadi sasaran berikutnya. Selalu begitu.

Kebetulan, saya memang terlahir dalam keluarga yang tak begitu memperhatikan kesehatan gigi. Ketika masuk SMP, ada dua tambalan serius di gigi saya, dan sebuah gigi depan tinggal separo.

sumber gambar: xhansx.blogspot.com

sumber gambar: xhansx.blogspot.com

Masuk universitas, sebuah geraham bawah terpaksa dicabut -waktu itu saya belum tahu kalau geraham tersebut sebetulnya dapat dipertahankan- jadi mirip ompong dini. Ketika bekerja, malu diolok kawan, saya pergi ke dokter gigi. Dia mencabut gigi bugis saya walau saya tak mengalami sakit gigi. Dokternya panen, mengenakan tarif sangat mahal. Saya menyesal melakukannya, karena sebetulnya gigi dapat disambung dengan teknologi ‘lem’. Sejak saat itu saya malas ke dokter gigi, takut dikerjain lagi.

Ketika tinggal di Malaysia, gigi geraham atas dicabut karena pecah dan nyerinya luar biasa. Gigi ini kerap membuat saya migren kalau sakit. Kali ini saya tidak menyesal, karena memang tak ada cara lain untuk menyelamatkannya. Walau usai dicabut darah masih mengucur keesokan harinya. Uniknya saya menolak obat penghilang rasa sakit yang diberikan. Saya masih tahan rasa sakitnya, kebetulan juga baru operasi kanker yang keempat kali. Dibanding sakitnya kanker, sakit gigi tak sampai secuilnya.

Sepulang dari Malaysia, ganti geraham depan kiri bawah berlubang yang berakhir dengan perawatan saluran akar. Sekarang malah keropos dan tinggal sisa-sisa akarnya. Yang luput dari perhatian saya malah taring di atasnya. Ada lubang di dekat bagian dalam, dan kerap infeksi.

Saya ingat Februari lalu tiba-tiba gigi taring bagian atas sakit setelah saya buat mengunyah. Sakitnya tak biasa hingga menjalar ke pipi, bahkan mata. Saya coba bermeditasi meredakan rasa sakitnya. Tapi hanya sedikit berkurang. Akhirnya saya minum amoksilin, dan langsung mereda. Begitulah selama beberapa hari saya minum amoksilin setiap terasa sakit. Usai tiga hari saya berhenti minum antibiotik. Saya memang tak suka memakan obat kimia jika tak terpaksa.

Awal Agustus kembali saya merasa gigi bagian tasa sakit. Tak seberapa sih sakitnya. Hanya dua kali minum amoksilin pun sakit mereda. Nah, ketika melakukan retreat meditasi di Singaraja, Bali, baru saya rasakan ada yang aneh dengan pipi kiri saya. Ketika saya raba batas antara tulang hidung dan pipi, ada benjolan seukuran kacang yang jika ditekan akan menimbulkan sakit hingga ke gigi atas yang sakit tersebut. Saya jadi curiga.

Seminggu setelah meditasi, saya konsultasikan hal tersebut dengan dokter gigi kawan saya via SMS. Dia menyarankan agar saya mengonsumsi sejenis antibiotik dan catafalm. Di desa tempat saya tinggal, mustahil dapat menemukan antibiotik tersebut. Juga di kota kecamatan. Akhirnya saya hanya meminum amoksilin 2x sehari selama 5 hari. Ajaib rasa sakit berhenti. Namun sebulan kemudian rasa sakit kembali menyerang saat saya alpa menggunakan gigi tersebut untuk mengunyah. Lagi-lagi saya berburu amoksilin, namun hanya menemukan amphicilin saudaranya.

Saya ingat pesan kawan saya, “Begitu rasa sakit gigimu mereda, cepat pergi ke dokter gigi pertama. Minta agar gigimu dicabut.” Dokter itu, Lingga V, juga yang menyarankan saya untuk melakukan perawatan saluran akar ketimbang mencabut gigi jika gigi masih dapat dipertahankan. Jadi, saya simpulkan, tentulah sakit gigi saya sudah dalam stadium gawat.

Ketika pulkam ke Surabaya, saya temui kawan tadi di tempat praktek sekaligus rumahnya di Deltasari. Saya ingin berobat sekaligus ingin tahu masalah gigi saya. Sekali lihat, dia bilang, ‘Bengkaknya sudah parah. Bernanah di dalam pula. Pasti sakit ya.” Saya menggeleng, memang tak begitu terasa sakit. Lalu dia membuat semacam terowongan dalam gigi dengan tujuan memberi jalan kepada nanah untuk keluar. Saya diminta minum antibiotik sejenis limcomicyn 3×1 sehari selama 3 hari.

Tiga hari kemudian saya datang. Bengkak tak jua membaik. Nanah juga tak keluar. Tapi hari itu gigi harus dicabut. Setelah dua kali suntikan –percayalah, suntikannya sakit, dan mesti suntik lagi karena masih ada bagian yang sakit saat dicabut- gigi taring pun dicabut. Tak sampai setengah jam prosesnya, dan tak sakit. Rupanya gigi saya panjaaang, lebih 1,5 cm. Akarnya dekat dengan tulang gigi. Pantas, ketika infeksi sampai menjalar ke tulang pipi.

“Kamu Ini orangnya kecil tapi giginya panjang,” begitu komentar kawan saya.

Saya mengantongi dua resep, limcomicyn 500 gr yang mesti dikonsumsi 3×1 selama 5 hari, dan danalgin yang hanya dikonsumsi jika gigi terasa sakit. Keluar dari tempat prakteknya, baru saya rasakan nyut-nyutan efek menggigit kapas yang tak boleh dilepas selama 2 jam. Sampai di rumah, pipi saya kompres dengan es. Saya juga tak minum yang panas-panas dulu. Hanya air dingin atau air biasa. Saya juga tak kumur-kumur atau mencecap gusi. Hasilnya, darah tak keluar lagi. Rasa nyut-nyutan segera hilang setelah minum ponstan (saya tak menemukan apotek yang menjual danalgin malam itu). Saya pun tidur. Keesokan harinya saya bangun tanpa rasa nyut-nyutan. Kebiasaan tak suka minum obat membuat badan saya cepat bereaksi dengan obat selemah apapun. Ini menguntungkan. Saya tak kebal obat kimia.

Hingga kini, rasa njarem akibat disuntik dan dicabut masih saya rasakan. Saya banyak makan buah dengan kandungan vitamin C tinggi atau minum vitamin C dosis tinggi untuk mengurangi sariawan di mulut. Sudah jadi kebiasaan, setelah dibius atau disuntik patirasa, pasti mulut penuh sariawan.

Nasihat saya, jangan sepelekan gigi berlubang, walau sekecil apapun. Cepat dan rajin kontrollah ke dokter gigi. Kalau infeksi, segera diobati. Jangan seperti saya yang bertahan dengan infeksi selama 8 bulan. Kronis. Untung infeksi gigi saya tidak menjelma menjadi kanker pada gusi. Pengalaman lalu, infeksi karena operasi kecil di kulit perut yang saya biarkan lebih setahun akhirnya menjadi kanker kulit. Mengerikan bukan?

Baca juga:

sakit gigi? jangan dicabut!

sakit gigi karena gigi berlubang

Si pemasang gigi palsu

Advertisements